Apa yang Dipilih di Dunia, Akan Dihadapi di Akhirat
Oleh Masykur Sarmian, Alumni PesantrenAr-Roudhotul llmiyah, Kertosono, Nganjuk, Jatim
Dewandakwahjatim com, Samarinda —
فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ
“Maka kalian akan memenuhi perut kalian dengannya.”
—QS. Al-Wāqi’ah : 53
Penjelasan Tematik
Setelah Allah menyebut bahwa orang-orang yang sesat dan mendustakan akan memakan dari pohon zaqqum, ayat ini melanjutkan dengan gambaran yang lebih kuat : فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ, “maka kalian akan memenuhi perut kalian dengannya.” Al-Qur’an sengaja menggunakan gambaran tentang perut yang dipenuhi. Di dunia, manusia makan untuk mendapatkan energi, kenikmatan, dan kepuasan. Tetapi di akhirat, sesuatu yang dahulu menjadi simbol kenikmatan justru menjadi bagian dari penderitaan.
Ada pesan yang sangat dalam di sini : manusia sering kali tidak hanya melakukan sesuatu sekali, tetapi terus mengulanginya sampai menjadi pola. Mereka yang dahulu hidup dalam kemewahan, terus-menerus melakukan dosa, dan mendustakan kebangkitan, kini digambarkan sebagai orang yang “memenuhi perut” dengan sesuatu yang menyakitkan. Rangkaian ini seakan memperlihatkan hubungan antara pilihan, kebiasaan, karakter, dan konsekuensi.
Dalam kehidupan dunia, manusia sering ingin mendapatkan hasil tanpa menerima konsekuensi. Kita ingin keuntungan tanpa risiko, kebebasan tanpa tanggung jawab, kesenangan tanpa akibat. Padahal hukum kehidupan tidak bekerja seperti itu. Setiap pilihan membawa konsekuensi, meskipun konsekuensinya kadang baru terlihat jauh setelah pilihan dibuat.
Dalam psikologi modern dikenal konsep delayed consequences, yaitu akibat yang tidak langsung muncul setelah sebuah keputusan. Karena jarak antara tindakan dan akibat cukup jauh, manusia cenderung meremehkan bahayanya. Merokok mungkin tidak langsung membuat seseorang sakit. Korupsi mungkin tidak langsung menghancurkan sebuah keluarga. Kebohongan mungkin tidak langsung merusak reputasi. Tetapi pengulangan tindakan menciptakan akumulasi yang pada akhirnya menghasilkan konsekuensi besar.
Hal yang sama berlaku pada kebaikan. Sedekah yang dilakukan sekali mungkin tampak kecil. Membaca beberapa ayat Al-Qur’an mungkin terasa sederhana. Menahan satu ucapan kasar mungkin tampak tidak berarti. Tetapi kebiasaan baik yang terus diulang membentuk karakter.
Karena itu, Islam sangat memperhatikan istiqamah, bukan hanya ledakan kebaikan sesaat.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda :
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus, meskipun sedikit.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan prinsip yang sangat penting dalam pembentukan karakter. Manusia dibentuk bukan terutama oleh apa yang dilakukan sesekali, tetapi oleh apa yang dilakukan berulang kali.
Karena itu, ayat فَمَالِئُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ dapat menjadi peringatan bahwa kebiasaan memiliki konsekuensi. Apa yang terus-menerus dimasukkan manusia ke dalam hidupnya akan membentuk dirinya.
Ia yang terus memasukkan kebencian akan menjadi manusia yang penuh kebencian. Ia yang terus memasukkan kebohongan akan menjadi manusia yang sulit dipercaya.
Ia yang terus memasukkan Al-Qur’an ke dalam hidupnya akan memiliki hati yang semakin dekat dengan petunjuk.
Inilah yang dalam psikologi modern dapat dikaitkan dengan behavioral reinforcement. Perilaku yang terus diulang dan mendapatkan penguatan akan semakin kuat menjadi pola. Jika lingkungan terus memberi penghargaan kepada keserakahan, maka keserakahan dapat berkembang menjadi budaya. Jika kejujuran dihargai, maka kejujuran lebih mudah menjadi norma sosial.
Karena itu, pembentukan manusia tidak hanya ditentukan oleh nasihat, tetapi juga oleh sistem yang menguatkan perilaku.
Allah berfirman :
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Demi jiwa serta penyempurnaan penciptaannya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams : 7–10)
Ayat ini memperlihatkan bahwa manusia memiliki kemungkinan menuju dua arah. Jiwa dapat disucikan, tetapi juga dapat dikotori. Arah itu dibentuk oleh pilihan yang terus dilakukan.
Munāsabah dan Penguatan Dalil
Allah berfirman :
وَكُلُّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ
“Setiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya melekat pada lehernya.”
(QS. Al-Isrā’ : 13)
Ayat ini menunjukkan bahwa amal tidak terpisah dari pelakunya. Apa yang dilakukan manusia menjadi bagian dari perjalanan dirinya sendiri.
Allah juga berfirman :
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya.”
(QS. Az-Zalzalah : 7–8)
Rasulullah Muhammad SAW juga bersabda :
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang terus berlaku jujur hingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa pengulangan perilaku akhirnya membentuk identitas moral seseorang.
Pelajaran Kehidupan
Jangan meremehkan kebiasaan kecil. Satu kebohongan mungkin terasa kecil, tetapi kebohongan yang terus diulang dapat menjadi karakter. Satu sedekah mungkin terasa kecil, tetapi sedekah yang terus dijaga dapat menjadi sifat dermawan.
Karena itu, tanyakan kepada diri sendiri : apa yang setiap hari sedang saya “masukkan” ke dalam jiwa saya ? Apa yang kita baca, apa yang kita dengar, siapa yang kita ikuti, apa yang kita pikirkan, dan bagaimana kita menggunakan waktu—semuanya perlahan membentuk diri.
Renungan Peradaban
Peradaban juga dibangun dari kebiasaan yang dilakukan secara massal. Jika masyarakat membiasakan antre, jujur, disiplin, menghormati hukum, menjaga kebersihan, dan menepati janji, maka semua itu akhirnya menjadi budaya.
Sebaliknya, jika masyarakat terbiasa dengan suap, manipulasi, kebohongan, nepotisme, dan pelanggaran kecil yang dianggap biasa, maka kerusakan akan menjadi sistemik.
Karena itu, perubahan peradaban tidak selalu dimulai dari keputusan spektakuler. Ia dimulai dari kebiasaan yang diulang oleh manusia dalam jumlah besar.
Apa yang terus-menerus dilakukan manusia akhirnya menjadi budaya. Demikian pula apa yang menjadi budaya akhirnya menjadi karakter masyarakat.
Dan karakter masyarakat pada akhirnya menentukan arah peradaban. Sehingga ayat ini seakan mengingatkan :
Jangan hanya memperhatikan apa yang kita lakukan hari ini. Perhatikan apa yang sedang kita bentuk melalui pengulangan hari demi hari, karena sejatinya manusia pada akhirnya akan menuai apa yang ia biasa lakukan.
Wallāhu A’lam
Bersambung…
Admin: Komi fo DDII Jatim
Uploader: SudonoS
