PANDUAN MENDIRIKAN AKADEMI DAKWAH INDONESIA (ADI) DEWAN DA’WAH ISLAMIYAH INDONESIA

Oleh Adi Purnomo, Sekretaris Dewan Da’wah Kab. Banyuwangi

Dewandakwahjatim.com, Banyuwamgi – Tulisan ini bersumber dari info yang penulis terima dari Ketua DDII Jatim, Dr. KH. Fathur Rohman, M.Pd.I.

Dimaksudkan untuk memudahkan Akhwan/
Akhwat Pengurus DD Kabupaten / Kota yang mungkin berencana mendirikan / menyelenggarakan “Akademi Dakwah Indonesia ( ADI )” di wilayahnya masing-masing.

Salinan ini tidak lengkap, info lengkapnya bisa dibuka / dibaca di File yang dibuat oleh Bidang Pendidikan DDII Pusat.

Semoga bermanfaat.

Panduan Pendirian / Pnyelenggaraan,
” Akademi Dakwah Indonesia” Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia berdasarkan hasil Mukernas DDII tahun 2018.

Disusun oleh Bidang Pendidikan DDII Pusat.

Penanggungjawab Perumusan :

  1. Dr. Imam Zamroji, MA.
    Ketua Bidang Pendidikan
  2. Dr. Ujang Habibi, M Pd.I.
    Kabiro Dikti.

A. Muqodimah.

Indonesia tengah berada dalam krisis multidimensi.
Musibah dan bencana datang silih berganti.
Jika mengacu PD penjelasan Allah SWT dlm surat Al Isra ayat 58, sangat boleh jadi hal itu disebabkan karena kemungkaran dan kemaksiatan yg terjadi di negeri ini nampaknya bukan hanya sebatas tumbuh dan berkembang, tetapi juga ditumbuhkan dan dikembangkan.

Melihat fenomena tsb hendaknya ada sebuah gerakan penyelamatan ummat dan bangsa dari kehancuran itu, Allah berfirman dlm surat Al Imran ayat 103.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا عْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ وَا ذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَآءً فَاَ لَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَ صْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖۤ اِخْوَا نًا ۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّا رِ فَاَ نْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
wa’tashimuu bihablillaahi jamii’aw wa laa tafarroquu wazkuruu ni’matallohi ‘alaikum iz kungtum a’daaa-ang fa allafa baina quluubikum fa ashbahtum bini’matihiii ikhwaanaa, wa kungtum ‘alaa syafaa hufrotim minan-naari fa angqozakum min-haa, kazaalika yubayyinullohu lakum aayaatihii la’allakum tahtaduun

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 103)

  • Via Al-Qur’an Indonesia https://quranapp.id
    Sepanjang sejarah kehidupan manusia, gerakan penyelamatan yg pernah berhasil menyelamatkan manusia dari kehancuran hanyalah gerakan Da’wah. Gerakan ini telah terbukti efektif semenjak diutusnya para nabi dan rasul, sejak jamannabi Nuh as hingga nabi Muhammad Saw. Mereka datang PD saat yg tepat, mengemban tugas menyampaikan risalah, untuk menyelamatkan ummat manusia dari jurang kehancuran.

Permusuhan abadi antara Iblis dg manusia,
menjadikan manusia hrs senantiasa mewaspadai gerakan syaithon – baik syaithon dari jenis jin maupun manusia ataupun kolaborasi antara keduanya – yg ingin selalu menghancurkan kehidupan manusia. Oleh karena itu, berakhirnya era kerasulan tidak berarti berakhirnya era penyelamatan.
Gerakan penyelamatan hrs terus digelorakan oleh gerakan dakwah dan itulah makna, “risalah merintis dakwah” demikian istilah Pak Natsir.

Karena itu, sebagai solusi mengatasi Indonesia dari keterpurukan, DDII mencanangkan sebuah gerakan, “Selamatkan dan bangun Indonesia dg Dakwah”. Sebuah upaya untuk melakukan gerakan dakwah yg terprogram
dg baik dlm menghadapi krisis multi dimensi yg melanda negeri
ini. Dakwah masih tetap diperlukan walaupun
Kehidupan manusia sudah berada pada tahap kemajuan dan kesejahteraan.

Unsur terpenting dari kegiatan dakwah adalah da’i. Da’i adalah pelaku dan penggerak dakwah
Untuk melakukan gerakan penyelamatan dan perubahan itu. Sementara itu jumlah da’i masih sangat jauh Panggang dari api
jika dibandingkan dg permintaan tenaga da’i yg diperlukan untuk terjun langsung membina masyarakat di penjuru tanah air ini. Oleh karena itu Pimpinan Dewan Dakwah mengamanat ke an kepada Bidang Pendidikan untuk merancang dan menye lenggarakan Pendidikan Tinggi untuk melahirkan Da’i Illallah ygdiperlukan oleh ummat di berbagai daerah.

Dalam rangka menunaikan amanah itu, maka Bidang Pendidikan Selain telah menyelenggarakan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Moh Natsir, ( STID) juga merancang dan merintis berdirinya Akademi Dakwah Indonesia DDII di pelosok Nusantara.

B. Visi, Misi, Tujuan dan Target ADI (Akademi Dakwah Indonesia).

Visi :

Menjadi pusat pendidikan da’i untuk pengembangan da’wah Islamatas dasar iman dan taqwa menuju terciptanya ketahanan ummat dan bangsa.

Misi :

  1. Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yg berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah menurut pemahaman ahli Sunnah wal jama’ah.
  2. Melaksanakan penelitian Dakwah yg berorientasi PD pe ahab problematika ummat dan bangsa.
  3. Melaksanakan pelayanan dakwah KPD ummat.

Tujuan :

Tujuan :

  1. Melahirkan da’i yg memiliki integritas sebagai da’i illallah yg memahami Ih slam secara baik, berjiwa pemersatu dan berkarakter wasathi.
  2. Melahirkan da’i yg memiliki dasar-2 ulumudin dan da’wah.
  3. . Melahirkan da’i yg memiliki skill da’wah untuk pengembangan masyarakat Islam

Target dan profil lulusan.

A. Syaksiyah da’i

  1. Memiliki integritas sbg da’i illallah, berjiwa pemersatu dan berkarakter wasathi.
  2. Memiliki semangat juang dan kesabaran dlm berda’wah.

B. Kemampuan Ullumuddin.

  1. Memiliki pemahaman dasar-2 Aqidah yg salimah.
  2. Memiliki pemahaman dasar-2 ibadah yg sahihah.

C. Kemampuan Al Qur’an.

  1. Memiliki kemampuan tahsin tilawah Al Qur’an yg baik.
  2. Memahami Ilmu Tajwid.
  3. Memiliki hafalan Al Qur’an minimal 1 juz.
  4. Mampu menjadi Imam Salat.
  5. Mampu mengajar membaca Al Qur’an.

D. Kemampuan Bahasa Arab.

  1. Memiliki kemampuan menulis dan imlak yg baik.
  2. Memiliki kemampuan dasar membaca dan memahami teks bahasa arab.
  3. Memiliki kemampuan dasar berkomunikasi dg bahasa arab.

E. Kemampuan Ilmu dan Skill Da’wah.

  1. Memiliki pemahaman dasar-2 ilmu dakwah.
  2. Mampu berceramah dan berkotbah
  3. Mampu membuat laporan dan peta dakwah.
  4. Memiliki kemampuan dlm pengurusan jenazah.

C. Penyelenggara.

ADI diselenggarakan oleh Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. ( DDII ).

DDII adalah yayasan yg didirikan berdasarkan akte notaris Sahrin Abdulnanan No.4 tanggal 9 Mei 1967 dan telah mengalami beberapa perubahan. Perubahan yg terakhir berdasarkan akte notaris Edy Priyono SH no 91 tanggal 30 September 2011.

Penyelenggaraan ADI Dewan Da’wah dpt dijelaskan secara rinci sebagai berikut :

Struktur ADI (Akademi Dakwah Indonesia) – Budaya Kampus Dakwah.

Dlm mewujudkan visi, misi dan tujuan pendidikan da’i di ADI, penyelenggaraan pendidikan, pengajaran, penelitian dan pelayanan masyarakat dilaksanakan oleh civitas akademika yg memiliki komitmen untuk meneladani kehidupan Rasullullah dan para sahabat dalam seluruh sisi kehidupannya. Vis, misi dan tujuan pendidikan da’i diatas sulit diwujudkan jika tidak didukung konsep budaya kampus. Budaya kampus yg hendak diwujudkan adalah budaya kampus islami shg akan tercapai cita-2 untuk merealisasikan motto “Kampusku da’wahku”.

Setidaknya ada dua hal yg wajib ada untuk merealisasikan motto tsb. Pertama civitas akademika ADI Dwan Da’wah hrs berupaya dg sungguh-2 dlm menegakan nilai-2 Islam shg terwujud dakwah dlm perilaku kesehariannya. Baik itu dari sisi Aqidah, ibadah, akhlaq, sosial, keamanan, kebersihan, dan lainnya.
Kedua, melestarikan semangat Al amru bil ma’rif wannahyu Anil Munkar, baik di lingkungan kampus maupun di sekitarnya.Jika ke dua hal itu dilakukan maja motto ” Kampusku Da’wahku” akan terwujud. Visi, misi dan tujuan pendidikan da’i insyaAllah akan tercapai.

  1. ADI Dewan Da’wah
    merupakan lembaga pendidikan da’i yg berada dibawah naungan Bidang Pendidikan Dewan Da’wah.
  2. Dlm merancang dan melaksanakan program-2-nya ADI hrs sejalan dg Visi, Misi, Khittah, Azas dan Tujuan Dewan Da’wah.
  3. Dimungkinkan adanya kerjasama dg lembaga-2 lain untuk pendirian dan penyelenggaraan ADI Dewan Da’wah selama ada keselarasan dg Visi dan Misi Dewan Da’wah.
  4. Secara rinci Struktur Organisasi ADI Dewan Da’wah terdiri atas :

a. Bidang Pendidikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Pusat.

b. Dewan Da’wah Propinsi / Kota / Kabupaten sebagai penyelenggara.

c. Pimpinan ADI Dewan Da’wah setempat.

Pendanaan ADI (Akademi Dakwah Indonesia) Dewan Dakwah.

  1. Segala hal yg terkait pendanaan atas penyelenggaraan ADI adalah menjadi tanggung-jawab Dewan Dakwah Penyelenggara.
  2. Pendanaan ADI Dewan Dakwah bersumber dari :

a. Mahasiswa.

b. Membuka atau mengoptimalkan perwakilan Laznas.

c. Kerjasama dg pemerintah setempat.

d. Bantuan Muhsinin yg halal dan tidak mengikat.

Lanjutan Panduan Pendirian dan Penyelenggaraan ADI – DDII.

E. Legalitas, Nama, Jenjang dan Tempat Kedudukan ADI ( Akademi Dakwah Indonesia) – Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.

  1. ADI DDII adalah program pendidikan da’i illallah Bidang Pendidikan DDDI Pusat.
  2. Penyelenggara ADI DDII adalah pengurus DDII propinsi / ke abupaten / kota.
  3. Untuk menyelenggarakan ADI ini DD penyelenggara mempunyai fungsi : a. Membina, memantau, mengevalusi dan mengembangkan ADI. b. Menyediakan sarana, prasarana dan Beaya operasional dan pengembangan ADI setempat.

Tempat Kedudukan ADI DDII.

  1. ADI DDII berkedudukan di wilayahkerja DD Propinsi / Kota / Kabupaten setempat.
  2. Nama untuk ADI DDII akan menyertakan nama daerah di mana DD penyelenggara berkedudukan.
  3. ADI DDII dilaksanakan dg model berasrama.
  4. Masa pendidikan ADI DDII berlangsung selama 2 semester dan ditempuh selama 1 tahun.

Legalitas ADI DDII

  1. Penyelenggaraan dan pendirian ADI DD adalah berdasarkan Surat Keputusan DDII No. 033/ S.Kep / DD / XII / 1435 H / 2013 M tentang Pedoman penyelenggaraan dan Kurikulum ADI tertanggal 28 Shafar 1435 H / 31 Desember 2913 M yg ditandatangani oleh KH Syuhada Bahri ( Ketua Umum DDII ) dan Drs. H. Amlir Syaifa Yasin, M.A ( Sekretaris Umum).
  2. Rapat Pleno Pembina DDII PD tgl 31 Juli 2018 tentang Akselerasi Pendirian ADI DD ke seluruh propinsi / Kabupaten / Kota se-Indonesia.
  3. ADI DD tergolong sebagai pendidikan non-formal.
  4. S.K. pendirian ADI DD dikeluarkan oleh DD Pusat Cq. Bidang Pendidikan.
  5. S.K. pengangkatan pimpinan ADI DD diterbitkan oleh DD Pusat Cq. Bidang Pendidikan atas rekomendasi dari DD penyelenggara
  6. Ijazah ADI ditandatangani oleh Mudir ADI setempat dan Ketua DDII propinsi / Kabupaten / Kota setempat.

F. Lambang dan Bendera.

  1. Bentuk lambang adalah 2 huruf Arab, yaitu. : Dal dan Kha yg merupakan singkatan dari kata. Dakwah dan Khair melambangkan ajakan menuju kebaikan yg diinspirasikan dari Al Qur’an, Surah Al Imran, Ayat 104.
  2. Tulisan warna kuning melambangkan keagungan cita-cita.
  3. Dilingkari Bintang segi 8 berwarna hijau melambangkan Ilmu Pengetahuan dan Dakwah Rahmatan Lil a’lamin.
  4. Bendera ADI DD berwarna dasar hijau dg lambang ADI berwarna kuning berada ditengah-tengahnya.

G. Kurikulum.

  1. Kurikulum
  2. Mata Kuliah

Distribusi Mata Kuliah :

Semester 1.

No.
Mata Kuliah.
Pertemuan Per Pekan .

No 1. Aqidah.
4 pertemuan.

No.2. Ilmu Dakwah
3 pertemuan.

No 3. Fiqih Ibadah
3 pertemuan.

No.4. Akhlaq
3 pertemuan.

No.5. Praktek Tahsin Tilawah 1.
5 pertemuan

No.6. Ilmu Tadjwid 1.
3 pertemuan

No 7. Kitabah
3 pertemuan.

No.8. Muhadatsah.
5 pertemuan.

No.9. Imla’ 1.
3 pertemuan.

No.10. Kitabah 1
4 pertemuan

Total :
36 pertemuan pada Semester 1.
1 pertemuan 60 menit.

Semester II.

No.
Mata Kuliah.
Pertemuan Per pekan.

No 1. Nahwu
3. Pertemuan

No.2. Sharaf
3. Pertemuan

No.3. Ilmu Tajwid II.
2. Pertemuan.

No 4. Praktek Tahsin Tilawah II.
2 pertemuan

No.5. Tahfizh Al Qur’an.
5. Pertemuan

No.6. Kuraatul Kutub.
3. Pertemuan

No.7. Imla’ II
2 polertemuan.

No.8. Khitabah II.
4 pertemuan

No.9. Pembuatan Laporan dan Peta Dakwah.
2 pertemuan

No.10. Pewarisan Nilai-nilai Dakwah.
1 pertemuan

Total :
27 pertemuan.

1 pertemuan 60 menit.

Lanjutan Panduan Pendirian dan Penyelenggaraan ADI ( Akademi Da’wah Indonesia ) – DDII.

Model Perkulihan.

I. Proses perkuliahan di ADI – DD diselenggarakan secara komprehensif dg menerapkan beberapa model-model Perkuliahan atau sebagian dari model -model perkuliahan .

Diantara model-model perkuliahan tsb adalah :

  1. Smal Group Discussion.
  2. Role Play and Simulation.
  3. Self Directed Learning. ( SDL ).
  4. Discovery Learning ( DL ).
  5. Contextual Instruction ( CL ).
  6. Cooperative Learning ( CL ).
  7. Colaborative Learning ( CbL ).
  8. Project Based Learning ( PjBL ).
  9. Problem Based Learning / Inquiry ( PBL/I ).
  10. Case Study.

Selain 10 model tsb, masih banyak model pembelajaran lain yg blm dpt disebutkan satu persatu, bahkan setiap pendidik / dosen dpt pula mengembangkan model pembelajaranya sendiri .

Berikut Penjelasannya :

  1. Small Group Discussion.

Merupakan bentuk pembimbingan kelas oleh seorang pengajar untuk kelompok- kelompok kecil mahasiswa kader da’i dlm rangka pendalaman materi dan tugas-tugas perkuliahan

Mahasiswa juga diwajibkan untuk membuat makalah ilmiyah untuk didiskusikan bersama. Dg demikian mahasiswa akan belajar menjadi pendengar yg baik, bekerja secara berjamaah memberikan dan menerima umpan balik yg konstruktif, menghormati dan menghargai perbedaan pendapat, dan bisa mengkaji dan mendiskusikan setiap pendapat dg bukti-bukti ilmiyah sbg labdasanta.

  1. Role Play / Simulation.

Simulasi adalah model yg membawa situasi yg mirip dg sesungguhnya ke dalam kelas. Misalnya mahasiswa diminta membuat sebuah peta dakwah suatu daerah, kemudian peta dakwah itu dianalisa, dibuat rencana dan tahapan untuk melakukan ku egiatan dakwah di daerah tsb .

  1. Self-Directed Learning ( SDL ).

SDL adalah proses belajar yg dilakukan atas inisiatif mahasiswa kader da’i sendiri. Model Perkuliahan ini ditujukan bagi aktifitas setiap mahasiswa dlm upaya mengembangkan kemampuan dan kualitas keilmuan melalui media-media yg telah disediakan oleh kampus.

Dalam hal ini perencanaan, pelaksanaan dan penilaian terhadap pengalaman belajar yg telah dijalani, dilakukan semuanya oleh mahasiswa ybs.sementara dosen hanya bertindak sbg fasilitator, yg memberi arahan, bimbingan dan konfirmasi terhadap kemajuan belajar yg telah dilakukan individu mahasiswa tsb.

  1. Discovery Learning ( DL).

DL adalah metode belajar yg difokuskan PD pemanfaatan informasi yg tersedia, baik yg diberikan dosen maupun yg dicari sendiri oleh mahasiswa, untuk membangun pengetahuan dg cara belajar mandiri.

  1. Contextual Instruction ( CI )..

CI adalah konsep belajar yg diselenggarakan di ADI dg mengaitkan isi mata kuliah dg situasi nyata dlm kehidupan sehari-hari dan memotivasi mahasiswa untuk membuat keterhubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dlm kehidupan sehari-hari sebagai anggota masarakat. Yakni setiap Ulul Al Din dan Skill dakwah yg disaoatjan hrs memiliki nilai manfaat di tengah masyarakat. Misalnya, mahasiswa mampu membuat sebuah konsep untuk program pengembangan masjid,
membuka majlis-majlis taklim, pengembangan ekonomi ummat, pengabdian masyarakat di daerah pedalaman dan lain-lain .

  1. Cooperative Learning.( CL )

CL adalah metode belajar berkelompok yg dirancang oleh dosen untuk memecahkan suatu masalah / Kadus atau mengerjakan suatu tugas. Kelompok ini terdiri dari beberapa mahasiswa yg memiliki kemampuan akademik yg beragam. Metode ini sangat terstruktur, karena pembentukan kelompok, materi yg dibahas, langkah-langkah diskusi serta produk akhir yg hrs dihasilkan , semuanya ditentukan dan dikontrol oleh dosen. Mahasiswa dlm hal ini hanya ngikuti prosedur diskusi yg dirancang oleh dosen. PD dasarnya CL seperti ini merupakan perpaduan antara teacher- centerd dan student centered learning.

  1. Colaborative Learning ( CbL ).

CbL adalah metode belajar yg menitik beratkan kerjasama antar mahasiswa yg didasarkan PD konsensus yg dibangun sendiri oleh anggota kelompok. Masalah/tugas/kasus mmg berasal dari dosen dan bersifat openended, tetapi pembentukan kelompok yg didasarkan PD minat,prosedur kerja kelompok, penentuan tempat diskusi / kerja kelompok sampai dg bagaimana hasil diskusi ) kerja kelompok ingin dinilai oleh dosen, semuanya ditentukan melalui Cosensus bersama antar anggota kelompok.

  1. Project – Based Learning ( PjBL ).

PjBL adalah metode belajar yg sistematis, yg melibatkan mahasiswa dlm belajar pengetahuan dan ketrampilan melalui proses pencarian / penggalian (inquiry ) yg panjang dan terstruktur THD pertanyaan yg otentik dan kompleks serta tugas dan produk yg dirancang dg sangat hati-hati.

  1. Problem-Based Learning / Inquiry ( PBL/I ).

PBL/I adalah belajar dg memanfaatkan masalah dan mahasiswa dan mahasiswa hrs melakukan pencarian / penggalian informasi (inquiry) untuk dapat memecahkan masalah tsb. Pd umumnya, terdapat empat langkah yg perlu dilakukan mahasiswa dlm PBL/I , yaitu :

a. Menerima masalah yg relevan dg salahsatu / beberapa kompetensi yg dituntut matakuliah dari dosennya.

b. Melakukan pencarian data dan informasi yg relevan untuk memecahkan.

c. Menata data dan mengaitkan data dg masalah,

d. Menganalisa strategi pemecahan masalah adalah belajar dg memanfaatkan masalah dan mahasiswa hrs melakukan pencarian/ penggalian informasi (inquiry) untuk dapat memecahkan masalah tsb.

  1. Seminar.

Sebuah model Perkuliahan yg membicarakan dan membedah masalah-masalah keumatan berskala nasional maupun global yg bersifat spesifik, aktual, akademis, dan berbasis PD riset, seminar biasanya memiliki fokus PD suatu topik yg khusus, dimana para mahasiswa yg hadir dapat berpartisipasi secara aktif.

P. Sarana dan Prasarana.

  1. Masjiddan kelengkapan fasilitasnya menjadi basis utama dlm pelaksanaan Perkuliahan ADD – DDII.

Sekaligus mendorong pemanfaatan masjid sebagai basis pembinaan ummat dan pusat kegiatan ummat juga berfungsi sbg sekretariat pengurus DDII setempat

  1. Sarana dan prasarana sekurang-kurangnya terdiri dari :
  2. Masjid.
  3. Ruang Perkuliahan.
  4. Ruang perpustakaan.
  5. Ruang Sekretariat.
  6. Asrama dan kelengkapannya.
  7. Status kepemilikan ruang, gedung, kampus bisa berupa :

a. Hak milik sendiri.
b. Pinjam.
c. Kontrak.

Penutup.

Dengan izin dan pertolongan Allah SWT, semakin banyaknya da’i diharapkan gerakan Da’wah untuk penyelamatan Indonesia dari kehancuran dpt berjalan dg baik.
Semoga Allah SWT memberikan keberkahan kepada semua pihak yg terlibat dalsm pengkaderan da’i illallah ini.

Hanya kepada Allah kami mengabdi dan hanya kepada Allah kami mohon pertolongan.

Qur’an Surat Huud 88

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ يٰقَوْمِ اَرَءَيْتُمْ اِنْ كُنْتُ عَلٰى بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّيْ وَرَزَقَنِيْ مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَّمَاۤ اُرِيْدُ اَنْ اُخَا لِفَكُمْ اِلٰى مَاۤ اَنْهٰٮكُمْ عَنْهُ ۗ اِنْ اُرِيْدُ اِلَّا الْاِ صْلَا حَ مَا اسْتَطَعْتُ ۗ وَمَا تَوْفِيْقِيْۤ اِلَّا بِا للّٰهِ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَاِ لَيْهِ اُنِيْبُ

qoola yaa qoumi a ro-aitum ing kungtu ‘alaa bayyinatim mir robbii wa rozaqonii min-hu rizqon hasanaa, wa maaa uriidu an ukhoolifakum ilaa maaa an-haakum ‘an-h, in uriidu illal-ishlaaha mastatho’t, wa maa taufiiqiii illaa billaah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib

“Dia (Syu’aib) berkata, “Wahai kaumku! Terangkan padaku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan aku dianugerahi-Nya rezeki yang baik (pantaskah aku menyalahi perintah-Nya)? Aku tidak bermaksud menyalahi kamu terhadap apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup. Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali.”
(QS. Hud 11: Ayat 88).

CATATAN :
tentang Mata Kuliah di ADI-DDII .

  1. Kitabah.
  2. Muhadatsah
  3. Imla’
  4. Kuraatul Kutub
  5. KITABAH

Kitabah (الكتابة) berarti keterampilan menulis atau kegiatan catat-mencatat dalam konteks bahasa Arab.

Pengertian Dasar.

Definisi:

Proses menuangkan ide, pikiran, atau gagasan ke dalam bentuk lambang grafis atau tulisan Arab yang runtut dan logis.

Kedudukan:

Merupakan salah satu dari empat kemahiran berbahasa Arab (maharah lughawiyah) setelah menyimak (istima’), berbicara (kalam), dan membaca (qira’ah).

Tingkatan Pembelajaran
Tahsin Kitabah:

Proses memperbaiki tulisan tangan huruf hijaiyah agar rapi, benar, dan sesuai kaidah dasar.

Kitabah Dasar:

Latihan menulis huruf tunggal, menyambung huruf, serta membubuhkan harakat dan tanda baca.

Kitabah Lanjut:

Kemampuan menyusun kalimat, paragraf, hingga mengarang karangan bebas (insya’) dengan tata bahasa dan kosakata yang tepat.

Jika Anda ingin mendalami topik ini, beri tahu saya apakah Anda ingin membahas:
Tahapan belajar menulis Arab dari nol.

Contoh latihan maharah kitabah untuk pemula.

Kesalahan umum dalam penulisan bahasa Arab

jourrnal .iaiddipolman.ac.id
digilib.uin-oalangkaraya.ac.id

  1. MUHADATSAH

Muhadatsah adalah kegiatan bercakap-cakap atau berbicara menggunakan bahasa Arab untuk melatih keterampilan komunikasi lisan.

Pengertian dan Tujuan.

Arti bahasa:

Berasal dari kata bahasa Arab yang berarti pembicaraan, dialog, atau tanya jawab.

Tujuan utama:

Melatih kelancaran dan rasa percaya diri dalam menyampaikan ide atau pikiran secara lisan menggunakan bahasa Arab yang benar.

Contoh Percakapan Singkat (Perkenalan).

Ahmad:

Ahlan wa sahlan (Selamat datang).

Ali: Ahlan bika (Selamat datang kembali/juga).

Ahmad: Kaifa haluka? (Apa kabar?).

Ali: Bi khair, walhamdulillah. Wa anta? (Baik, alhamdulillah. Dan kamu?)

Jika Anda mau, beri tahu saya:
Topik muhadatsah apa yang ingin dipelajari (misal: di sekolah, di pasar, atau perkenalan)?

Apakah Anda memerlukan terjemahan dan cara baca (latin) untuk latihan?

Saya bisa buatkan naskah percakapannya khusus untuk Anda.

mahad.umsida.ac.id

  1. IMLA’

Imla (إملاء) adalah kaidah tata cara penulisan bahasa Arab yang benar sesuai aturan atau sering juga disebut sebagai metode dikte (menuliskan apa yang dibacakan).

Pengertian dan Tujuan.

Definisi:

Mempelajari cara menulis huruf, kata, dan kalimat bahasa Arab secara tepat, baik dari segi ejaan maupun tanda baca.

Tujuan:

Melatih keterampilan menulis (maharah al-kitabah) agar siswa atau santri mampu menyalin teks, mencatat pelajaran, dan memahami tulisan Arab gundul tanpa keliru.

Ruang Lingkup Materi Imla.

Penulisan Huruf Hijaiyah:

Bentuk huruf di awal, tengah, dan akhir kata.
Kaidah Alif dan Hamzah: Aturan menulis hamzah di awal, tengah (nairah, wau, alif), atau di akhir kata.

Huruf Tambahan dan Hilang:

Membedakan huruf yang diucapkan tetapi tidak ditulis, atau sebaliknya.

Apakah Anda ingin tahu contoh latihan soal imla atau tips belajar dikte bahasa Arab untuk
pemula?

stain kendal-ngawi
Facebook
.Belajar Islam dan Bahasa Arab-BISA

  1. QIROATUL KUTUB

Qiroatul Kutub adalah kegiatan membaca, menterjemahkan, dan memahami isi kitab kuning atau kitab klasik karya ulama.

Pengertian dan Tujuan.

Arti bahasa:

Membaca kitab-kitab.

Tujuan utama:

Memahami ajaran Islam dari sumber asli berbahasa Arab.

Manfaat:

Melestarikan warisan ulama dan menguasai ilmu alat seperti Nahwu dan Shorof.

Pelaksanaan di Pesantren.

Metode bandongan/sorogan:

Santri membaca di hadapan guru.

Musabaqah Qiroatil Kutub (MQK):

Ajang lomba baca kitab tingkat nasional hingga internasional.

Materi:

Kitab fikih, tauhid, tasawuf, hingga ushul fikih.

Jika Anda mau, beri tahu saya:

Apakah Anda ingin tahu contoh kitab yang sering dipelajari?

Atau ingin tahu tips dasar belajar membaca kitab gundul?

Kemenag NTT
Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung
YoyTube
Kemenag RI

Pukul 08.15.
Banyuwangi –
Senin,
25 Rabiul Awwal 1448 H /
7 September 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *