HATI SAKIT : MASALAH DATANG BERTUBI TUBI

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Pernahkah kita merasa kosong dalam menjalani hidup? Pernahkah kita hampa dalam mengarungi bahtera rumah tangga ?Pernahkah kita bangun di pagi hari tanpa gairah, menjalani rutinitas tanpa makna, lalu tidur kembali dengan perasaan yang sama? Pernahkah kita merasakan ibadah hanya sebagai kewajiban tanpa ruh, dzikir tanpa penghayatan, atau doa yang sekadar lantunan kata tanpa getaran dalam dada?

Mengapa sebagian orang menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah, sementara sebagian yang lain tetap diam seolah tak terjadi apa-apa? Mengapa ada hati yang bergetar ketika nama Allah disebut, tetapi ada juga yang tetap keras, tak peduli seberapa banyak nasihat tentang kehidupan rumah tangga yang ia dengar? Apakah hati kita masih hidup, apakah hati kita dalam kondisi sakit, ataukah ia perlahan sedang menuju kematiannya?

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

يجب أن نعالج أنفسنا إذا رأينا أننا نقرأ القرآن وكأنه حروف تتلى نرجو بركتها وثوابها. فإذا لم تؤثر على القلب باللين والخشوع والرجوع إلى الله عز وجل فإن ذلك دليل على مرض القلب وربما على موت القلب. ( تفسير سورة غافر / ص٤٣٢)

“Kita wajib mengobati jiwa kita, apabila didapati diri kita sedang membaca Al-Qur’an hanya sekedar huruf yang dibaca, dalam keadaan mengharapkan berkah dan balasannya. Apabila hatimu tidak terpengaruh dengan bacaan Al-Qur’an hingga menjadi lunak, khusyuk, dan kembali kepada Allah, sungguh hal itu merupakan tanda bahwa hati tersebut sakit atau bisa jadi telah mati.”

Kerasnya hati adalah derita yang sering kali terabaikan. Padahal, dampak kerasnya hati begitu jelas. Menerima nasihat hanya numpang lewat, masuk telinga kanan keluar melalui telinga kiri. Keadaan ini sangat berbahaya karena hati bisa mati secara perlahan.

“Apa obat hati”

Ada seorang yang datang kepada Syaikh Hasan Bashri rahimahullah, dan bertanya :

“Wahai Abu Sa’id, aku merasakan kerasnya hatiku. Apakah obatnya?”
Hasan Al-Bashri rahimahullah menjawab, “Lunakkanlah hatimu yang keras dengan banyak berdzikir kepada Allah.”

Jawaban ini sedikit tetapi sangat mendalam. Karena memperbanyak dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla akan membuat hati seorang muslim terpaut kepada-Nya, dan keterkaitannya kepada perkara duniawi akan berkurang.

Dengan begitu, hatinya akan lembut, dan kerasnya perlahan-lahan hilang. Namun, jika kelalaiannya semakin besar, maka keterikatannya dengan Allah akan semakin lemah. Sebaliknya, keterikatannya kepada dunia akan menguat, hingga hatinya menjadi keras. Ini semacam pola keseimbangan yang pasti.

Maka siapa yang ingin hatinya lembut dan terbebas dari kekerasan, hendaknya ia memperbanyak dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Memperbanyak dzikir kepada Allah.

Firmannya:
“Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring…” (QS. Ali Imran: 191).

Termasuk obat kerasnya hati: membaca Al-Qur’an dengan penuh penghayatan. Ini merupakan salah satu sebab terbesar lenyapnya kekerasan hati. Allah Ta’ala berfirman:

“Seandainya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, niscaya engkau akan melihatnya tunduk terpecah-belah karena takut kepada Allah…” (QS. Al-Hasyr: 21).

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

Artinya: “Maka kenapakah mereka tidak mau memerhatikan Al-Qur’an bahkan hati mereka sebenarnya telah terkunci.” (QS Muhammad: Ayat 24)

Hati yang Mati: Ketika Cahaya Padam

Hati yang mati bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Ia seperti api kecil yang perlahan redup, seperti tubuh yang kehilangan nyawa sedikit demi sedikit. Ada banyak tanda yang bisa kita rasakan, jika kita mau jujur pada diri sendiri:

  1. Ketika dosa terasa ringan dan tidak lagi membuat kita merasa bersalah.
    Rasulullah SAW.bersabda:

الْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ النَّاسُ عَلَيْهِ

“Dosa adalah sesuatu yang membuat hatimu gelisah dan engkau tidak suka jika orang lain mengetahuinya.” (HR. Muslim, no. 2553)

Namun, bagaimana jika kita sudah tidak merasa bersalah lagi? Bagaimana jika dosa menjadi kebiasaan, bahkan dianggap biasa saja? Itu adalah tanda bahwa hati kita telah kehilangan kepekaannya.

  1. Ketika ibadah kehilangan ruhnya.

Kita shalat, tetapi tidak merasakan ketenangan. Kita membaca Al-Qur’an, tetapi tidak ada getaran dalam hati. Kita berdoa, tetapi doa terasa kosong. Allah SWT. berfirman:

وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًۭا

“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ di hadapan manusia, dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa: 142)

Apakah ibadah kita hanya sebatas gerakan tanpa makna?

  1. Ketika dunia lebih menarik daripada akhirat.

Kita bisa menghabiskan berjam-jam menatap layar ponsel, tetapi sulit meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an walau hanya lima menit. Kita bisa bersemangat mencari rezeki, tetapi malas untuk bersedekah. Kita bisa berdebat panjang tentang dunia, tetapi enggan untuk merenungi akhirat. Rasulullah bersabda:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ

“Barang siapa yang dunia menjadi obsesinya, maka Allah akan membuat urusannya tercerai-berai, menjadikan kefakiran di depan matanya, dan ia tidak akan mendapatkan dunia kecuali yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. At-Tirmidzi)

Apakah kita termasuk orang yang lebih sibuk mengejar dunia dan mengabaikan akhirat?

  1. Condong kepada Urusan Dunia
    Mereka sering menghabiskan waktu dengan urusan dunia. Ia mengutamakan urusan dunia seakan-akan dunia kekal baginya. Padahal Allah Ta’ala berfirman:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا * وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Artinya: “Bahkan kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS Al-A’laa: 16-17)

  1. Suka Berprasangka Buruk dan Mencari Kesalahan Orang Lain

Ciri lain, hati yang mati adalah suka mencari-cari kesalahan orang lain. Pikirannya selalu suuzhon atau berprasangka buruk. Allah mengingatkan hal ini dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman. Tinggalkan perangai suka sangka buruk kerana sangka buruk itu adalah dosa dan jangan kamu mencari-cari salah orang lain.” (QS Al-Hujurat: 12)

Syekh Ali Baras di dalam Syarah Al-Hikam-nya mengibaratkan hati dan batin laksana bumi yang dapat tumbuh dan hidup, dan juga dapat kering atau mati. Sedangkan air kehidupan yang turun dari langit air adalah makrifat dan keimanan yang akan menghidupi bumi tersebut. (Syekh Ali Baras, Syifaus Saqam wa Fathu Khaza’inil Kilam fi Ma’anil Hikam, [Beirut, Darul Hawi: 2018 M/1439 H], halaman 282).

Hati yang mati, kering, dan gelap tidak akan merasakan apapun. Hati yang mati, kering, dan gelap tidak memiliki sensitivitas spiritual. Ia tidak akan merasakan manis, pahit, asamnya spiritualitas sehingga hatinya tidak merasakan kelezatan ibadah dan kepedihan atas kesempatan ibadah yang luput.

Imam Ibnu Athaillah dalam Matan Al-Hikam-nya menyebut semua itu sebagai tanda kematian hati:

من علامات موت القلب عدم الحزن على ما فاتك من الموافقات وترك الندم على ما فعلت من وجود الزلات

Artinya, “Salah satu kematian hati adalah tidak adanya kesedihan atas kesempatan ibadah yang terlewat dan tidak adanya penyesalan atas kehilafan yang pernah dilakukan.”

Hati yang mati, kering, dan gelap tidak menganggap dosa, kekhilafan, dan kesalahan baik yang berkaitan dengan hak Allah maupun hak adami sebagai masalah serius. Hati yang mati, kering, dan gelap juga tidak akan menganggap waktu ibadah dan waktu kebaikan sebagai kesempatan emas yang harus dipenuhi sesuai haknya sehingga hati yang mati dan kering takkan menyesali kesempatan kebaikan yang berlalu.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *