Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Ada satu hal yang sering tidak disadari manusia: ketika masih muda, ia mengira sedang berjalan menuju masa depan. Ketika mulai menua, barulah ia menyadari bahwa sejak awal ia sebenarnya sedang berjalan menuju Allah.
Dahulu ia sibuk mengejar hari esok. Hari demi hari diisi dengan mimpi, target, ambisi, dan berbagai rencana yang seakan tidak pernah selesai. Waktu terasa panjang, usia terasa banyak, dan kematian tampak begitu jauh di cakrawala. Namun perlahan, tanpa suara dan tanpa aba-aba, musim demi musim berlalu. Rambut mulai memutih, tenaga tidak lagi sama, dan cermin menjadi saksi bahwa waktu terus menjalankan tugasnya dengan setia.
Pada titik tertentu, manusia mulai memahami bahwa usia bukanlah sekadar penjumlahan tahun, melainkan akumulasi pelajaran. Setiap kegagalan menyimpan hikmah. Setiap kehilangan menyimpan kedewasaan. Setiap luka menyimpan kebijaksanaan. Dan setiap pertemuan maupun perpisahan ternyata sedang membentuk dirinya menjadi manusia yang berbeda dari sebelumnya.
Mungkin itulah sebabnya Allah tidak menciptakan manusia langsung tua. Sebab ada pelajaran yang hanya bisa dipahami setelah melewati panjangnya perjalanan. Ada makna yang baru terlihat setelah seseorang berjalan cukup jauh. Seperti musafir yang baru dapat memahami bentuk gunung setelah ia menjauhinya, manusia sering kali baru memahami arti kehidupan setelah sebagian besar hidup itu berlalu.
Ketika usia bertambah, perlahan pandangan manusia berubah. Apa yang dahulu membuatnya gelisah kini tampak biasa. Apa yang dahulu dianggap sangat penting kini terasa tidak terlalu berarti. Sebaliknya, hal-hal sederhana yang dulu sering diabaikan justru tampak begitu berharga. Senyum keluarga, kesehatan yang masih tersisa, waktu untuk beribadah, kesempatan berbagi manfaat, dan ketenangan hati menjadi nikmat yang nilainya jauh melampaui banyak hal yang dahulu dikejar dengan susah payah.
Menjadi tua sesungguhnya adalah proses Allah melatih manusia untuk melepaskan. Melepaskan kekuatan yang dahulu dibanggakan. Melepaskan jabatan yang dahulu dipertahankan. Melepaskan berbagai hal yang pernah dianggap sebagai bagian dari dirinya. Hingga akhirnya manusia memahami bahwa sejak awal tidak ada yang benar-benar dimiliki. Semua hanyalah titipan yang suatu saat harus dikembalikan kepada Pemiliknya.
Di situlah makna usia mulai menemukan kedalamannya. Bahwa kehidupan bukan perlombaan untuk memiliki sebanyak mungkin, melainkan perjalanan untuk memahami sebanyak mungkin. Memahami siapa diri kita. Memahami mengapa kita hadir di dunia. Memahami bahwa seluruh perjalanan ini bukanlah kebetulan. Dan yang paling penting, memahami kepada siapa sesungguhnya kita akan kembali.
Karena itu, menjadi tua dengan bermakna bukan berarti hidup tanpa kelemahan, tanpa penyakit, atau tanpa keterbatasan. Menjadi tua dengan bermakna adalah ketika hati semakin lapang meskipun tubuh semakin lemah. Ketika syukur semakin besar meskipun kemampuan semakin berkurang. Ketika hubungan dengan Allah semakin dekat sementara hubungan dengan dunia semakin ringan untuk dilepaskan.
Barangkali usia tua adalah saat ketika Allah mulai memperlihatkan rahasia yang selama ini tersembunyi di balik hiruk-pikuk kehidupan. Bahwa dunia bukan rumah, melainkan persinggahan. Bahwa waktu bukan milik kita, melainkan amanah. Bahwa kehidupan bukan tentang seberapa lama kita tinggal, melainkan seberapa baik kita mempersiapkan kepulangan.
Dan pada akhirnya, menjadi tua bukanlah tentang semakin dekat kepada kematian. Menjadi tua adalah tentang semakin dekat kepada perjumpaan. Sebab bagi seorang mukmin, senja kehidupan bukanlah cahaya yang padam, melainkan cahaya yang perlahan kembali menuju sumbernya.
Maka jangan takut kepada usia yang bertambah. Takutlah jika usia bertambah tetapi makna tidak bertambah. Sebab bukan panjangnya umur yang membuat hidup bernilai, melainkan kedalaman hikmah yang berhasil dipetik sepanjang perjalanan menuju Allah.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
