Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا
Artinya: Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. QS. As Syamsi 8
Ayat di atas memang sepintas sudah terasa apa makna yang dimaksud. Ya benar, bahwa fujuur fasik yang terus menerus dikelola dan dibantu oleh setan itu hebat, tapi kita jangan pernah lupa bahwa ampunan Allah Subhanahu wata’ala yang dilandasi ketaqwaan itu sungguh lebih dahsyat. Itulah point yang harus kita pahami dalam hidup di dunia yang penuh fujuur.
Fujuūr (الفجور):
Kata ini juga banyak dipakai untuk dosa-dosa besar. Namun, penggunaannya seringkali lebih khusus, yaitu pada mereka yang terus-menerus melakukan dosa besar, bersikap meremehkan, dan larut di dalamnya. Istilah ini juga kerap dipakai untuk dosa-dosa yang sangat keji, yang bahkan orang berakal sekalipun — meskipun ia bukan seorang muslim — akan menganggapnya menjijikkan. Misalnya perbuatan homoseksual, zina dengan mahram, tuduhan dusta (fitnah keji), menyiksa dengan kejam dalam pembunuhan, serta sumpah palsu yang berat. (Al munjid)
Dalam Islam, fujuur (الفجور) berarti sifat, kecenderungan, atau potensi keburukan dan kemaksiatan yang ada di dalam jiwa manusia. Istilah ini sangat erat kaitannya dengan fitrah manusia yang diciptakan Allah Subhanahu Wata Allah dengan dua potensi yang saling bertolak belakang: fujur dan takwa (potensi kebaikan
Dalam Al-Qur’an dan Hadits, Allah dan Rasul-Nya telah menegaskan bahwa setan (dan iblis) adalah musuh nyata yang bersumpah untuk selalu menggoda, menyesatkan, dan menjerumuskan manusia ke dalam dosa hingga hari kiyamat.
Waspadalah terhadap segala ancaman, khususnya godaan setan,” pesannya. Setan mengetahui sifat dan kelemahan manusia dan siap menggoda dari kiri, kanan, depan, dan belakang sehingga kebanyakan manusia tidak bersyukur.
Jangan dikira, orang yang khusuk setiap saat baca Qur’an, sholatnya luar biasa bukan hanya sholat wajib tetapi sholat sholat sunah lain tidak ketinggalan, puasanya hebat bukan hanya puasa wajib tapi juga puasa sunah tak terlupakan, bahkan juga menyandang gelar Kyai setan enjoi saja menggodanya. Terbukti kan tuu tuu!.
Sesuai dengan janji Iblis dalam Qs Al Hijr ayat 39: Iblis berkata, “Aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang indah perbuatan maksiat di muka bumi. Dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis”.
Mukhlis diartikan muslim yang beramal baik secara ikhlas, yaitu semata-mata karena mencari ridho Allah. Seorang dengan kualitas mukhlis adalah orang yang hatinya bersih dari keinginan memperoleh pujian atas amalan baiknya.
Nabi Muhammad SAW mencontohkan deretan predikat dengan Muslim, Mukmin, Alim (muslim terpelajar), Amil (muslim ahli beramal baik) dan Mukhlis. Semakin banyak kita berharap sesuatu bukan kepada Allah maka semakin banyak kita akan mengalami kekecewaan. Maka beribadahlah secara mukhlis supaya amal ibadahnya tidak menjadi sia-sia.
Dalam surat An Nisa ayat 120 menjelaskan “Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka”.
Manusia diciptakan Allah dengan lengkap segala kelebihan yang dimiliki. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dan mulia di antara makhluk lainnya, karena dilengkapi dengan kelebihan fisik, akal dan nafsu. Akan tetapi dalam QS al-Baqarah ayat 30 mengabadikan keberatan malaikat atas rencana Allah SWT yang akan menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Sejak lahir, di dalam setiap jiwa manusia, Allah SWT menyimpan dua benih, yaitu benih fujur (kefasikan) dan benih takwa (kebaikan). Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam QS Asy-Syams: 8-10, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorinya.”
Dalam surat As Syamsi 8 dinjelaskan isi kandungan ayat di atas adalah Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia dua sifat yang berbeda yaitu fujur (fasik) dan takwa. Keduanya memiliki sifat saling berlawanan (kontradiktif). Fujur berarti sifat-sifat buruk yang terpendam di dalam diri, dan takwa bermakna potensi-potensi kebaikan dalam diri manusia.
Yang dimaksud Allah mengilhamkan kepada manusia sifat buruk (fujur) bukanlah bermaksud ingin mencelakakan manusia. Justru sifat fujur itu diciptakan untuk memaksimalkan sifat takwa manusia, sehingga ia bisa menjadi pribadi yang mulia dengan takwanya. Karenanya, keberadaan sifat fujur akan mendorong manusia untuk tazkiyat al-nafs atau menyucikan jiwa. Terkait konsep tentang penyucian jiwa, hal ini telah difirmankan oleh Allah SWT melalui QS Al A’ala:14, “Qad aflaha man tazakka.”
Dalam surat Syamsi ayat 8 sampai 10; “Allah merupakan zat yang Maha Rahim, sehingga Dia memberikan rahmat melampaui apapun. Dengan kasih sayang yang begitu banyak, Allah berkehendak agar umat manusia ini tidak larut dalam kehidupan yang penuh dengan noda dan nista,”
Dan kalau saja ampunan Allah Yang Maha Pengampun tidak menjanjikan ampunan-Nya, sudah tentulah kita hanya akan menjadi hamba syetan yang juga akan menjadi teman mereka kelak di dalam neraka yang siksanya sungguh dahsyat dan kekal.
Untuk lebih jelasnya, mari kita baca riwayat berikut ini. Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan; Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wasallam bersabda;
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَالَ وَعِزَّتِكَ يَا رَبِّ لَا أَبْرَحُ أُغْوِي عِبَادَكَ مَا دَامَتْ أَرْوَاحُهُمْ فِي أَجْسَادِهِمْ قَالَ الرَّبُّ وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَا أَزَالُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُونِي
Setan berkata, “Demi kekuatan-Mu, ya Tuhan, aku akan terus menyesatkan anak-anak Adam, selama jiwa mereka masih berada di dalam tubuh mereka”. Tuhan berfirman, “Demi kekuatan dan keagungan-Ku, Aku akan terus mengampuni mereka, selama mereka memohon ampunan-Ku” (HR. Musnad Ahmad no. 11367, Nilai: Hasan).
Hadits ini bisa kita bagi ke dalam dua bagian, yakni ancaman setan yang terkutuk dan janji ampunan Allah yang Maha Rahman dan Rahim. Ancaman itu berupa sumpah setan yang bersumpah akan selalu menyesatkan anak cucu Adam yakni kita semua ini. Sedangkan janji Allah Subhanahu wata’ala adalah ampunan-Nya selama kita sebagai anak Adam memohon ampunan dari-Nya.
Untuk itu, mari kita manfaatkan janji Allah Subhanahu wata’ala ini agar kita selalu mendapat ampunan-Nya, aamiin. Allahu ya’lam. Sukses itu datangnya dari Allah Subhnahu wata’ala, dan Allah sungguh Maha Mengetahui.
Wallahu musta’an
Admin: Kominfo DDII Jatim
