Oleh Kemas Adil Mastjik, Pengurus Dewan Dakwah Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Kelompok terbang (kloter) perdana jamaah haji asal Indonesia resmi dipulangkan ke tanah air dari Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Ahad (31/5/2026) malam waktu setempat. Dua kloter awal itu, kloter 1 embarkasi Batam (BTH 1) dan kloter 1 embarkasi Surabaya (SUB 1). (www.republika.co.id).
Setelah jutaan Muslim menunaikan rangkaian ibadah haji 1447 Hijriah / 2026 Masehi, perhatian kini beralih pada tahapan yang tidak kalah penting, yaitu proses pemulangan jamaah ke negara asal masing-masing. Jika puncak ibadah haji ditandai dengan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, lontar jumrah di Mina, dan tawaf ifadah di Masjidil Haram, maka fase pemulangan menjadi ujian besar bagi penyelenggara dalam memastikan seluruh jamaah kembali dengan selamat, nyaman, dan tertib.
Berhaji, Berkarya!
Haji bukanlah sekadar perjalanan ke Tanah Suci atau rangkaian ritual yang berakhir setelah jamaah kembali ke Tanah Air. Haji adalah madrasah kehidupan yang dirancang untuk membentuk manusia yang bertakwa, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama.
Masyarakat sesungguhnya tidak hanya menanti kepulangan para jamaah haji, tetapi juga menanti kiprah para haji mabrur. Beberapa tokoh Indonesia seperti Mohammad Natsir, Hamka, dan M. Quraish Shihab sering mengaitkan haji dengan pembentukan akhlak, persatuan umat, dan pembangunan peradaban Islam. Allah Swt berfirman: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah” (QS Al-Baqarah: 196). Ayat ini menegaskan bahwa haji harus dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan penghambaan kepada Allah semata.
Perjalanan haji diawali dengan ihram. Pada saat itu, jamaah melepaskan pakaian kebesaran dan mengenakan dua lembar kain putih sederhana. Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, ihram mengajarkan manusia untuk meninggalkan kesombongan dan berbagai atribut dunia yang sering membedakan satu orang dengan yang lain. Tidak ada lagi pejabat, pengusaha, profesor, atau rakyat biasa. Semua sama di hadapan Allah. Filosofi ini mengajarkan bahwa kemuliaan manusia bukan terletak pada jabatan atau kekayaan, melainkan pada ketakwaannya.
Demikian pula Sayyid Qutb. Dalam Fi Zhilal al-Qur’an, haji beliau pandang sebagai kongres besar umat Islam sedunia yang menegaskan persaudaraan dan persamaan manusia di hadapan Allah.
Puncak ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Rasulullah SAW bersabda: “Haji itu adalah Arafah” (HR Tirmidzi). Di Padang Arafah, jutaan manusia berdiri dan berdoa memohon ampunan Allah. Para ulama menjelaskan bahwa suasana Arafah mengingatkan manusia kepada Padang Mahsyar, tempat seluruh manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat. Wukuf menjadi momentum muhasabah, mengevaluasi perjalanan hidup, mengakui kesalahan, dan memperbarui komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Setelah itu jamaah bergerak menuju Muzdalifah dan Mina. Mereka bermalam dengan fasilitas yang sangat sederhana. Di sinilah haji mengajarkan kesabaran, ketahanan, dan kesediaan untuk meninggalkan kenyamanan demi ketaatan kepada Allah. Dalam kehidupan modern yang serba instan, pelajaran ini menjadi sangat berharga.
Salah satu ritual yang paling sarat makna adalah melempar jumrah. Ritual ini mengenang perjuangan Nabi Ibrahim As ketika menggagalkan godaan setan yang berusaha menghalanginya melaksanakan perintah Allah. Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, lempar jumrah bukan sekadar melempar batu, tetapi simbol perlawanan terhadap hawa nafsu, kesombongan, ketamakan, dan berbagai godaan yang menjauhkan manusia dari jalan Allah.
Selanjutnya, jamaah melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Ka’bah menjadi pusat pergerakan seluruh jamaah. Para ulama menjelaskan bahwa tawaf mengandung pesan bahwa Allah harus menjadi pusat orientasi hidup manusia. Seluruh aktivitas kehidupan—ekonomi, pendidikan, politik, keluarga, dan pekerjaan—harus berputar pada nilai-nilai ketuhanan, bukan pada kepentingan pribadi atau materi semata.
Ritual sa’i antara bukit Shafa dan Marwah mengabadikan perjuangan Siti Hajar mencari air untuk putranya, Ismail. Berulang kali beliau berlari dari satu bukit ke bukit lainnya tanpa menyerah. Dari perjuangan itu Allah menghadirkan mukjizat air Zamzam.
Sa’i mengajarkan bahwa pertolongan Allah tidak datang kepada orang yang berpangku tangan, tetapi kepada mereka yang berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Optimisme, kerja keras, dan ketekunan merupakan nilai penting yang harus dibawa pulang oleh setiap jamaah haji.
Rangkaian haji kemudian ditutup dengan tahallul, yaitu mencukur atau memotong rambut. Secara simbolik, tahallul melambangkan lahirnya manusia baru yang telah membersihkan diri dari dosa dan bertekad memulai kehidupan yang lebih baik.
Semua rangkaian itu bermuara pada satu tujuan: Melahirkan haji mabrur. Rasulullah Saw bersabda: “Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga” (HR Bukhari dan Muslim).
Para ulama menjelaskan bahwa tanda haji mabrur bukanlah gelar yang disandang seseorang, melainkan perubahan akhlak yang tampak dalam kehidupannya. Setelah berhaji, seseorang menjadi lebih jujur, lebih amanah, lebih rendah hati, lebih rajin beribadah, dan lebih peduli kepada sesama.
Cahaya Baru
Kemabruran haji harus terlihat pertama kali dalam lingkungan keluarga. Seorang haji mabrur menjadi teladan bagi pasangan dan anak-anaknya. Ia menghadirkan suasana rumah yang penuh kasih sayang, kejujuran, dan nilai-nilai agama.
Di tengah masyarakat, haji mabrur diharapkan menjadi perekat persaudaraan dan penggerak kebaikan sosial. Ia tidak terlibat dalam fitnah, permusuhan, atau tindakan yang merugikan orang lain. Sebaliknya, ia menjadi pelopor kejujuran, kepedulian, dan persatuan.
Lebih jauh lagi, bangsa ini membutuhkan semakin banyak haji mabrur yang hadir di berbagai bidang kehidupan. Nilai-nilai yang dipelajari selama haji—integritas, disiplin, pengorbanan, dan persaudaraan—sangat dibutuhkan untuk membangun Indonesia yang adil, bermartabat, dan maju. Jika jutaan jamaah yang berangkat haji setiap tahun benar-benar membawa pulang nilai-nilai tersebut, maka dampaknya akan terasa dalam kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, bahkan peradaban bangsa.
Akhirnya, haji bukanlah garis akhir, melainkan awal dari pengabdian yang lebih besar. Masyarakat menanti bukan sekadar kepulangan para jamaah dari Tanah Suci, tetapi menanti lahirnya pribadi-pribadi yang lebih bertakwa, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih bermanfaat.
Sungguh, inilah hakikat haji mabrur: Ketika nilai-nilai yang dipelajari di Arafah, Mina, Muzdalifah, Shafa, Marwah, dan di sekitar Ka’bah terus hidup dalam setiap langkah kehidupan sehari-hari. Semoga para tamu Allah yang sedang menunaikan ibadah haji memperoleh kemabruran dan menjadi cahaya bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan umat manusia. Aamiin. []
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
