Membaca Gagasan Ekonomi Pasar Pancasila dalam Perspektif Epistemologi Qurani
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Peradaban modern ibarat sebuah kapal raksasa yang berhasil menaklukkan samudra, tetapi perlahan kehilangan kompas.
Mesinnya semakin canggih.
Layarnya semakin besar.
Kecepatannya semakin mengagumkan.
Namun satu pertanyaan sederhana mulai menghantui seluruh penumpangnya:
Kita sedang menuju ke mana?
Pertanyaan inilah yang sesungguhnya berada di balik berbagai perdebatan tentang ekonomi, pembangunan, pasar, dan kesejahteraan.
Selama beberapa abad terakhir, manusia modern bekerja keras menyempurnakan mesin peradaban. Produksi ditingkatkan. Teknologi dikembangkan. Pasar diperluas. Efisiensi dijadikan mantra baru. Pertumbuhan ekonomi diperlakukan sebagai ukuran keberhasilan.
Dan memang, manusia berhasil menciptakan keajaiban-keajaiban yang sebelumnya hanya ada dalam imajinasi.
Namun di balik gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, ada kegelisahan yang juga tumbuh semakin tinggi.
Di balik angka-angka pertumbuhan yang membanggakan, ada jurang ketimpangan yang semakin menganga.
Di balik pasar yang semakin bebas, ada manusia yang semakin kehilangan kebebasan dari hasratnya sendiri.
Seolah-olah peradaban berhasil menemukan cara untuk mempercepat perjalanan, tetapi kehilangan alasan mengapa perjalanan itu harus dilakukan.
Di sinilah kegelisahan Prof. Didin S. Damanhuri menjadi menarik.
Melalui gagasan Ekonomi Pasar Pancasila, beliau mengingatkan bahwa pasar tidak boleh menjadi penguasa. Pasar harus tetap menjadi pelayan.
Ekonomi tidak boleh kehilangan wajah manusianya.
Pembangunan tidak boleh kehilangan ruh keadilannya.
Karena ketika pasar dibiarkan berjalan tanpa kendali nilai, ia akan berubah seperti sungai yang meluap tanpa tepian. Awalnya memberi kehidupan, tetapi akhirnya menenggelamkan sawah, rumah, dan kampung yang dilewatinya.
Pasar pada dirinya bukan musuh.
Keuntungan bukan dosa.
Kekayaan bukan kesalahan.
Sebagaimana api bukan musuh manusia.
Api dapat memasak makanan, menghangatkan tubuh, dan menerangi malam.
Tetapi api yang keluar dari tungkunya akan membakar rumah yang sama yang dahulu ia hangatkan.
Begitu pula pasar.
Ia memerlukan batas.
Ia memerlukan arah.
Ia memerlukan makna.
Dan di sinilah sesungguhnya perdebatan terbesar dimulai.
Karena persoalan paling mendasar dalam ekonomi ternyata bukan ekonomi.
Persoalan paling mendasar dalam pembangunan ternyata bukan pembangunan.
Persoalan paling mendasar dalam pasar ternyata bukan pasar.
Melainkan cara manusia memahami semua itu.
Dengan kata lain, persoalannya adalah epistemologi.
Dalam Seri Epistemologi Qurani dijelaskan bahwa setiap peradaban lahir dari cara tertentu dalam membaca realitas.
Tidak ada ekonomi yang netral.
Tidak ada pasar yang bebas nilai.
Tidak ada pembangunan yang lahir dari ruang kosong.
Di balik setiap sistem selalu tersembunyi sebuah pandangan dunia.
Sebuah keyakinan tentang siapa manusia.
Apa tujuan hidupnya.
Dan ke mana seluruh perjalanan ini bermuara.
Kapitalisme memiliki jawabannya sendiri.
Sosialisme memiliki jawabannya sendiri.
Liberalisme memiliki jawabannya sendiri.
Tetapi pertanyaan yang jarang diajukan adalah:
Apa jawaban wahyu?
Di sinilah Al-Qur’an memulai revolusinya bukan dari pasar, bukan dari negara, dan bukan dari kekuasaan.
Al-Qur’an memulainya dari cara manusia membaca.
Iqra’.
Bacalah.
Sebab seluruh krisis besar dalam sejarah manusia pada akhirnya adalah krisis membaca.
Iblis tidak gagal karena kurang cerdas.
Ia gagal membaca hakikat dirinya.
Fir’aun tidak gagal karena kurang kuat.
Ia gagal membaca hakikat kekuasaan.
Qarun tidak gagal karena kurang kaya.
Ia gagal membaca hakikat kekayaan.
Dan manusia modern tidak sedang kekurangan data.
Ia sedang kehilangan makna.
Kita mengetahui harga hampir segala sesuatu, tetapi semakin sulit memahami nilainya.
Kita mampu menghitung pertumbuhan ekonomi hingga dua angka di belakang koma, tetapi sering kali tidak mampu menjawab mengapa hati manusia semakin kosong.
Kita membangun pasar yang semakin besar, tetapi keluarga yang semakin rapuh.
Kita mempercepat arus informasi, tetapi kehilangan arah kebijaksanaan.
Di sinilah Tauhid hadir bukan sekadar sebagai doktrin teologis, melainkan sebagai revolusi epistemologis.
Tauhid mengembalikan pusat semesta kepada Allah.
Tauhid mengingatkan bahwa manusia bukan pemilik mutlak, melainkan pemegang amanah.
Bahwa harta bukan tujuan, melainkan sarana.
Bahwa pasar bukan kiblat, melainkan alat.
Bahwa pembangunan bukan tujuan akhir, melainkan kendaraan menuju kemaslahatan.
Tanpa tauhid, ekonomi perlahan berubah menjadi agama baru.
Keuntungan menjadi Tuhan baru.
Konsumsi menjadi ritual baru.
Pertumbuhan menjadi kiblat baru.
Dan pasar menjadi hakim yang menentukan apa yang dianggap bernilai.
Pada titik itulah manusia mulai kehilangan langitnya.
Padahal peradaban yang kehilangan langit akan tersesat di bumi.
Karena itulah Al-Qur’an tidak menjanjikan keberkahan melalui pertumbuhan ekonomi semata.
Allah berfirman:
«وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)»
Perhatikan baik-baik.
Allah tidak mengatakan:
“Sekiranya mereka meningkatkan investasi.”
Tidak pula:
“Sekiranya mereka memperbesar pasar.”
Bahkan tidak mengatakan:
“Sekiranya mereka meningkatkan konsumsi.”
Allah memulai semuanya dari iman dan takwa.
Mengapa?
Karena keberkahan bukan pertama-tama persoalan jumlah.
Keberkahan adalah persoalan arah.
Keberkahan adalah ketika bumi berjalan di bawah petunjuk langit.
Ketika ilmu tidak tercerabut dari hikmah.
Ketika pasar tidak tercerabut dari moralitas.
Ketika kekuasaan tidak tercerabut dari amanah.
Ketika pembangunan tidak tercerabut dari tujuan penciptaan manusia.
Mungkin karena itulah persoalan terbesar bangsa ini bukan semata-mata memilih antara kapitalisme, sosialisme, atau ekonomi pasar Pancasila.
Persoalan yang lebih mendasar adalah:
Apakah kita masih memiliki kompas yang menunjukkan arah perjalanan itu?
Sebab kapal yang kehilangan kompas mungkin tetap bergerak.
Tetapi tidak pernah benar-benar sampai.
Dan peradaban yang kehilangan wahyu mungkin tetap maju.
Tetapi belum tentu menuju tujuan yang benar.
Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan sebuah bangsa bukan sekadar kekuatan ekonominya.
Melainkan kejernihan cara pandangnya.
Bukan sekadar pasar yang kuat.
Melainkan makna yang benar.
Bukan sekadar pembangunan yang tinggi.
Melainkan keberkahan yang menyertainya.
Dan keberkahan selalu lahir ketika bumi kembali mendengarkan langit.
Admin: Kominfo DDII Jatim
