QORUN: PELETAK DASAR OLIGARKI, KAPITALISME KRONI

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya —
Pendahuluan

Dalam Al-Qur’an, khususnya Surat Al-Qashash, selama ini, kerap dipahami sebatas narasi sejarah tentang perjuangan Nabi Musa melawan tirani Firaun. Di penghujung surat, muncul kisah Qarun yang umumnya diposisikan sebagai contoh individu kaya raya yang sombong dan kikir hingga akhirnya ditelan bumi.

Namun, sesungguhnya, terlalu sederhana. Jika Surat Al-Qashash dibaca secara struktural melalui pendekatan munasabah al-ayat (kesatuan antar ayat) serta ditelaah melalui perspektif sosiopolitik, maka Qarun bukan sekadar tokoh sampingan moralitas individual. Ia justru merupakan bagian inti dari sistem kekuasaan Mesir kuno: pilar finansial yang menopang rezim Firaun.

Dalam konteks ini, kisah Qarun tidak hanya berbicara tentang kekayaan pribadi, melainkan tentang bahaya aliansi antara kekuasaan politik, militer, dan kapital yang memanipulasi masyarakat demi mempertahankan status quo.

  1. Qarun Direduksi Menjadi Sekadar Orang Kaya Kikir

Dalam tafsir umumnya menggambarkan Qarun sebagai simbol kesombongan pribadi dan kekikiran sosial. Ia diposisikan seperti pengusaha sukses yang lupa diri karena hartanya.

Padahal Qarun hidup di bawah rezim totaliter Firaun, bukan dalam sistem pasar bebas modern. Sangat sulit membayangkan seseorang dapat menguasai kekayaan luar biasa tanpa keterlibatan struktural dengan pusat kekuasaan. Kekayaannya kemungkinan besar bukan hasil mekanisme ekonomi sehat, melainkan hasil kedekatan politik dengan rezim.

Dengan kata lain, Qarun lebih tepat dipahami sebagai oligark atau kapitalis kroni yang memperoleh privilese ekonomi dari penguasa.

  1. Pembacaan Atomistik yang Memisahkan Fragmen Cerita

Banyak pembacaan Al-Qashash memisahkan kisah Musa muda di awal surat dengan kisah Qarun di akhir surat, seolah keduanya tidak memiliki hubungan struktural.

Padahal jika dibaca sebagai satu kesatuan, terdapat benang merah yang kuat: konflik sosial di awal surat membuka jalan bagi lahirnya oligarki ekonomi di akhir surat.

Kisah Musa yang terlibat konflik hingga harus meninggalkan Mesir bukan sekadar insiden personal, melainkan bagian dari dinamika politik yang lebih besar. Dalam konteks ini, Qarun dapat dipahami sebagai aktor yang diuntungkan dari kekacauan sosial tersebut.

  1. Mistifikasi “Ilmu” Qarun

Sebagian riwayat klasik menjelaskan bahwa Qarun memiliki “ilmu kimia” atau kemampuan mistis mengubah logam menjadi emas. Tafsir seperti ini membuat kisah Qarun kehilangan relevansi sosialnya.

Padahal kalimat:

Innamā ūtītuhu ‘alā ‘ilmin

lebih masuk akal dipahami sebagai simbol kelihaian politik dan kemampuan memainkan sistem kekuasaan.

“Ilmu” Qarun bukan sihir, melainkan kemampuan membangun jaringan, memanfaatkan konflik, melakukan rekayasa sosial, dan menempatkan diri dekat dengan pusat kekuasaan.

Kekuasaan Mesir Kuno

Dalam beberapa ayat lain, nama Qarun selalu disejajarkan dengan Firaun dan Haman. Penyebutan kolektif ini menunjukkan adanya tiga pilar utama kekuasaan:

Firaun simbol kekuasaan politik dan militer.

Haman simbol teknokrat dan birokrasi negara.

Qarun simbol kekuatan modal dan finansial.

Model seperti ini, sangat mirip dengan struktur oligarki modern, di mana negara, birokrasi, dan pemilik modal saling menopang demi mempertahankan dominasi kekuasaan

Kekayaan Qarun yang sangat besar bukanlah tanda keberhasilan ekonomi murni, tetapi manifestasi dari crony capitalism — kapitalisme kroni yang tumbuh karena kedekatan dengan kekuasaan.

Anatomi Konflik dan Politik Pecah Belah

Pada awal Surat Al-Qashash digambarkan adanya ketegangan sosial antara kelompok masyarakat Mesir dan Bani Israil. Situasi ini menciptakan konflik horizontal yang membuat Musa muda akhirnya terusir dari Mesir.

Dalam pembacaan struktural, konflik semacam ini tidak muncul secara spontan. Selalu ada pihak yang diuntungkan ketika masyarakat bawah saling bertikai.

Di sinilah Qarun dapat dipahami sebagai “agen ganda”: berasal dari Bani Israil tetapi berpihak pada sistem Firaun. Ia diuntungkan jika rakyat tetap lemah, terpecah, dan sibuk bertikai.

Strategi seperti ini dalam politik modern dikenal sebagai:

  • divide et impera,
  • politik identitas,
  • atau politik pecah belah.

Ketika masyarakat terus terlibat konflik horizontal, oligarki ekonomi akan semakin mudah mengendalikan sistem.

Perang Narasi dan Hegemoni Psikologis

Klimaks kekuasaan Qarun terjadi ketika ia mempertontonkan kemegahan dan kekayaannya di depan publik.

Narasi yang ia bangun sangat khas oligarki:

“Aku kaya karena kecerdasan dan ilmuku sendiri.”

Narasi ini menciptakan ilusi meritokrasi: seolah seluruh kekayaan diperoleh murni karena kemampuan pribadi, bukan karena privilese kekuasaan.

Akibatnya masyarakat mengalami inferiority complex. Mereka mulai mengagumi simbol-simbol kemewahan dan lupa bahwa kekayaan tersebut dibangun di atas penderitaan rakyat.

Di sinilah muncul kelompok ulul ‘ilmi — kalangan intelektual yang melakukan perlawanan narasi. Mereka menyerukan “sabar”, yang dalam konteks sosial-politik dapat dimaknai sebagai keteguhan ideologis agar masyarakat tidak larut dalam propaganda kapitalisme kroni.

Kejatuhan Qarun sebagai Revolusi Struktural

Penenggelaman Qarun bukan hanya hukuman individual, tetapi simbol runtuhnya fondasi ekonomi rezim.

Jika Firaun mewakili kekuasaan politik, maka Qarun adalah mesin finansialnya. Tanpa menghancurkan oligarki ekonomi, revolusi sosial tidak akan pernah sempurna.

Kehancuran Qarun menghasilkan dua dampak besar:

  1. Lumpuhnya logistik rezim
    Sistem keuangan, distribusi modal, dan jaringan ekonomi penindasan runtuh.
  2. Revolusi mental masyarakat
    Publik menyadari bahwa kekuatan oligarki ternyata rapuh dan manipulatif.

Masyarakat yang sebelumnya silau oleh kemewahan akhirnya sadar bahwa seluruh narasi kesuksesan Qarun hanyalah konstruksi kekuasaan.

Sindrom Qarun dalam Dunia Modern

Kisah Qarun sesungguhnya bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah pola sejarah yang terus berulang.

“Sindrom Qarun” muncul ketika:

  • Pengusaha besar bersekutu dengan penguasa,
  • Konflik sosial dipelihara demi kepentingan elite,
  • Media dan propaganda membangun kultus kekayaan, dan
  • Masyarakat dibuat kagum pada simbol kemewahan tanpa memahami struktur penindasan di baliknya.

Karena itu, Surat Al-Qashash dapat dibaca sebagai kritik tajam terhadap oligarki dan kapitalisme kroni yang mengorbankan rakyat demi kelanggengan kekuasaan.

Akhiru Al Kalam

Melalui pembacaan struktural dan sosiopolitik, Qarun tidak lagi dipahami hanya sebagai individu pelit yang sombong. Ia adalah simbol dari aliansi berbahaya antara kekuasaan politik, birokrasi, dan kapital.

Kisah ini menunjukkan bahwa perubahan peradaban tidak cukup hanya mengganti penguasa politik. Fondasi ekonomi dan struktur oligarki yang menopang penindasan juga harus dibongkar.

Dengan demikian, Qorun bukan hanya kisah sejarah, melainkan refleksi abadi tentang bagaimana kekuasaan, modal, dan manipulasi sosial dapat bersatu membentuk sistem tirani yang terus berulang dalam setiap zaman.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *