Dari Pasal 33 UUD 1945 menuju Worldview Wahyu dalam Kepemimpinan Bangsa
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Tulisan Dahlan Iskan tentang langkah besar Prabowo Subianto sesungguhnya membuka satu pertanyaan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar tata kelola sawit, batu bara, ataupun arah ekonomi nasional. Pertanyaan itu adalah: mengapa negeri yang kaya sumber daya justru terus menghadapi kebocoran amanah, oligarki, dan ketimpangan sosial?
Jawaban paling mendasar dari problem itu bukan sekadar lemahnya regulasi, tetapi krisis epistemologi manusia dalam memandang kekuasaan dan harta. Sebab sistem sehebat apa pun akan rusak ketika manusia yang mengelolanya tidak memiliki worldview wahyu. Inilah mengapa Al-Qur’an sejak awal membangun peradaban bukan pertama-tama dengan instrumen ekonomi, melainkan dengan pembentukan manusia berkesadaran tauhid.
Dalam perspektif Iqra’ sebagai Epistemologi Esensial Manusia, problem bangsa ini sesungguhnya adalah problem cara membaca kehidupan. Ketika jabatan dibaca sebagai fasilitas memperkaya keluarga dan kroni, maka kekuasaan berubah menjadi alat oligarki. Namun ketika jabatan dibaca sebagai amanah Allah, maka kekuasaan menjadi sarana pengabdian kepada rakyat.
Al-Qur’an menanamkan kesadaran:
“Innallaha ya’murukum an tu-addul amaanaati ilaa ahlihaa” “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak.” (QS. An-Nisa’: 58)
Ayat ini bukan sekadar ajaran moral individual, tetapi fondasi epistemologi politik Qurani. Bahwa kekuasaan bukan hak milik pribadi, bukan alat dinasti, dan bukan instrumen memperbesar jaringan kepentingan. Kekuasaan adalah amanah transendental yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Karena itu dalam worldview Qurani, negara ideal tidak hanya membutuhkan sistem yang kuat, tetapi manusia yang memiliki kesadaran ilahiah. Sebab kehancuran bangsa sering kali bukan dimulai dari lemahnya konstitusi, melainkan dari matinya amanah dalam jiwa pejabat negara.
Bangsa ini sebenarnya pernah memiliki potret manusia-manusia Qurani dalam sejarah politiknya. Tokoh-tokoh Partai Masyumi adalah contoh bagaimana worldview wahyu mampu melahirkan negarawan yang berpikir melampaui kepentingan diri dan kelompoknya.
Mohammad Natsir misalnya, ketika menjadi Perdana Menteri tetap hidup sederhana hingga dikenal memakai jas bertambal. Bahkan beliau tidak mau menjadikan fasilitas negara sebagai simbol kemewahan pribadi. Saat berangkat dan pulang dari kantor, beliau memilih naik bus umum daripada menggunakan kendaraan dinas berpelat negara untuk kepentingan pribadinya. Dalam worldview modern, hal seperti ini mungkin dianggap sederhana dan tidak penting. Namun dalam epistemologi Qurani, itulah tanda hidupnya kesadaran amanah.
M. Natsir memahami bahwa jabatan bukan sarana memuliakan diri, tetapi tanggung jawab yang kelak dihisab di hadapan Allah. Karena itu beliau tidak membangun jarak psikologis dengan rakyat melalui kemewahan kekuasaan. Kesederhanaan beliau bukan pencitraan politik, tetapi buah dari worldview tauhid yang membentuk cara pandang terhadap dunia.
Lebih dari itu, M. Natsir menunjukkan bagaimana pemimpin Qurani berpikir tentang persatuan bangsa, bukan sekadar kepentingan politik sesaat. Melalui Mosi Integral, beliau menggagas lahirnya kembali NKRI di tengah ancaman perpecahan federalisme. Dalam konteks epistemologi Qurani, ini menunjukkan bahwa manusia bertauhid tidak berpikir sempit untuk golongan dan kroninya, tetapi berpikir untuk kemaslahatan umat dan bangsa secara luas.
Begitu pula Yusuf Wibisono. Saat menjabat Menteri Keuangan, beliau pernah mendapat tawaran proyek dari Jepang dengan iming-iming keuntungan pribadi yang besar. Namun beliau menolaknya. Di tengah dunia politik yang sering tunduk pada transaksi kepentingan dan permainan ekonomi global, beliau menunjukkan bahwa manusia yang memiliki worldview wahyu tidak mudah dibeli oleh materi. Sebab dalam epistemologi tauhid, nilai manusia tidak diukur dari seberapa besar kekayaan yang berhasil dikumpulkan, tetapi dari seberapa besar amanah yang berhasil dijaga.
Demikian pula Kasman Singodimedjo. Setelah pensiun dari jabatan tinggi kehakiman, beliau tidak membangun jaringan oligarki, tidak memanfaatkan bekas kekuasaan untuk memperkaya keluarga, bahkan hidup sederhana hingga menjadi penjual keliling. Ini bukan karena beliau gagal secara sosial, tetapi karena worldview Qurani telah membentuk kesadaran bahwa kemuliaan hidup tidak ditentukan oleh fasilitas duniawi.
Di sinilah letak pentingnya Tauhid sebagai Epistemologi Ayat-ayat Kehidupan. Tauhid bukan hanya pembahasan akidah di mimbar-mimbar, tetapi fondasi cara berpikir manusia dalam mengelola kekuasaan, uang negara, dan kepentingan publik. Ketika tauhid hilang dari kesadaran pejabat, maka negara berubah menjadi alat perebutan sumber daya. Jabatan diwariskan kepada kroni. Kebijakan dibuat demi kelompok. Proyek negara menjadi bancakan elite.
Sebaliknya, ketika worldview wahyu hidup dalam diri seorang pemimpin, maka lahirlah keberanian moral untuk mendahulukan rakyat daripada keluarga sendiri. Sebab ia sadar bahwa seluruh kekuasaan hanyalah titipan sementara.
Allah berfirman:
“Tilkad-daarul aakhiratu naj’aluhaa lilladziina laa yuriiduuna ‘uluwwan fil ardhi wa laa fasaadaa” “Negeri akhirat itu Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan tidak membuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qashash: 83)
Ayat ini menunjukkan bahwa inti kepemimpinan Qurani bukan dominasi, tetapi pengabdian. Bukan kerakusan, tetapi amanah.
Karena itu solusi terbesar bangsa ini sesungguhnya bukan hanya pergantian rezim, pergantian sistem, ataupun pergantian undang-undang, tetapi lahirnya manusia-manusia yang memiliki epistemologi Qurani. Manusia yang membaca jabatan sebagai amanah, membaca kekayaan sebagai titipan, dan membaca negara sebagai ladang pengabdian kepada Allah.
Inilah yang dahulu melahirkan generasi negarawan sederhana tetapi berjiwa besar. Mereka mungkin tidak sekaya oligarki modern, tetapi sejarah mencatat mereka dengan kemuliaan. Sebab worldview wahyu telah menjadikan mereka pemimpin yang takut mengkhianati rakyatnya lebih daripada takut kehilangan kekuasaan.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
