Amanah: Kunci Kokohnya Peradaban

Oleh Dr. Slamet Muliono Redjosari, Ketua Bidang MPK Dewan Da’wah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Siurabaya – Amanah merupakan konsep penting dalam menentukan kokohnya peradaban suatu bangsa. Artinya, ketika amanah dijalankan dengan baik oleh para elite negara, maka kokoh peradabannya. Sebaliknya ketiadaan amanah akan meruntuhkan negara dan peradabannya. Orientasi pada akherat menjadi penopang utama eksistensi amanah. Para sahabat Nabi merupakan contoh terbaik komunitas yang dalam memegang amanah. Dengan orientasi akherat, mereka tidak menyalahgunakan amanah sehingga peradabannya kokoh dan menjadi rujukan masyarakat berperadaban tinggi.

Pengkhianatan Amanah

Hilang sifat amanah telah menjadi penanda sejarah runtuhnya suatu negeri. Runtuh dan bangkitnya suatu negeri sangat ditentukan sejauh mana memegang teguh amanah. Para sahabat dibimbing nabi sehingga muncul manusia amanah dengan peradaban yang agung, dan dikenang sejarah. Sepeninggal para sahabat, muncul pemimpin yang menyia-nyiakan amanah. Mereka bermain-main dan menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri dan keluarga mereka.

Bentuk penyimpangan seperti korupsi, jabatan untuk memperkaya diri, dan hilangnya rasa keadilan. Dalam melakukan transaksi perdagangan, praktek mengurangi takaran telah menjadi kebiasaan. Kebiasaan buruk inilah yang mengundang adzab generasi kaum Nabi Syuaib sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an :

وَاِ لٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَا لَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَا لَ وَا لْمِيْزَا نِ ۗ اِنِّيْۤ اَرَا كُمْ بِخَيْرٍ وَّاِ نِّيْۤ اَخَا فُ عَلَيْكُمْ عَذَا بَ يَوْمٍ مُّحِيْطٍ
“Dan kepada penduduk Madyan, Kami (mengutus) saudara mereka, Syu’aib. Dia berkata, Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu mengurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (harta benda), dan sesungguhnya aku mengkhawatirkan kamu akan azab pada hari yang melingkupi (hari kiamat).” (QS. Hud: 84)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah memberikan amanah kepada orang kaya untuk melakukan transaksi jual beli dengan jujur sesuai dengan takaran. Mereka hidup mapan dengan mengurangi timbangan, sehingga hal ini menjadi kebiasaan yang membudaya. Allah pun mengutus Nabi Syu’aib untuk memperingatkan bahaya dengan adzab yang menghinakan. Namun hal ini tidak mampu mengubah kebiasaan buruk itu. Bahkan mereka mendustakan dan memusuhi anjuran nabi mereka.

Konsekuensi Pengkhianatan Amanah

Pengkhianatan amanah dapat menyebabkan konsekuensi yang sangat berat, baik di dunia maupun di akhirat. Al-Qur’an menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Mereka merasa berat menanggungnya, sehingga tawaran itu ditolak. Namun ketika hal itu ditawarkan kepada manusia, maka dengan serta mereka manusia menerimanya. Kebodohan menjadi akar kesalahan manusia ketika menerima amanah. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَ مَا نَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا لْجِبَا لِ فَا بَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَ شْفَقْنَ مِنْهَا وَ حَمَلَهَا الْاِ نْسَا نُ ۗ اِنَّهُ كَا نَ ظَلُوْمًا جَهُوْ لًا
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi mereka enggan untuk memikulnya dan mereka khawatir tidak dapat melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)

Ayat ini menjelaskan bahwa amanah adalah tanggung jawab yang sangat berat,. Namun manusia telah menerima amanah itu dengan senang hati, hingga tidak mampu melaksanakannya dengan baik.

Amanah merupakan kunci kesuksesan sekaligus menjadi akar penyebab keruntuhan suatu negara. Jika amanah dijalankan dengan baik, maka negara akan makmur dan sejahtera. Namun, jika amanah disalahgunakan atau diabaikan, maka negara akan hancur dan rakyat akan menderita. Salah satu bentuk amanah ketika memutuskan perkara dalam persengketaan dengan menetapkan hukum secara adil. Keadilan ditandai dengan menempatkan orang-orang ayng memutuskan perkara dengan sifat amanah. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَ مٰنٰتِ اِلٰۤى اَهْلِهَا ۙ وَاِ ذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّا سِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِا لْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا
“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 58)

Hilangnya rasa keadilan disebabkan oleh karena para pengemban amanah telah menyalahgunakan dan menyimpangkan amanah yang dipercayakan kepadanya. Ketika seorang pemimpin tidak amanah, maka akan memilih orang-orang yang mudah berkhianat, maka berkumpullah para pengkhianat. Ketika hal ini mengalami pembiaran, maka keruntuhan negara hanya menunggu waktu.
Fir’aun merupakan contoh manusia nir-amanah. Kekuasaannya dikelilingi oleh para elite seperti Hamman dan Qarun. Dua manusia buruk ini bukan hanya tak mampu mengingatkan kesalahan Fir’aun, tetapi justru memanfaatkan situasi itu untuk mendapatkan keuntungan materi. Sebagai penasehat politik, Hamman senantiasa membenarkan Fir’aun dalam memusuhi Nabi Musa. Sebagai kongkomerat, Qarun memanfaatkan Fir’aun untuk memperkaya diri.


Tiga kawanan yang mabuk kekuasaan bukan hanya menyia-nyiakan amanah, dengan menolak peringatan yang disampaikan Nabi Musa. Bahkan mereka bertiga ingin meneggelamkan ajaran Nabi Musa beserta risalah yang dibawanya. Akibat yang ditanggung pun jelas. Allah membelah bumi dan menenggelamkan seluruh kekayaan Qarun. Fir’aun dan bala tentaranya pun ditenggelamkan di laut. Hal ini terjadi karena mereka tidak mungkin lagi dikasih amanah.

Surabaya, 11 Mei 2026

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *