Merengkuh Hikmah di Kala Bersedih: Lepas dari Luka, Bangkit dari Duka

Oleh: Suharsono, Pengurus Dewan Da’wah Kota Pasuruan

Dewandakwahjatim.com, Pasuruan — Suasana sejuk dan khidmat menyelimuti ruang induk Masjid Al Kautsar di Jl. Ir. Djuanda, Pasuruan, pada Ahad subuh (10/5/2026). Jemaah yang hadir larut dalam perenungan mendalam saat Ustaz Nur Adi Septyanto, S.Ag., menyampaikan kajian Sirah Nabawiyah yang mengusung tema menggugah: “Hikmah Bersedih, Lepas dari Luka Jatuh Berduka”.

Kajian dibuka dengan sebuah muqaddimah yang menampar kesadaran. Ustaz Nur Adi mengingatkan jemaah pada dua kenikmatan agung dari Allah SWT yang justru paling sering diabaikan oleh manusia, yakni nikmat sehat dan waktu luang.

“Alhamdulillah, hati kita harus senantiasa rida dengan apa pun yang dianugerahkan Allah. Wujud syukur yang sejati adalah mendayagunakan nikmat tersebut untuk beramal saleh sesuai petunjuk-Nya,” tuturnya mengawali ceramah.

Beliau menekankan pentingnya menjaga husnudzon (prasangka baik) kepada Sang Khaliq dalam kondisi apa pun. Bahkan dalam hal terkecil seperti tertusuk duri sekalipun, jika dihadapi dengan rida, Allah akan menjadikannya sebagai penggugur dosa-dosa.

Fase Tahun Kesedihan (Amul Huzni)

Memasuki materi inti Sirah Nabawiyah, Ustaz Nur Adi membawa jemaah menelusuri salah satu fase paling berat dan emosional dalam hidup Rasulullah SAW. Tepat setelah masa pemboikotan ekonomi dan sosial yang menyengsarakan kaum muslimin berakhir, Rasulullah SAW harus menghadapi musibah beruntun.

Beliau ditinggal wafat oleh dua pilar penyanggah utamanya: sang istri tercinta, Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu ‘anha, dan disusul oleh sang paman yang selama ini menjadi pelindung badannya, Abu Thalib. Namun, di balik duka yang begitu mendalam, ada kehendak Allah yang agung untuk meningkatkan derajat keimanan Rasulullah dan kaum muslimin.

Dalam kondisi berduka dan ruang gerak dakwah yang semakin sempit di Makkah, Rasulullah SAW berikhtiar menuju Thaif. Harapannya, ada penerimaan dari kabilah di sana. Namun, realitas berkata lain. Bani Thaqif merespons dakwah beliau dengan penolakan yang kejam; Rasulullah diusir dan dilempari batu hingga kedua kaki beliau berdarah.

Di sinilah letak puncak ketabahan dan visi kenabian. Ketika ditawari untuk membinasakan penduduk Thaif, Rasulullah SAW justru menolak untuk balas dendam. Dengan pandangan yang visioner dan hati yang penuh rahmat, beliau justru berdoa, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.

Mudah-mudahan kelak lahir dari anak keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah.

“Sikap Rasulullah ini adalah cerminan dari hikmah Ilahiah. Sungguh, Allah sangat mencintai orang-orang yang bertakwa yang mampu menahan amarahnya,” jelas Ustaz Nur Adi.

Memutus Sandaran pada Makhluk
Dari peristiwa Thaif, kajian menarik benang merah pada kehidupan sehari-hari. Ustaz Nur Adi menjelaskan rumusan penting tentang ujian dan ikhtiar. Ketika kita mengalami sakit atau musibah, kita memang diwajibkan untuk berikhtiar—seperti berobat atau mencari solusi. Namun, ada satu syarat mutlak: kita harus memutus ketergantungan hati kepada makhluk.

“Ikhtiar itu wajib, tetapi sandaran hati hanya boleh kepada Allah saja. Bertubi-tubinya ujian yang datang bukan berarti Allah benci atau tidak sayang. Sebaliknya, itulah cara Allah mencintai hamba-Nya untuk meninggikan derajatnya,” tegasnya.

Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga kemurnian niat (tauhid). Seluruh amal kebaikan kita bisa lenyap tanpa sisa jika kita menyekutukan Allah. Oleh karena itu, menata dan membenahi niat semata-mata hanya karena Allah adalah sebuah keharusan. Allah akan benar-benar menganugerahi kecukupan bagi hamba-hamba-Nya yang setia menjaga takwa.

Fajar Baru dari Yatsrib
Janji Allah bahwa “bersama kesulitan ada kemudahan” pun terbukti indah dalam lembaran sejarah. Setelah penolakan menyakitkan dari Bani Thaqif di Thaif, Allah mempertemukan hati Rasulullah dengan ilmu dan hikmah melalui kehadiran sekitar 7 hingga 10 orang penduduk Yatsrib (Madinah).

Mereka yang sebelumnya telah mendengar kabar tentang kerasulan Nabi Muhammad SAW dari kaum Yahudi di Yatsrib, akhirnya menerima dakwah tersebut. Pertemuan ini menjadi embrio dari peristiwa besar Bai’at Aqabah Pertama, yang kelak mengubah peta sejarah Islam. Melalui penolakan di Thaif, Allah ternyata telah menyiapkan pengikut yang sangat setia dari Yatsrib.

Sebagai penutup kajian subuh yang berkesan ini, Ustaz Nur Adi Septyanto meninggalkan pesan spiritual yang mendalam bagi para jemaah Masjid Al Kautsar.

“Janganlah kita mati sebelum memiliki prasangka yang baik kepada Allah. Kita harus rida terhadap kehendak-Nya, niscaya kita akan dijadikan orang-orang yang berkecukupan.

Biarlah kita tidak terkenal di dunia, asalkan nama kita viral dan harum di langit,” pungkasnya, menutup perjumpaan subuh dengan ketenangan di hati para jemaah.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *