Oleh Kemas Adil Mastjik, Wakil Ketua Bidang Pendidikan Dewan Dakwah Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Beberapa peristiwa kontemporer—baik di tingkat global maupun nasional—sering dijadikan contoh bahwa kepemimpinan hari ini kerap diwarnai ego, pencitraan, dan kepentingan pribadi dibanding keteladanan moral serta pengabdian rakyat, misalnya:
- Konflik Israel–Palestina–banyak pemimpin dunia lebih sibuk menjaga citra politik dan kepentingan ekonomi daripada menghentikan tragedi kemanusiaan. Diplomasi sering kalah oleh kepentingan geopolitik, senjata, dan pengaruh kekuasaan.
- Donald Trump dan polarisasi politik Amerika–budaya politik modern sering berubah menjadi panggung pencitraan media, perang opini, dan perebutan popularitas. Banyak keputusan dipandang lebih berorientasi elektoral daripada persatuan bangsa.
- Fenomena Politik Dinasti–di berbagai negara, termasuk Indonesia, muncul kecenderungan kekuasaan diwariskan kepada keluarga atau lingkaran dekat. Meritokrasi kadang kalah oleh kepentingan mempertahankan pengaruh.
- Fenomena Flexing Pejabat–media sosial memperlihatkan sebagian elite lebih sibuk membangun citra kemewahan dibanding menunjukkan kesederhanaan dan empati kepada rakyat kecil.
- Politik Pencitraan Media Sosial–banyak pemimpin lebih fokus pada konten viral, pencitraan visual, dan popularitas digital daripada kerja nyata yang berdampak jangka panjang.
Di tengah dunia modern yang dipenuhi persaingan, konflik, dan saling menjatuhkan, keteladanan Rasulullah ﷺ menjadi sangat penting.
Strategi Membangun Peradaban
Peristiwa Fathu Makkah merupakan salah satu momentum terbesar dalam sejarah Islam. Banyak orang memandangnya sekadar kemenangan militer kaum Muslimin atas Quraisy. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, Fathu Makkah adalah kemenangan strategi, akhlak, dan kepemimpinan visioner yang dibangun melalui proses panjang serta perencanaan matang.
Di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad ﷺ, kemenangan itu tidak lahir secara mendadak. Walaupun peristiwa Fathu Makkah terjadi pada bulan Ramadhan tahun 8 Hijriyah, persiapannya telah dimulai jauh sebelumnya, bahkan sejak bulan Dzulqa’dah setelah terjadinya Perjanjian Hudaibiyah. Rasulullah ﷺ memahami bahwa perubahan besar tidak dapat dibangun hanya dengan semangat, tetapi membutuhkan strategi yang terukur dan kesabaran yang panjang.
Perjanjian Hudaibiyah pada awalnya dianggap sebagian sahabat sebagai kesepakatan yang merugikan umat Islam. Namun Rasulullah ﷺ melihat lebih jauh dari sekadar situasi sesaat. Beliau memahami bahwa suasana damai akan membuka ruang dakwah yang lebih luas. Ternyata benar, dalam masa damai tersebut, jumlah orang yang masuk Islam meningkat pesat. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan visioner selalu mampu melihat peluang di balik kesulitan.
Dari sinilah kita belajar bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh kekuatan fisik atau konfrontasi terbuka. Strategi yang rapi dan kemampuan membaca keadaan sering kali jauh lebih menentukan. Rasulullah ﷺ tidak tergesa-gesa menghadapi Quraisy. Ketika terjadi pelanggaran perjanjian oleh sekutu Quraisy, beliau menyusun langkah dengan sangat hati-hati: menjaga kerahasiaan pergerakan pasukan, menghindari provokasi, dan memastikan kemenangan dicapai dengan minim pertumpahan darah.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…”
(QS. Al-Anfal: 60)
Ayat ini menegaskan pentingnya persiapan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Persiapan bukan tanda lemahnya tawakal, tetapi bagian dari bentuk ketaatan kepada Allah. Rasulullah ﷺ sendiri memberikan teladan bahwa tawakal harus berjalan bersama ikhtiar yang matang.
Kesabaran dan Perencanaan
Dalam konteks kehidupan modern, pelajaran Fathu Makkah sangat relevan. Banyak organisasi, lembaga pendidikan, bahkan gerakan dakwah gagal berkembang karena hanya mengandalkan semangat tanpa strategi. Ada pula yang memiliki sumber daya besar tetapi kehilangan arah karena lemahnya visi kepemimpinan. Akibatnya, potensi umat tidak berkembang maksimal.
Fathu Makkah mengajarkan bahwa membangun peradaban memerlukan tiga hal utama: visi yang jelas, strategi yang matang, dan akhlak yang mulia. Rasulullah ﷺ tidak hanya memikirkan kemenangan sesaat, tetapi perubahan jangka panjang. Ketika berhasil memasuki Makkah, beliau justru memberikan pengampunan kepada orang-orang yang dahulu menyiksa dan mengusir beliau.
Beliau bersabda kepada penduduk Makkah:
“Pergilah kalian, karena kalian bebas.”
Kalimat singkat itu menjadi bukti bahwa tujuan dakwah bukan balas dendam, melainkan menyelamatkan manusia. Sikap pemaaf Rasulullah ﷺ justru meluluhkan hati masyarakat Makkah hingga mereka berbondong-bondong masuk Islam.
Fathu Makkah juga memberi pelajaran bahwa kemenangan besar sering kali lahir dari kesabaran panjang. Rasulullah ﷺ dan para sahabat mengalami penghinaan, pemboikotan, pengusiran, bahkan peperangan bertahun-tahun. Namun mereka tidak menyerah. Dengan kesabaran dan perencanaan, Allah akhirnya memberikan kemenangan yang mengubah arah sejarah dunia.
Karena itu, umat Islam hari ini perlu membangun kembali budaya berpikir strategis dalam dakwah, pendidikan, ekonomi, dan sosial. Semangat saja tidak cukup. Diperlukan ilmu, kesabaran, persatuan, dan kepemimpinan visioner sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ. Pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menghadirkan ketenangan, menyusun arah perubahan, serta mempersatukan manusia dengan akhlak yang luhur.
Fathu Makkah bukan hanya kisah sejarah, tetapi pelajaran abadi bahwa perubahan besar dapat diraih ketika iman bertemu dengan strategi, dan kekuatan dipadukan dengan akhlak mulia. Wallahu a’lam.
Rewwin, 10 Mei 2026.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
