Oleh Sudono Syueb, Pengurus DDII Jatim Bidang Kominfo
Dewandakwahjatim.
com, Surabaya – Manusia yang paling tinggi kedudukannya
Menurut lmam Syafi’i, adalah mereka yang tidak pernah mengangga kedudukan soaial, titel pendidikan dan jabatan sebagai variable derajat kehidupan duniawi.
Imam Syafi’i berkata:
أرفع الناس قدرًا من لا يرى قدره، وأكثرهم فضلاً من لا يرى فضله, واحب الناس الى الله انفعهم لخلقه.
Manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukannya. Dan manusia yang paling banyak kemuliaannya adalah mereka yang tidak melihat kemuliaannya sendiri, Dan manusia yang paling dicintau Allah adalah yang paling bermanfaat bagi makhluk Allah lainnya
Ungkapan masyhur ini dinisbatkan kepada Imam Asy-Syafi’i rahimahullah.
Kata-kata ini mencerminkan nilai tawadhu’ dan merendahkan diri, di mana Imam Asy-Syafi’i berpandangan bahwa orang yang tidak silau dengan kedudukannya dan tidak berusaha menonjolkan derajatnya di hadapan manusia, justru dialah yang paling tinggi kedudukan dan derajatnya di sisi Allah dan di hati makhluk.
Pelajaran yang dapat diambil:
- Menghilangkan keakuan: Semakin bertambah ilmu dan keutamaan seseorang, semakin bertambah pula tawadhu’nya dan ia yakin bahwa nikmat yang ada padanya semata-mata karunia dari Allah.
- Keluhuran sejati: Keluhuran yang hakiki bukan pada ketenaran atau berbangga diri, melainkan pada penerimaan dan cinta yang Allah tanamkan untuk orang-orang yang tawadhu’.
- Keselamatan hati: Orang yang tidak merasa dirinya punya kedudukan akan selamat dari penyakit-penyakit hati seperti sombong, angkuh, dan ‘ujub.(Sudono Syueb)
Rasulullah SAW berdabda:
(خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ)
Artinya “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR Ath-Thabrani)
Makna dan Implementasi:
- Prioritas Kebaikan: Standar kemuliaan dalam Islam bukan berdasarkan harta atau jabatan, melainkan seberapa besar manfaat yang diberikan kepada orang lain.
- Manfaat Luas: Manfaat tidak terbatas pada materi, tetapi juga ilmu, tenaga, tenaga pikiran, dan akhlak yang baik kepada tetangga dan masyarakat.
- Tulus (Lillahi Ta’ala): Kebaikan yang dilakukan harus ikhlas untuk mendapatkan ridho Allah, bukan untuk kesombongan.
Hadits ini menjadi motivasi untuk selalu menjadi orang yang produktif dalam kebaikan dan tidak merugikan orang lain.
Sumber: Maktabah syamilah dll
Admin: Kominfo DDII Jatim
