AMANAH MULYA SEORANG ISTRI

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dalam membina rumah tangga bersama para istrinya, Rasulullah Saw menekankan kasih sayang, keromantisan, dan kemesraan, sebagaimana diriwayatkan dari Sayidah Aisyah, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku” (HR At-Tirmidzi)

Beliau menyampaikan bahwa sejatinya suami harus selalu memperlakukan istrinya dengan kemuliaan.

Hal ini, karena istri memegang peran yang besar untuk membangun sebuah rumah tangga. Bukan hanya mengurus suami, istri juga bertugas untuk mendidik anak-anaknya.

Maka dari itu, memuliakan istri dalam islam menjadi pertanda kesempurnaan pribadi dari seorang suami.

Sesuai yang disampaikan Rasulullah SAW dalam sebuah hadist yang disahihkan oleh Syaihkh Al-Albani:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku” (HR At-Thirmidzi no. 3895 dari hadits Aisyah dan Ibnu Majah no. 1977. Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Teladan Rasulullah Saw dalam memperlakukan para istrinya bermula dari hal sederhana namun bertabur pesan cinta. Diantaranya: pertama, membantu pekerjaan rumah tangga. Sejatinya Pekerjaan rumah merupakan tugas istri, serta merupakan kemuliaan bagi istri yang telah menunaikannya dengan baik, sebagaimana dicontohkan oleh para istri Rasulullah Saw dan putri Rasulullah Saw dalam melayani sang suami. Hal ini mengingat beban tugas sang suami sangatlah berat, mencari nafkah maupun berjuang fisabilillah.

Membantu Pekerjaan istri

Merupakan kebiasaan dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membantu pekerjaan istrinya di rumah.

‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam dalam kesibukan membantu istrinya, dan jika tiba waktu sholat maka beliaupun pergi shalat” (HR Bukhari).

Ini merupakan sifat tawaadhu’ (rendah hati) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencontohkannya pada manusia, padahal beliau adalah seorang pimpinan dan qadhi tertinggi kaum muslimin. Bisa jadi ada suami yang merasa diri menjadi rendah jika melakukan perbuatan dan pekerjaan rumah tangga karena ia adalah orang besar dan berkedudukan bahkan di tempat kerjanya.

Dari al-Qasim dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia (al-Qasim) berkata, “‘Aisyah pernah ditanya, apa yang dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah beliau?” Dia menjawab:

كَانَ بَشَرًا مِنَ الْبَشَرِ، يَفْلِي ثَوْبَهُ وَيَحْلُبُ شَاتَهُ وَيَخْدُمُ نَفْسَهُ.

‘Beliau sama seperti manusia lainnya, mencuci baju, memerah susu kambingnya, dan melayani dirinya sendiri.” [HR. Ahmad dengan sanad yang shahih].

Dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwasanya dia pernah ditanya, “Apa yang biasa dikerjakan oleh Rasulullah di dalam rumah beliau?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau pernah menjahit bajunya, menambal sandalnya, dan mengerjakan apa yang biasa dikerjakan kaum laki-laki di rumah mereka.” [HR. Ahmad dengan sanad yang shahih].

Dari dalil diatas Rasûlullâh mengerjakan pekerjaan rumah sifatnya membantu, istrinya

Para Istri Salihah, menjadi istri memang bukanlah tugas dan tanggung jawab yang ringan. Melaksanakannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan pemahaman yang benar terkait hak dan kewajibannya, termasuk kesiapan mental dan pemahaman Islam yang benar ketika ujian dan rintangan muncul silih berganti. Bahkan terkadang, rasa letih dan bosan datang mendera. Tentu ini semua harus dihadapi dengan ikhlas dan penuh kesungguhan. Dengan demikian, apa pun yang kita lakukan akan memberikan kebaikan dan keberkahan bagi kita dan keluarga, serta berbuah pahala.

Tersenyumlah

Oleh karenanya, seberat apa pun tugas dan tanggung jawabnya, bila kita lakukan penuh keikhlasan, kegembiraan dan harapan, serta menyambutnya dengan senyuman, niscaya tugas yang berat akan terasa ringan. Lebih dari itu, dengan keikhlasan hati, semua jerih payah dan setiap tetesan keringat akan bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala. Inilah keberuntungan di atas keberuntungan. Jika kita melaksanakan tanggung jawab ini dengan sebaik-baiknya, niscaya suami akan merasa senang dan semakin cinta kepada kita. Anak-anak pun akan semakin menyayangi kita. Tentu semua ini akan menghadirkan kebahagiaan bagi kita dan keluarga di dunia. Di akhirat kelak, kita akan mendapat keberuntungan yang jauh lebih besar. Allah akan membalas segala usaha kita dengan balasan terbaik, yaitu surga.

Rasulullah saw. pernah berpesan kepada putrinya, Fatimah ra. agar senantiasa tersenyum dan menjaga raut muka berseri-seri di hadapan suami. Pasalnya, senyum seorang istri terhadap suaminya memiliki ganjaran besar dari AllahTaala. Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Fatimah, tiada seorang istri yang tersenyum di hadapan suaminya, kecuali Allah akan memandangnya dengan pandangan kasih (rahmat).”

Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan putus ganjaran dari Allah kepada seorang isteri yang siang dan malamnya menggembirakan suaminya.” (HR Muslim).

Dalam banyak hadis diungkapkan bahwa seorang istri yang menyediakan makanan atau minuman untuk suaminya, serta menjaga harta suaminya, ia akan mendapatkan posisi mulia. Rasulullah saw. bersabda, “Sekali suami minum air yang disediakan isterinya, itu lebih baik dari berpuasa setahun.” (HR Muslim).

Dalam hadis lain dinyatakan, “Makanan yang disediakan oleh isteri kepada suaminya adalah lebih baik daripada isteri itu mengerjakan haji dan umrah.” (HR Muslim).

“Sebaik-baik istri adalah yang apabila kamu pandangi akan menyenangkan hatimu. Bila kamu perintah, ia menaatimu. Bila kamu sedang tidak ada, ia menjaga dirinya untukmu dan juga menjaga hartamu.”(HR Al-Hakim).

Amanah Mulya

Berkaitan dengan hubungan suami-istri, ada beberapa hadis Rasul yang juga menyatakan bahwa Allah Swt. memberikan amanah mulia dan pahala berlimpah bagi seorang istri. Di antaranya, sabda Rasulullah saw., “Mandi junub si isteri disebabkan jimak dengan suaminya lebih baik baginya daripada mengorbankan seribu ekor kambing sebagai sedekah kepada fakir miskin.” (HR Muslim).

Dalam hadis lain dinyatakan, “Dan apabila isteri hamil, ia dicatat sebagai seorang syahid dan khidmat kepada suaminya sebagai jihad.” (HR Muslim).

Rasulullah saw. juga bersabda, “Apabila meninggal dunia seorang isteri dan suaminya ridha, niscaya ia masuk surga.” (HR Tirmidzi).

Rasulullah saw. bersabda, “Dan maukah aku tunjukkan kepada kalian perempuan ahli surga? Yaitu, setiap istri yang penuh cinta kepada suami, serta penyayang kepada anaknya, yang ketika suaminya marah kepadanya, ia berkata, ‘Inilah tanganku berada di tanganmu. Aku tidak bisa tidur memejamkan mata hingga engkau ridha kepadaku.’” (HR An-Nasa’i).

Seorang istri sekaligus ibu harus kuat dan tegar meski kadang sedang lelah dan sakit. Ini karena ia adalah penyemangat suami dan anak-anak ketika mereka lelah atau sedih. Ia juga harus selalu tegar agar anak-anaknya kuat menjalani kehidupan dunia.

Rasulullah saw. bersabda, “Seorang suami yang pulang ke rumah dalam keadaan gelisah dan tidak tenteram, kemudian sang istri menghiburnya, maka ia akan mendapatkan setengah dari pahala jihad.” (HR Muslim).

Ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis. Anas bin Malik ra. mengatakan bahwa beberapa perempuan pernah mendatangi Rasulullah. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, para lelaki mempunyai keistimewaan dapat pergi berjihad di jalan Allah, sedangkan kami tidak punya pekerjaan yang pahalanya setara dengan para mujahid di jalan Allah.” Setelah mendengar penuturan para perempuan itu, Rasulullah saw. bersabda, “Pekerjaan rumah tangga seorang di antaramu, pahalanya setara dengan jihadnya para mujahid di jalan Allah.”

Sungguh, Allah Maha Rahman dan Rahim. Ketika seorang istri melayani suaminya sepenuh hati, Allah akan memberikan pahala untuknya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. menilainya sebagai perempuan terbaik. Ini sebagaimana sabda beliau saw., “Perempuan terbaik yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, menaati suami jika diperintah, tidak menyelisihi pada diri dan hartanya, melayani suami sebaik mungkin, dan menjauhkan suami dari benci.” (HR Ahmad).

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *