Meraih Kemuliaan Sepanjang Masa: Refleksi Sholat Ied di Bunderan Ad Da’wah Rewwin.

Oleh: Kemas Adil Mastjik, Pengurus DDII Jawa Timur

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Hari Raya Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Ia adalah momentum evaluasi: sejauh mana Ramadhan telah membentuk kualitas diri kita sebagai hamba Allah. Sholat Ied yang dilaksanakan di Bunderan Masjid Ad Da’wah pada Jumat, 20 Maret 2026, menghadirkan pesan kuat tentang arah kehidupan pasca-Ramadhan: meraih kemuliaan sepanjang masa.

Lebih dari seribu jamaah hadir dalam suasana khidmat. Dalam khutbahnya, Ustadz H. Ahmad Hisyam Hidayat, S.E.I., menegaskan bahwa kemuliaan seorang muslim tidak bersifat musiman. Ia tidak berhenti di bulan Ramadhan, tetapi harus berlanjut sepanjang hayat. Pertanyaannya, bagaimana menjaga kualitas itu tetap hidup?

Khotib menawarkan lima program kehidupan yang layak direnungkan bersama.

@Pertama, program keimanan. Iman bukan sekadar pengakuan, tetapi energi yang menggerakkan amal. Ramadhan telah melatih kita untuk mendekat kepada Allah melalui ibadah intensif. Namun, tantangan sesungguhnya adalah menjaga nyala iman itu setelah Ramadhan berlalu. Tanpa iman yang kuat, amal akan kehilangan arah, bahkan mudah tergelincir oleh godaan dunia.

@Kedua, program taubat (tawwabin). Allah SWT memerintahkan, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung” (QS. An-Nur: 31). Taubat bukan hanya ritual sesaat, tetapi kesadaran terus-menerus bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan penuh khilaf. Kemuliaan justru lahir dari kerendahan hati untuk kembali kepada-Nya.

@Ketiga, program penyucian diri (muzakkiyin). Al-Qur’an menegaskan, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri” (QS. Al-A’la: 14). Ramadhan telah membersihkan jiwa melalui puasa, zakat, dan ibadah lainnya. Namun, setelahnya, manusia sering kembali pada kebiasaan lama. Padahal, kemuliaan tidak akan diraih tanpa kesungguhan memperbaiki diri secara berkelanjutan—baik dalam akhlak, niat, maupun perilaku sosial.

@Keempat, program kesabaran (shabirin). Kehidupan tidak pernah lepas dari ujian. Allah SWT berfirman, “Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Kesabaran bukan sekadar menahan diri, tetapi kekuatan mental untuk tetap istiqamah di jalan kebenaran, meskipun dihadapkan pada godaan, tekanan, bahkan celaan.

@Kelima, program berbuat baik (muhsinin). Inilah puncak kemuliaan akhlak: mampu berbuat baik, bahkan kepada mereka yang tidak berbuat baik kepada kita. Dalam realitas sosial yang sering diwarnai konflik dan kepentingan, sikap ihsan menjadi penyejuk sekaligus solusi. Orang yang mulia bukan hanya yang baik kepada yang baik, tetapi yang mampu melampaui itu.

Kelima program ini sejatinya merupakan kelanjutan dari pendidikan Ramadhan. Ia bukan teori, tetapi jalan hidup yang harus diupayakan. Menariknya, pelaksanaan Sholat Ied ini juga diiringi dengan laporan kegiatan sosial selama Ramadhan, mulai dari zakat fitrah, zakat mal, hingga infaq dan shodaqoh yang terkumpul dalam jumlah signifikan. Ini menunjukkan bahwa ibadah tidak berhenti pada dimensi spiritual, tetapi juga berdampak pada kepedulian sosial.

Di sinilah letak makna sejati Idul Fitri: kembali kepada fitrah, yaitu kesucian hati yang melahirkan kepedulian kepada sesama. Kemuliaan bukan diukur dari apa yang dimiliki, tetapi dari apa yang diberikan. Bukan dari seberapa tinggi posisi, tetapi seberapa besar kontribusi.

Namun, tantangan terbesar umat Islam hari ini adalah menjaga konsistensi. Banyak yang “bersinar” di bulan Ramadhan, tetapi kembali redup setelahnya. Shalat berjamaah mulai berkurang, tilawah Al-Qur’an ditinggalkan, dan semangat berbagi memudar. Jika ini terjadi, maka Ramadhan belum sepenuhnya berhasil membentuk karakter.

Karena itu, Idul Fitri harus dimaknai sebagai titik awal, bukan garis akhir. Ia adalah komitmen untuk melanjutkan nilai-nilai kebaikan yang telah dibangun. Lima program yang disampaikan dalam khutbah tadi dapat menjadi peta jalan menuju kemuliaan yang hakiki—kemuliaan yang tidak lekang oleh waktu dan tidak bergantung pada situasi.

Akhirnya, kita berharap semoga amal ibadah Ramadhan diterima oleh Allah SWT, dan kita termasuk golongan orang-orang yang kembali dalam keadaan suci serta mampu menjaga nilai-nilai kebaikan sepanjang hayat.

*Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon maaf lahir dan batin.”

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *