MENJAGA KONSITENSI NILAI SETELAH PUASA RAMADHAN

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Semangat ibadah Ramadhan memerlukan komitmen artinya nilai nilai Ramadhan senantiasa menyertai setiap tarikan nafas dan gerak langkah setiap kehidupan manusia. Selain dari itu niat yang kuat selalu menggelora setiap langkah ibadah dan manajemen kebiasaan yang baik terus di jaga. Ramadhan adalah “madrasah” untuk membiasakan diri berbuat baik yang harus dilanjutkan setelahnya. Bukan selesai Ramadhan selesai juga semua kegiatan yang membuahkan amal Sholeh.

Memang Ramadhan telah berakhir dengan ditandai sholat Idul Fitri 1Sawal 1447 H kemarin, namun ibadah yang menyertai kebiasaan Ramadhan hendaknya jangan berakhir bersamaan dengan Idul Fitri, masih banyak ibadah pelengkap Ramadhan sebut saja puasa Syawal 6 hari.

مَنْ صَامَ رَمَضانَ ثُمَّ أَتَبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كانَ كصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka baginya (ganjaran) puasa selama setahun penuh.” (HR Muslim)

عن ثوبان عن رسول اللہ ﷺ أنه قال : من صام رمضان وستة أيام بعد الفطر كان تمام السنة من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها

Artinya: “Barang siapa yang berpuasa satu bulan Ramadhan, kemudian ditambah enam hari setelah Idul Fitri, maka pahalanya seperti puasa satu tahun. Dan siapa yang mengerjakan satu kebaikan, baginya sepuluh kali lipat pahala.” (HR Ibnu Majah)

Meskipun hadits puasa Syawal tidak menjelaskan secara spesifik waktu pelaksanaannya dalam bulan Syawal, para ulama menjelaskan bahwa puasa enam hari ini bisa dilakukan kapan saja selama bulan Syawal, kecuali pada hari pertama (Idulfitri) yang diharamkan untuk berpuasa.

Pendapat ini merujuk pada pemahaman dari lafaz umum dalam hadits puasa Syawal. Tidak ada keharusan untuk melakukan puasa enam hari tersebut secara berurutan atau langsung setelah Idulfitri. Yang penting adalah jumlahnya enam hari dan dilaksanakan di bulan Syawal.

Puasa Ayyamul Bidh adalah puasa sunnah tiga hari pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriyah (kecuali hari tasyrik di Dzulhijjah). Rasulullah SAW memerintahkannya, dengan keutamaan pahala setara puasa setahun penuh karena setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

“Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: 1- berpuasa tiga hari setiap bulannya, 2- mengerjakan shalat Dhuha, 3- mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari no. 1178)

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُومَ الْبِيضَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ . وَقَالَ هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).” Dan beliau bersabda, “Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun.” (HR. Abu Daud no. 2449 dan An Nasai no. 2434. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Menjaga Tilawah Al-Qur’an: Jangan langsung berhenti membaca Al-Qur’an karena Ramadhan telah selesai. Buat target harian yang ringan, misalnya 1-2 lembar sehari agar konsisten (istiqomah).

Salat Malam (Tahajud): Lanjutkan kebiasaan salat tarawih/witir dengan salat tahajud di sepertiga malam terakhir meskipun hanya 2-3 rakaat.

surat Al-Isra ayat 79, berikut bunyi dan artinya:

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا

Artinya: “Daripada sebagian malam lakukanlah sholat tahajud olehmu sebagai ibadah tambahan, semoga Tuhan engkau mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”

Selain ayat di atas, Allah SWT juga menggambarkan bahwa sholat tahajud menjadi salah satu aktivitas seorang hamba yang baik. Hal ini tertuang dalam surat Adzariat ayat 17-18 di bawah ini:

كَانُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ

Artinya: “Keadaan mereka (orang-orang baik) itu sedikit sekali tidurnya pada waktu malam dan di akhir malam mereka memohon ampunan kepada Allah.”

Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma,

يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

“Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dahulu ia rajin mengerjakan shalat malam, namun sekarang ia meninggalkannya.” (HR. Bukhari, no. 1152)

Bagi yang melakukan sholat di waktu malam dan khusyuk menjalankannya, maka Allah memuliakan dengan sembilan perkara, lima di dunia dan empat di akhirat.” (HR. Bukhari)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *