IDUL FITRI MERUPAKAN REVOLUSI BUDAYA TERSEMBUNYI

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Banyak orang memandang Idul Fitri hanya sebagai hari raya setelah sebulan berpuasa. Makanan melimpah, pakaian baru, saling berkunjung, dan suasana pesta menjadi gambaran yang paling umum.

Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, seluruh rangkaian Ramadhan hingga Idul Fitri sebenarnya merupakan sebuah proses pembinaan manusia secara budaya dan peradaban.

Yang tampak hanyalah permukaan: pesta dan perayaan. Namun di balik itu terdapat proses pembentukan manusia yang jauh lebih dalam.

Idul Fitri sebenarnya adalah puncak dari sebuah proses pendidikan manusia selama Ramadhan.

  1. Ramadhan: Bulan Pendidikan Manusia

Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah ritual. Ia adalah bulan pembinaan manusia melalui beberapa proses utama, Shaum (puasa), Tadarus Al-Qur’an, Khataman Al-Qur’an, I’tikaf, Qiyamu Al lail (tarawih)

Kelima aktivitas ini bukan kegiatan yang berdiri sendiri, tetapi satu kesatuan sistem pendidikan spiritual dan intelektual manusia.

  1. Tadarus dan Khatam Al-Qur’an: Rattil sebagai Studi Wahyu. Salah satu tradisi Ramadhan adalah tadarus Al-Qur’an, bahkan banyak orang berusaha menghatamkan Al-Qur’an selama bulan ini. Namun tadarus sebenarnya bukan sekadar membaca cepat untuk mengejar khatam.

Al-Qur’an sendiri menggunakan istilah:
اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ

Artinya membaca dengan tertib, perlahan, dan penuh pemahaman. Al Muzzamil 4

Dengan demikian tadarus pada hakikatnya adalah: proses studi Al-Qur’an, membaca, merenungkan, memahami, mengaitkan ayat dengan kehidupan. Sehingga Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi dipelajari sebagai panduan hidup.

  1. I’tikaf dan Shalat Malam: Ruang Turunnya Ilmu. Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan terdapat tradisi i’tikaf, yaitu mengasingkan diri di masjid untuk fokus beribadah. I’tikaf ini kemudian diwujudkan dalam shalat malam (qiyamullail).

Dalam perspektif pendidikan wahyu, malam adalah waktu terbaik untuk internalisasi ilmu. Karena pada saat itulah manusia: tenang, jauh dari hiruk pikuk dunia, fokus kepada wahyu.

Di dalam tradisi Islam, Jibril adalah simbol penyampai wahyu dan ilmu. Karena itu ketika manusia: membaca Al-Qur’an, merenungkan ayat, berdiri dalam shalat malam, maka ilmu dari wahyu itu seolah ditiupkan ke dalam hati manusia, sehingga bacaan Al-Qur’an berubah menjadi kesadaran hidup. (QS 2.97)

وَلَقَدْ جَاۤءَكُمْ مُّوْسٰى بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَنْتُمْ ظٰلِمُوْنَ

Dengan kata lain: tadarus menghasilkan pengetahuan, shalat malam mengubahnya menjadi kesadaran.

  1. Shaum, Pembinaan Sabar. Di sisi lain, puasa melatih manusia menahan berbagai dorongan dasar: lapar, haus, emosi, nafsu.

Sabar bukan sekadar menahan diri, tetapi kemampuan mengendalikan kehidupan dengan kesadaran. Karena itu tujuan shaum adalah melahirkan taqwa, yaitu kemampuan hidup terarah oleh nilai kebenaran.

  1. Sabar dan Shalat: Dua Kekuatan Penolong

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ

Al-Qur’an memberikan satu prinsip penting:
Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS 2:45, 153)

Ayat ini sebenarnya menggambarkan dua pilar pembinaan manusia:

  1. Sabar → hasil dari shaum
  2. Shalat → pembinaan iman dan kesadaran

Ketika kedua kekuatan ini bersatu, manusia memperoleh kemampuan untuk mengatasi berbagai persoalan hidup.

  1. Idul Fitri: Kemenangan Kesadaran

Kemenangan yang dimaksud bukan kemenangan atas orang lain, tetapi kemenangan atas:, hawa nafsu , ketidaksabaran, kebodohan, kesadaran yang tertutup

Bukan sekadar pakaian fisik, tetap.

Manusia yang telah melalui proses Ramadhan seharusnya memiliki: cara berpikir baru, sikap hidup bar, orientasi hidup baru

  1. Zakat Fitrah: Awal Sistem Ekonomi Keadilan

Setelah kemenangan tersebut, Idul Fitri ditutup dengan zakat fitrah.

Banyak orang menganggap zakat fitrah hanya kewajiban memberikan sejumlah beras setahun sekali.

Padahal secara konse zakat merupakan sebuah sistem ekonomi.

Makna kata zakat sendiri berkaitan dengan:
kesuburan, pertumbuhan, kebersihan, kelayakan hidup. Karena itu zakat sebenarnya adalah sistem ekonomi yang bertujuan untuk menumbuhkan kesejahteraan masyarakat, membersihkan ekonomi dari riba,mendistribusikan kekayaan secara adil.

Penutup: Idul Fitri sebagai Revolusi Budaya

Jika seluruh rangkaian ini dipahami secara utuh, maka Ramadhan hingga Idul Fitri merupakan sebuah proses transformasi manusia:

Admin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *