Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dalam perjalanan Ramadhan hingga Idul Fitri, manusia sering merasa telah “menjadi lebih baik”.
Namun ada satu pertanyaan mendasar yang jarang diajukan:
Siapa sebenarnya kita setelah Ramadhan?
Apakah kita kembali kepada identitas duniawi—status, jabatan, peran sosial?
Ataukah kita kembali kepada identitas yang paling mendasar: hamba Allah?
Identitas Duniawi: Amanah yang Akan Dipertanggungjawabkan
Islam tidak menolak identitas duniawi.
Menjadi pemimpin, guru, pedagang, orang tua, atau bagian dari masyarakat—semua itu adalah realitas kehidupan.
Namun Al-Qur’an menegaskan bahwa semua itu bukan identitas hakiki, melainkan amanah.
Allah berfirman:
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا… وَحَمَلَهَا الإِنسَانُ
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan memikulnya… dan manusia yang memikulnya.” (QS. Al-Ahzab: 72)
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia hidup dalam sistem amanah.
Apa pun posisi kita di dunia—itu bukan milik kita. Itu adalah titipan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam perspektif ini, identitas duniawi bukan untuk dibanggakan. Ia adalah beban tanggung jawab.
Identitas Hamba: Hakikat yang Tidak Berubah
Di atas semua identitas duniawi, ada satu identitas yang tidak pernah berubah: ‘Abdullāh — hamba Allah.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini adalah fondasi epistemologi manusia.
Tujuan penciptaan manusia bukan menjadi sukses secara duniawi.
Tetapi menjadi hamba yang beribadah kepada Allah.
Bahkan dalam momen paling agung, Allah menyebut Nabi Muhammad ﷺ dengan gelar:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya…” (QS. Al-Isra: 1)
Bukan dengan gelar “rasul”, bukan “pemimpin”, tetapi: “hamba-Nya”
Ini menunjukkan bahwa kehambaan adalah puncak kemuliaan manusia.
Kemuliaan dalam Kehambaan
Al-Imam Ibn Taymiyyah rahimahullah berkata:
أَشْرَفُ مَقَامَاتِ الإِنْسَانِ هُوَ العُبُودِيَّةُ لِلَّهِ
“Kedudukan paling mulia bagi manusia adalah kehambaannya kepada Allah.”
Sementara itu, Al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan:
كُلَّمَا كَانَ العَبْدُ أَكْمَلَ عُبُودِيَّةً كَانَ أَعْظَمَ حُرِّيَّةً
“Semakin sempurna kehambaan seseorang, semakin besar kebebasannya.”
Ini adalah paradoks ilahiah: Manusia menjadi paling merdeka justru ketika ia menjadi hamba Allah.
Epistemologi Identitas: Dari Dunia ke Kehambaan
Dalam Epistemologi Qur’ani: udentitas duniawi bersifat relatif, sementara, dan akan ditanya, identitas kehambaan bersifat absolut, permanen, dan menentukan nilai.
Masalah manusia bukan karena ia memiliki identitas duniawi. Masalahnya adalah ketika ia mengira itu adalah identitas sejatinya.
Ramadhan datang untuk meluruskan kesalahan ini.
Ia melatih manusia untuk: melepaskan ego,
menundukkan nafsu,
dan kembali kepada kesadaran sebagai hamba.
Penutup
Idul Fitri bukan sekadar kembali kepada aktivitas dunia. Ia adalah momentum kembali kepada identitas yang benar.
Identitas duniawi akan hilang. Habatan akan berakhir. Status akan berubah.
Namun satu identitas akan tetap melekat: identitas sebagai hamba Allah.
Maka kemenangan sejati bukan ketika kita menjadi sesuatu di dunia.
Tetapi ketika kita benar-benar menjadi: ‘abdullāh — hamba Allah yang tunduk, sadar, dan siap mempertanggungjawabkan seluruh amanah kehidupannya.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر
الله أكبر الله أكبر الله أكبر
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Taqabbalallāhu minnā wa minkum,
Kullu ‘ām wa antum bi khair.
Mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita diberi kekuatan untuk menjaga identitas sejati kita sebagai hamba Allah di setiap keadaan.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
