UNTUK INDONESIA EMAS 2045
Oleh: Dr. Adian Husaini
(Guru Pesantren At-Taqwa Depok/
Pendiri Gerakan Pendidikan Bermutu)
Dewandakwahjatom.com, Depok-- Mungkin hanya sedikit orang Indonesia yang percaya bahwa pendidikan Indonesia sejatinya lebih bermutu daripada pendidikan Amerika Serikat, Finlandia, Cina atau Jepang. Dalam alam modern sekarang, kata “bermutu” ditentukan dengan standar kecerdasan dan penguasaan akan ilmu-ilmu tertentu.
Yang sangat populer adalah ranking PISA. Skor PISA anak-anak sekolah Indonesia dikatakan lebih rendah dari Singapura, Malaysia, bahkan Brunei. Tiga komponen yang dijadikan standar penentuan nilai PISA: literasi, matematika, dan sains. Karena skor PISA Indonesia jelek, maka ramailah orang Indonesia sendiri yang percaya, bahwa mutu pendidikan Indonesia rendah!
Di sinilah kerancuan makna “bermutu” jika dikaitkan dengan pendidikan. Sebab, pendidikan Indonesia memiliki tujuan utama yang jelas: meningkatkan keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia (ITA). Iman, taqwa dan akhlak mulia itu harusnya dijadikan sebagai indikator utama untuk menentukan apakah pendidikan Indonesia bermutu atau tidak!
Anak-anak pintar matematika, sains dan memiliki literasi tinggi, tentu saja sangat penting. Tetapi, ada yang lebih penting dari itu, yaitu keimanan dan ketaqwaan serta akhlak anak-anak pintar itu. Aneh sekali jika kita – sebagai bangsa Indonesia – menerima begitu saja indikator mutu pendidikan yang mengabaikan faktor ITA.
Dalam kehidupan seari-hari pun, sudah dikenal luas, kesuksesan seseorang lebih disebabkan faktor “soft skill”, seperti nalar kritis, kreativitas, komunikasi dan kolaborasi. Itulah indikator penting dalam penentuan standar mutu pendidikan.
Dalam tingkatan berpikir versi Bloom, level tertinggi adalah “to create”. Tentu saja, anak-anak dengan kecerdasan tinggi yang dapat mencapai level itu. Masalahnya, sebagian besar anak tidak termasuk kategori sangat pintar. Itulah karunia dan kebijakan Allah. Kehidupan bisa berjalan karena ada keragaman potensi kecerdasan. Kecerdasan adalah karunia Allah sekaligus ujian dan amanah yang harus disyukuri.
Tapi, kata Nabi Muhammad saw, ketinggian derajat manusia ditentukan oleh “kebermanfaatannya” terhadap sesama manusia; bukan oleh kepintaran, kekuasaan, atau hartanya. Itulah indahnya indikator kemuliaan yang ditentukan oleh Rasulullah saw.
Bangsa Indonesia sudah mengakui sebagai bangsa yang ber-Tuhan kepada Allah SWT. “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa…,” begitulah penegasan Pembukaan UUD 1945. Negara juga berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
Karena itulah kita menegaskan sebagai bangsa yang bersepakat untuk bersyukur dan bersedia untuk taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. UU Sisdiknas dan UU Pendidikan Tinggi kita pun menegaskan tujuan pendidikan kita adalah untuk melahirkan manusia yang memiliki ITA.
Saatnya kita sebagai umat Islam dan bangsa Indonesia merumuskan standar mutu pendidikan kita sendiri. Kita jadikan ITA sebagai indikator utamanya. Jika seorang anak memiliki keimanan yang kokoh dan taat kepada Tuhan serta memiliki sifat jujur, tidak malas, dan peduli pada sesama, insyaAllah, kunci suskes – dunia dan akhirat – sudah ditangannya.
Kami mengusulkan LIMA indikator pendidikan bermutu: (1) Taat Allah dan Rasul (2) Jujur (3) Tidak malas (4) Berani (5) Berguna bagi sesama.
Jadi, pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang melahirkan anak-anak dengan LIMA indikator utama itu. Jika setuju, mari kita bergerak bersama dalam barisan GERAKAN PENDIDIKAN BERMUTU (GARPU).
Semoga Allah menyayangi dan menolong kita semua untuk mewujudkan pendidikan bermutu yang insyaAllah akan melahirkan Generasi Emas 2045. Amin. (Jakarta, 27 Oktober 2026).
Admin: Kominfo DDll Jatim
Editor: Sudono Syueb
