Oleh Djuwari Syaifudin, Ketua Biro Pemberdayaan Daerah Dewan Da’wah Jatim
Dewandakwahkatim.com,Surabaya – Negeri ini sudah terlanjur hancur menjadi tepung atau kalau tidak boleh di sebut bubur. Semua lini menjadi ladang penggarongan baca korupsi lewat program yang dahsyat, wakil rakyat yang semestinya membela rakyat ikutan menyengsarakan rakyat, pejabat mulai dari pejabat tinggi hingga pejabat kelas teri mengembat ekonomi rakyat. Sebagai contoh kecil saja petani tebu, bibit sulit didapat, kalau ada mahal, dan harus beli dari penyedia, pupuk subsidi langka, pupuk yang bukan subsidi tiga kali lipat harganya, Pabrik tidak mau beli tebu katanya hanya buruh masak, tetapi gulanya harus dibeli Pabrik yang hanya dihargai Rp 2.500. perkilo, sedangkan harga gula di pasaran Rp 15.000,-.
Pengembatan melalui program, Makan Bergizi Gratis (MBG) yang harganya di patok Rp 15.000,- sampai ke siswa tinggal Rp 5.000. yang Rp 10.000,- Programernya, belum sampai satu semester pemegang programnya bergelimpangan kasus korupsi. Belum lagi kasus keracunan MBG mulai dari bumi Jawa Barat sampai Bumi Jawa Timur, di Sidoarjo masih ramai menjadi pembicaraan orang diwarung kopi.
Kemurkaan Allah terjadi karena ulah penghuni bumi, banjir Sumatra barat masih menyisakan puing puing nestapa, gempa NTT masih terus terulang, anak Krakatau murka yang menjadikan panik warga Sunda dan Lampung di susul erupsi Semeru yang tidak banyak membuat perhatian orang karena pokus NTT dan Anak Krakatau dan masih banyak lagi.
Pengakuan
Tak seorangpun dari kita yang tidak pernah berbuat dosa. Dari dosa yang terkecil, dan tidak sedikit dosa besar besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda :
كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertobat.(at Tirmizi)
Bukan sekedar berdosa yang jadi sumber ancaman datangnya bencana, namun pendosa yang merasa tidak bersalah atau malah menjadikan dosa sebagai standar baru kehidupan yang harus diterima atau minimal dimaklumi oleh orang lain
Renungkan pengakuan seorang nabi yang Allah Ta’ala kisahkan berikut ini:
وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْم
Dan aku (istri Al-Aziz) tidak menyatakan diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.(Yusuf: 53)
Bahkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam senantiasa bertaubat dan menganjurkan kita semua untuk terus bertaubat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
Demi Allah. Sungguh aku selalu beristigfar dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali. (Al Bukhari)
Dalam riwayat lain beliau juga bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
Wahai sekalian manusia. Tobatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.(Muslim)
Merasa benar atau tutup mata atas dosa dan kesalahan, itulah ancaman terberat yang menimpa kita saat ini.
كَانُوْا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُّنْكَرٍ فَعَلُوْهُۗ لَبِئْسَ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ
Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang mereka lakukan. Sungguh, itulah seburuk-buruk apa yang selalu mereka lakukan. (Al Maidah 79)
Ya Allah ampunilah kami, dan bukakanlah pintu hidayah -Mu untuk kami, Aamiin.
Dosa yang terampuni
Sebagai seorang mukmin yang taat senantiasa menjalankan perintah dan meninggalkan larangan, dalam menjalan perintah dan meninggalkan larangan ada dasar sebagai motivasi ibadah, Rasûlullâh sholallahu alaihi wassalam bersabda,.
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”HR. Muslim no. 1162.
Dasar diatas memberikan motivasi, tentang terampuninya dosa dosa setahun yang lalu dan setahun mendatang, artinya hidup kita, kalau berbuat dosa baik setahun yang telah berlalu maupun setahun yang akan datang telah terampuni. Berarti bila berbuat dosa tidak masalah karena telah terampuni.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” HR. Bukhari 38, 1901, 2014 dan Muslim 760 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.
Apa ini yang membuat seorang mukmin yang ahli ibadah tetapi juga ahli pendosa, karena sudah merasa dosanya terampuni walaupun berbuat salah.
Wallahu ‘alam bishowab.
Admin: Biro Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
