Ketika Manusia Memiliki Banyak Tujuan, tetapi Kehilangan Arah
Setiap perjalanan membutuhkan arah.
Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Biro Kaderisasi Ulama DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Seseorang yang hendak menuju tempat yang belum pernah dikunjunginya akan mencari peta. Ia membuka GPS, menentukan lokasi tujuan, lalu mengikuti petunjuk jalan yang tersedia. GPS membantunya mengetahui di mana ia berada, ke mana ia harus menuju, jalan mana yang harus ditempuh, bahkan kapan ia harus mengubah arah ketika ternyata mengambil jalan yang salah.
Menariknya, manusia begitu serius menyiapkan peta untuk perjalanan beberapa kilometer, tetapi sering kali tidak pernah benar-benar menyiapkan peta untuk perjalanan yang jauh lebih panjang: kehidupan itu sendiri.
Padahal kehidupan bukan perjalanan singkat.
Manusia menjalani puluhan tahun usia. Ia tumbuh, belajar, bekerja, menikah, membangun keluarga, mengejar cita-cita, mengumpulkan harta, menghadapi kegagalan, menikmati keberhasilan, kehilangan orang-orang yang dicintai, menua, lalu akhirnya meninggalkan dunia.
Pertanyaannya adalah:
Apakah kita benar-benar mengetahui ke mana seluruh perjalanan itu menuju?
Sibuk Bukan Berarti Berjalan ke Arah yang Benar
Salah satu persoalan manusia modern adalah kehidupan yang semakin sibuk, tetapi belum tentu semakin jelas arahnya.
Kita memiliki jadwal yang padat. Target yang banyak. Ambisi yang tinggi. Pendidikan yang panjang. Teknologi yang semakin canggih. Informasi yang semakin melimpah.
Tetapi di tengah semua itu, pertanyaan paling mendasar justru sering terlupakan:
Untuk apa aku hidup?
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā tidak menciptakan manusia tanpa tujuan. Kehadiran manusia di dunia bukan sebuah peristiwa tanpa makna.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 56)
Ayat ini meletakkan fondasi paling mendasar dalam memahami kehidupan seorang Muslim.
Manusia bukan sekadar makhluk yang lahir, tumbuh, bekerja, menikmati kehidupan, lalu mati.
Manusia memiliki orientasi.
Ia diciptakan oleh Allah.
Hidup dengan amanah dari Allah.
Dan pada akhirnya akan kembali kepada Allah.
Karena itu, persoalan terbesar manusia bukan sekadar tidak memiliki aktivitas.
Persoalan terbesar adalah:
memiliki begitu banyak aktivitas, tetapi kehilangan orientasi.
Seseorang bisa berjalan sangat cepat, tetapi menuju arah yang salah.
Ia bisa bekerja sangat keras, tetapi untuk sesuatu yang tidak pernah membawanya kepada tujuan hidup yang sebenarnya.
Ia bisa berhasil menurut ukuran manusia, tetapi gagal memahami untuk apa keberhasilan itu seharusnya digunakan.
Kita Membutuhkan GPS Kehidupan
Dalam perjalanan di jalan raya, GPS biasanya membantu kita menjawab beberapa pertanyaan sederhana:
Di mana saya berada?
Ke mana saya akan menuju?
Jalan mana yang harus saya tempuh?
Apa yang harus saya lakukan jika tersesat?
Empat pertanyaan itu sebenarnya juga sangat penting dalam kehidupan.
Pertama, manusia harus mengetahui di mana posisinya.
Siapa dirinya?
Mengapa ia hidup?
Apa posisinya sebagai hamba Allah?
Apa amanah yang dipikulnya?
Kedua, manusia harus mengetahui ke mana ia menuju.
Tanpa tujuan, kehidupan akan mudah dikendalikan oleh keadaan. Hari-hari hanya akan diisi dengan respons terhadap apa yang datang, tanpa arah besar yang memandu seluruh perjalanan.
Ketiga, manusia harus mengetahui jalan yang harus ditempuh.
Seorang Muslim tidak dibiarkan mencari jalan hidup hanya berdasarkan hawa nafsunya.
Allah telah memberikan petunjuk.
Allah berfirman:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 9)
Al-Qur’an bukan hanya kitab yang dibaca pada waktu-waktu tertentu. Ia adalah sumber petunjuk yang membantu manusia memahami kehidupan.
Keempat, manusia harus memiliki kemampuan untuk mengoreksi arah.
Dalam perjalanan, seseorang mungkin tersesat.
Namun tersesat bukanlah akhir dari perjalanan.
Yang berbahaya adalah tidak mau menyadari bahwa dirinya telah tersesat.
Karena itu Islam mengajarkan muḥāsabah, taubat, sabar, syukur, dan istiqamah.
Seorang Muslim harus terus memeriksa dirinya.
Apakah langkahnya masih benar?
Apakah tujuannya masih lurus?
Apakah kehidupan yang dijalaninya masih berada dalam jalan yang diridhai Allah?
Jalan Seorang Muslim adalah Mencari Ridha Allah
Di sinilah perbedaan mendasar antara roadmap kehidupan seorang Muslim dengan berbagai konsep perencanaan hidup yang hanya berorientasi pada pencapaian duniawi.
Karier penting.
Pendidikan penting.
Keluarga penting.
Harta penting.
Kesehatan penting.
Kesuksesan juga penting.
Tetapi semua itu bukan tujuan tertinggi.
Semuanya adalah bagian dari perjalanan.
Seorang Muslim boleh memiliki banyak tujuan dalam kehidupan, tetapi seluruh tujuan itu harus berada dalam satu orientasi yang lebih tinggi:
Ridha Allah.
Apa pun profesinya, di mana pun ia berada, sebesar apa pun tanggung jawabnya, seorang Muslim harus terus bertanya:
Apakah langkah ini membawa saya semakin dekat kepada Ridha Allah?
Karena kehidupan yang benar bukan sekadar kehidupan yang menghasilkan banyak pencapaian.
Tetapi kehidupan yang seluruh potensinya digunakan dalam jalan yang benar.
Maka seorang Muslim bekerja, tetapi tidak kehilangan Allah.
Ia membangun keluarga, tetapi tidak kehilangan Allah.
Ia mencari ilmu, tetapi tidak kehilangan Allah.
Ia membangun karier, tetapi tidak kehilangan Allah.
Ia memiliki kekuasaan, harta, dan kemampuan, tetapi semuanya tetap berada dalam orientasi:
Mencari Ridha Allah.
Ujung Perjalanan Itu Bernama Husnul Khatimah
Setiap perjalanan memiliki ujung.
Dan kehidupan manusia juga demikian.
Tidak ada seorang pun yang dapat tinggal selamanya di dunia.
Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 185)
Karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya bertanya:
Bagaimana aku menjalani hidup?
Tetapi juga harus bertanya:
Bagaimana aku mengakhiri hidup?
Inilah mengapa ḥusnul khātimah menjadi salah satu orientasi besar perjalanan seorang Muslim.
Bukan sekadar hidup dengan baik.
Tetapi berharap agar perjalanan kehidupan ditutup dengan akhir yang baik.
Maka jika kehidupan digambarkan sebagai sebuah perjalanan, seorang Muslim memiliki peta yang sangat jelas:
Ia mengetahui dirinya sebagai hamba Allah.
Ia menjadikan wahyu sebagai petunjuk.
Ia menempuh kehidupan dalam mencari Ridha Allah.
Dan ia berharap perjalanan itu berakhir dengan Husnul Khatimah.
Roadmap Kehidupan Seorang Muslim
Berangkat dari kegelisahan terhadap persoalan arah kehidupan inilah, buku Roadmap Kehidupan Seorang Muslim hadir.
Buku ini tidak berusaha menjanjikan kehidupan tanpa masalah.
Sebab kehidupan memang akan selalu memiliki ujian.
Buku ini juga bukan sekadar kumpulan motivasi.
Tetapi sebuah upaya untuk mengajak pembaca melihat kehidupan sebagai sebuah perjalanan yang membutuhkan peta.
Perjalanan itu dimulai dari mengenal diri dan memahami tujuan hidup.
Kemudian manusia belajar menentukan arah, mengelola waktu, menentukan prioritas, membangun disiplin, menjaga tubuh, mengembangkan kapasitas, dan membentuk karakter.
Setelah itu, perjalanan tidak berhenti pada diri sendiri.
Manusia diajak untuk menata hati, membangun hubungan dengan sesama, memberi manfaat, membangun keluarga, mendidik generasi, melakukan muhasabah, berani berubah, serta menjaga istiqamah.
Dan pada akhirnya, seluruh perjalanan itu membawa manusia kepada kesadaran yang paling mendasar:
Kita sedang berjalan menuju kepulangan.
Karena itu, Roadmap Kehidupan Seorang Muslim dapat dipahami sebagai:
GPS Hidup Seorang Muslim
Bukan GPS yang menjalankan kendaraan untuk kita.
Bukan pula peta yang menjamin perjalanan akan selalu mudah.
Tetapi peta yang membantu kita untuk terus bertanya:
Di mana aku berada?
Ke mana aku menuju?
Apakah aku masih berada di jalan yang benar?
Dan bagaimana aku harus memperbaiki langkah ketika tersesat?
Jangan Hanya Sibuk Berjalan
Pada akhirnya, kehidupan bukan sekadar tentang seberapa jauh seseorang berjalan.
Bukan pula tentang seberapa cepat ia sampai pada berbagai pencapaian dunia.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Apakah ia berjalan di jalan yang benar?
Sebab seseorang mungkin berjalan perlahan, tetapi berada di jalan yang benar.
Dan seseorang mungkin berjalan sangat cepat, tetapi justru semakin jauh dari tujuan.
Maka kita memang membutuhkan roadmap kehidupan.
Sebuah peta untuk membantu kita memahami posisi.
Sebuah kompas untuk menjaga arah.
Sebuah pengingat ketika kita mulai menyimpang.
Dan sebuah kesadaran bahwa seluruh perjalanan dunia ini tidak pernah berdiri sendiri.
Jalannya adalah mencari Ridha Allah.
Ujungnya adalah Husnul Khatimah.
Karena itu, jangan hanya sibuk menjalani kehidupan.
Pastikan kita mengetahui ke mana seluruh perjalanan ini menuju.
ROADMAP KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM
GPS Hidup Seorang Muslim
Memahami Diri • Menemukan Arah • Menata Kehidupan • Memberi Manfaat • Menjaga Langkah • Menuju Ridha Allah dan Husnul Khatimah.
Admin: Biro Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
