Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Biro Kaderisasi Ulama DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
كُلُّ يَوْمٍ جَدِيدٍ هُوَ فُرْصَةٌ جَدِيدَةٌ مِنَ اللهِ لِتَصْحِيحِ أَخْطَاءِ الأَمْسِ، وَلِلتَّعَلُّمِ مِنَ المَاضِي، وَلِتَجْدِيدِ النِّيَّاتِ، وَلِإِصْلَاحِ مَا أَفْسَدْنَاهُ، وَلِبِدَايَةِ طَرِيقٍ أَفْضَلَ نَحْوَ اللهِ.
Setiap hari baru adalah kesempatan baru dari Allah untuk memperbaiki kesalahan kemarin, belajar dari masa lalu, memperbarui niat, memperbaiki apa yang telah kita rusak, dan memulai jalan yang lebih baik menuju Allah. Kalimat ini mengingatkan kita bahwa hidup bukan sekadar rangkaian hari yang datang dan pergi, melainkan amanah yang terus bergerak menuju satu kepastian: kematian dan kepulangan kepada Allah.
Ada ungkapan populer, experience is the best teacher, pengalaman adalah guru terbaik. Namun bagi seorang Muslim, tidak semua pelajaran harus dialami sendiri. Kita dapat belajar dari pengalaman orang lain, dari sejarah, dari kegagalan, bahkan dari kematian orang-orang yang berada di sekitar kita. Kematian, dalam perspektif iman, bukan hanya akhir perjalanan seseorang, tetapi juga salah satu bentuk pendidikan paling nyata bagi mereka yang masih diberi kesempatan hidup.
Hampir setiap Muslim pernah menyaksikan bagaimana seorang jenazah diperlakukan. Kita memandikannya, mengkafaninya, menyalatkannya, mengangkat kerandanya, mengantarkannya ke pemakaman, kemudian meletakkannya di dalam liang lahat. Kita menyaksikan tubuh yang sebelumnya berjalan bersama kita, berbicara dengan kita, bekerja, tertawa, memiliki cita-cita, jabatan, harta, keluarga, dan berbagai kebanggaan dunia, tiba-tiba terbaring tanpa daya. Setelah itu tanah ditimbunkan di atasnya dan kita pun meninggalkan pemakaman untuk kembali menjalani kehidupan masing-masing.
Namun ada satu pertanyaan yang semestinya sesekali kita ajukan kepada diri sendiri: pernahkah kita benar-benar menyadari bahwa suatu hari nanti kitalah yang akan diperlakukan seperti itu?
Suatu saat nanti bukan kita yang memandikan jenazah, tetapi kitalah yang dimandikan. Bukan kita yang mengkafani, tetapi kitalah yang dikafani. Bukan kita yang berdiri untuk menyalatkan, tetapi kitalah yang disalatkan. Bukan kita yang mengangkat keranda, tetapi kitalah yang berada di dalamnya. Bukan kita yang berdiri di tepi liang lahat, tetapi kitalah yang dibaringkan di dalam tanah. Pada saat itu, kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk menjelaskan siapa diri kita kepada manusia. Jabatan tidak lagi memiliki arti, gelar tidak lagi memberikan kehormatan, harta tidak lagi berada dalam genggaman, popularitas tidak lagi memiliki makna, dan berbagai kebanggaan yang selama ini kita perjuangkan perlahan kehilangan seluruh nilainya.
Inilah salah satu kenyataan yang sering terlupakan ketika manusia terlalu larut dalam kehidupan dunia. Kita diberi jabatan, lalu merasa memiliki kekuasaan. Kita diberi harta, lalu merasa memiliki dunia. Kita diberi ilmu dan gelar, lalu merasa lebih tinggi daripada orang lain. Kita memperoleh kedudukan, penghormatan, dan pengakuan, lalu perlahan lupa bahwa semuanya adalah titipan. Padahal tidak ada satu pun yang benar-benar kita miliki secara mutlak. Bahkan tubuh yang kita sebut “milikku” pun pada akhirnya akan kita tinggalkan.
Karena itu, kehidupan seharusnya dipahami sebagai amanah, bukan sekadar kepemilikan. Jabatan adalah amanah. Ilmu adalah amanah. Harta adalah amanah. Keluarga adalah amanah. Waktu adalah amanah. Bahkan kesempatan untuk hidup pada hari ini adalah amanah yang tidak semua manusia mendapatkannya. Ketika seseorang memahami kehidupan sebagai amanah, ia tidak lagi bertanya semata-mata tentang apa yang dapat diperoleh dari kehidupan, tetapi juga tentang apa yang harus dipertanggungjawabkan dari kehidupan.
Kita mungkin sering bertanya, “Apa yang sudah saya capai?” Tetapi kematian mengajarkan pertanyaan yang lebih mendasar: “Apa yang telah saya lakukan dengan apa yang Allah titipkan kepada saya?” Ilmu yang diberikan Allah, apakah menjadi cahaya bagi orang lain atau justru menjadi sebab kesombongan? Harta yang dititipkan, apakah menjadi jalan kebaikan atau justru menjadikan kita semakin jauh dari-Nya? Jabatan yang dipercayakan, apakah digunakan untuk melayani atau untuk meninggikan diri? Waktu yang diberikan, apakah dihabiskan untuk sesuatu yang bernilai atau berlalu tanpa makna?
Kesadaran terhadap kematian bukan berarti mengajak manusia meninggalkan dunia. Islam tidak mengajarkan manusia untuk membenci kehidupan. Justru kesadaran akan kematian seharusnya membuat kita menjalani kehidupan dengan lebih bertanggung jawab. Orang yang sadar bahwa waktunya terbatas akan lebih menghargai waktunya. Orang yang menyadari bahwa hartanya akan ditinggalkan akan lebih bijak menggunakannya. Orang yang memahami bahwa jabatan akan berakhir akan lebih berhati-hati dalam menjalankan amanah. Dan orang yang menyadari bahwa dirinya akan kembali kepada Allah akan berusaha memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Karena itu, setiap hari yang masih Allah berikan sesungguhnya adalah kesempatan untuk melakukan koreksi. Kesalahan masa lalu tidak harus menjadi alasan untuk terus tenggelam dalam penyesalan. Masa lalu dapat menjadi guru. Kesalahan dapat menjadi bahan pembelajaran. Kegagalan dapat menjadi momentum untuk memperbaiki diri. Hari ini adalah kesempatan untuk memperbarui niat, meminta maaf kepada mereka yang pernah kita sakiti, mengembalikan hak yang pernah kita ambil, memperbaiki amanah yang pernah kita abaikan, dan kembali berjalan menuju Allah dengan hati yang lebih jernih.
Barangkali inilah makna terdalam dari menyaksikan jenazah. Kita tidak hanya sedang mengantarkan seseorang menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Sesungguhnya kita sedang menyaksikan masa depan diri kita sendiri. Jenazah yang hari ini kita antar bukan sekadar “orang lain”. Ia adalah cermin yang sedang diperlihatkan Allah kepada kita. Ia seolah berkata tanpa suara bahwa perjalanan yang sama akan kita tempuh, hanya saja waktunya belum kita ketahui.
Maka ketika suatu hari kita kembali berdiri di samping jenazah, mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang bukan hanya, “Siapa yang meninggal?” tetapi juga, “Apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku melalui kematian ini?” Jika kita mau mendengarnya dengan hati, setiap jenazah membawa pesan yang sama: bahwa hidup ini sementara, bahwa amanah akan dimintai pertanggungjawaban, bahwa dunia tidak boleh menjadi tujuan akhir, dan bahwa setiap hari yang masih kita miliki adalah kesempatan untuk mempersiapkan kepulangan.
Kita tidak tahu kapan kesempatan itu berakhir. Bisa jadi hari ini adalah salah satu dari sekian banyak hari yang masih Allah berikan kepada kita. Bisa jadi pula tanpa kita sadari, kita sedang berada pada halaman-halaman terakhir perjalanan dunia. Karena itu, jangan menunggu kehilangan untuk menghargai sesuatu yang masih dimiliki. Jangan menunggu sakit untuk mengenali nikmat sehat. Jangan menunggu jabatan berakhir untuk menyadari amanah. Jangan menunggu harta hilang untuk memahami bahwa semuanya hanyalah titipan. Dan jangan menunggu menjadi jenazah untuk belajar tentang kematian.
Selama Allah masih memberikan napas, masih ada kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, belajar dari masa lalu, memperbarui niat, memperbaiki apa yang telah rusak, dan memulai perjalanan yang lebih baik menuju Allah. Sebab pada akhirnya, yang menentukan kemuliaan kita bukanlah seberapa tinggi posisi kita di hadapan manusia, seberapa banyak harta yang pernah kita kumpulkan, atau seberapa panjang gelar yang melekat pada nama kita, tetapi bagaimana kita mempertanggungjawabkan amanah kehidupan ketika akhirnya berdiri di hadapan Allah.
Maka kematian orang lain semestinya tidak hanya membuat kita berduka. Ia juga seharusnya membuat kita bercermin. Sebab setiap jenazah yang kita mandikan, setiap kafan yang kita bentangkan, setiap salat jenazah yang kita dirikan, setiap keranda yang kita angkat, dan setiap liang lahat yang kita tutup, sesungguhnya sedang mengajarkan satu pelajaran yang sama: suatu hari nanti, giliran kita akan tiba.
Dan ketika saat itu datang, tidak ada lagi kesempatan untuk mengulang kehidupan.
Yang tersisa hanyalah amal yang pernah kita tanam dan amanah yang pernah kita tunaikan.
Maka selama masih ada hari baru, mari kita hidup dengan kesadaran bahwa setiap hari adalah kesempatan dari Allah untuk menjadi lebih baik sebelum akhirnya kita benar-benar pulang kepada-Nya.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
