ANGKA PERCERAIAN NAIK DRASTIS. ADA APA ?

Oleh Aditya Hasan.S.Sos, Aktivis DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Ada 438.168 kasus perceraian tahun 2025, yang menandakan semakin meningkatnya kasus ini ternyata 105.727 diantaranya terjadi karena kondisi ekonomi seperti Masalah keuangan, utang, kurangnya penghasilan, atau ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar sering menjadi pemicu stres yang berujung pada keretakan rumah tangga (databoks.katadata.co.id)

Dalam hal perceraian ini tentu sangat menimbulkan dampak kerugian bagi keberlanjutan hidup, baik bagi pihak yang bercerai atau anak yang harus menelan kenyataan, sehingga mengganggu dalam kehidupan masa depan.Tentunya dampak yang besar ini harus dicegah dan dihindari.

Maka perlu kita kuliti apa akar dari masalah perceraian karena ‘ekonomi’. Memang setiap pernikahan pasti ada ujian, namun sifat dari ujian ekonomi memang umumnya terjadi berkali-kali (tidak seperti masalah kdrt atau perselingkuhan) sehingga sampai pada titik ‘menyerah’ seakan ujian ekonomi ini karena ‘menikah’, which is terjadilah perceraian yang dianggap solusi.

Agama Islam yang komprehensif ini, yang telah jelas mengatur kehidupan dari bangun tidur sampai tidur lagi, yang mengatur dari urusan toilet sampai urusan kenegaraan, pastinya telah menjelaskan aturan dan solusi dalam urusan ‘perekonomian keluarga’. Ketidaktahuanlah yang menjadi sebab timbulnya ‘khawatir’ hingga ‘menyerah’ dan berakhir perceraian.

Ada beberapa hal mendasar tentang algoritma rizki yang perlu kita ketahui:

Pertama, Nabi Shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda
فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا
“Sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya.”

Mengapa kita masih hidup? Karena masih ada Rizki yang akan mendatangi kita. Maka di titik manapun kondisi ekonomi, langsung sadarkan diri untuk “oh iya, saya masih hidup, berarti akan ada rizki yang akan datang kepadaku”. Sehingga rasa khawatir kita tidak sampai menggerogoti aqidah kita kepada Dzat Yang Maha Mengatur Rizki.

Sayangnya, dalam perihal Rizki ini kita terlalu mengarah ke jumlah nominal ‘uang’ yang sejatinya hanya angka dan belum berpengaruh apa-apa kecuali setelah dibelanjakan. Tentu yang seperti ini belum tentu disebut Rizqi, sebab bisa jadi nominal di saldo kita adalah Rizqi anak, tukang galon, tukang AC, tukang tambal ban, dan lainnya. Jangankan demikian, kadang suapan makanan di tangan yang hampir saja kita telan, ternyata menjadi ‘rizqi anak kita’ dengan cara dia merengek meminta makanan.

Kedua, Lalu bagaimanakah sejatinya Rizqi itu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِى مَالِى إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ
“Seorang Hamba berkata(dengan bangganya) “Harta-hartaku.” (Padahal)Bukankah hartanya itu hanyalah tiga?: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan.”

Ini menunjukkan bahwa kemegahan dunia melalaikan kita dari rizqi sejati kita yang hanya tiga:

Yang dimakan; ini bersifat sementara sebab makanan yg kita makan tidak abadi, kecuali yang menutrisi saja sampai kita membuangnya menjadi kotoran atau nutrisinya hilang dari tubuh kita.

Yang dipakai; ini pun bersifat sementara sebab yang kita pakai juga tidak abadi, Rusak ganti.

dan Yang disedekahkan; ini bersifat abadi karena kita akan dipertemukan kembali dengan apa yg telah kita persembahkan untuk Allah baik dalam kondisi yg setimpal atau dilipatgandakan. Sebagaimana dari makna dan tafsir surat Al-Muzzammil ayat terakhir.

Ketiga, Lalu apakah jatah rizqi yang sudah diberikan untuk kita ini cukup ditunggu saja tanpa perlu diusahakan?

Nabi Shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda (setelah menjelaskan jatah rizqi manusia hingga mati) :
فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ
“Bertaqwalah kepada Allah, dan perindahlah dalam mata pencaharian. Tempuhlah jalan-jalan mata pencaharian yang halal dan tinggalkan yang haram.”

Bila kita telah dibebani peran sebagai penanggung jawab atas hidup seseorang, entah itu anak, istri, orang tua atau lainnya, maka pastilah kita berdosa bila kita tidak mengusahakan kebutuhan makan dan jatah rizqi lainnya. Yang demikian ini atas banyak dasar salah satunya apa yang disabdakan Nabi di atas.

Tidak hanya itu, perintah Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bukan hanya ‘uthlubu’ yang berarti carilah mata pencaharian, lebih dari itu Nabi bersabda ‘Ajmilu fi At-Tholab’ yang berarti perindahlah dalam mencari mata pencaharian. Tentunya selain wajib kita mencari mata pencaharian, perlu keindahan juga dalam menempuh nya, baik diperindah dari sisi strategi, mencari dengan tidak ceroboh, mencari dengan tidak serakah, totalitas, atau apapun itu selama masih dalam koridor Halal dan Baik.

Keempat, Mengapa masih ada yang memiliki hambatan dan kendala? Padahal sudah mengusahakan yang paling baik dalam mencari?

Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 155:
{ وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَیۡءࣲ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصࣲ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَ ٰ⁠لِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَ ٰ⁠تِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِینَ }
Terjemah:
“Dan Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit kekhawatiran, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”

Maka setiap ‘ujian hambatan dan kendala’ di kehidupan setiap orang memanglah sebuah Part of Life yang tidak bisa dihindari. Kejadian sangat spontan, tidak ada perjanjian sebelumnya, dan tidak ada yang benar-benar memberikan rumus untuk solusi ini sebab ujian ini sangat kompleks.

Ujian hambatan dan kendala seperti kondisi negara, bencana, perekonomian, finansial keluarga, kekhawatiran, dan lainnya tidaklah sama menyikapinya. Ada yang bisa diselesaikan dengan perjuangan dan pengorbanan, ada pula yang tidak bisa diselesaikan. Namun Allah sudah memberikan clue dalam perihal rumit ini yaitu penutup ayat indah yang berbunyi “Wa Bassyir As-Shobirin” yg berarti berikanlah berita gembira bagi Orang-orang Sabar. Sebab ujian ini tidak sama seperti ujian soal soal sekolah yang harus dijawab. Maka bisa diselesaikan atau tidak ujian ini, cara mengerjakan dan menghadapi nya adalah dengan Sabar.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *