MEMBEBASKAN DIRI DARI PERBUDAKAN DUNIA

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Biro Kaderisasi Ulama DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Dewandakwahjatim com, Surabaya – Kemerdekaan sering dipahami sebatas terbebas dari penjajahan dan penindasan. Padahal, dalam perspektif Islam, ada penjajahan yang jauh lebih berbahaya: penjajahan terhadap hati dan jiwa manusia.

Seseorang bisa hidup dalam negeri yang merdeka, tetapi jiwanya belum merdeka. Ia dapat terbebas dari penjajahan manusia, tetapi menjadi hamba harta. Terbebas dari tekanan penguasa, tetapi diperbudak ambisi kekuasaan. Terbebas dari penjajahan bangsa lain, tetapi tunduk kepada hawa nafsu, popularitas, gengsi, dan kepentingan dirinya sendiri.

Inilah bentuk penjajahan yang tidak selalu terlihat, tetapi justru paling sulit dibebaskan.

Islam datang bukan sekadar untuk membebaskan manusia dari manusia, tetapi untuk mengangkat manusia dari penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan hanya kepada Allah.

Karena itu, seorang Muslim harus memahami kedudukan dunia secara benar.

Allah tidak melarang manusia memiliki harta. Allah tidak melarang manusia membangun kekuasaan, mengembangkan ilmu, mendirikan lembaga, memperkuat ekonomi, atau memakmurkan bumi. Justru semua itu dapat menjadi bagian dari amanah kekhalifahan manusia.

Tetapi semua itu bukan tujuan akhir.

Dunia adalah sarana.
Harta adalah amanah.
Ilmu adalah bekal.
Jabatan adalah tanggung jawab.
Kekuasaan adalah alat untuk menegakkan kemaslahatan.

Ketika sarana berubah menjadi tujuan, manusia mulai kehilangan kemerdekaannya.

Ia bekerja bukan lagi karena amanah, tetapi karena ambisi.

Ia mencari harta bukan lagi untuk kemaslahatan, tetapi demi gengsi.

Ia mengejar jabatan bukan untuk melayani, tetapi untuk meninggikan diri.

Ia bahkan dapat menjadikan agama sebagai kendaraan bagi kepentingan dirinya.

Di situlah manusia yang secara lahiriah merdeka justru menjadi budak bagi dunia.

Padahal manusia tidak pernah diberi jaminan berapa lama ia akan menikmati apa yang dikumpulkannya.

Allah berfirman:

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

“Dan tidak ada suatu jiwa pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34)

Kita tidak tahu kapan perjalanan kehidupan ini berakhir. Tidak tahu kapan halaman terakhir kehidupan kita ditulis.

Sementara Allah telah memberikan peringatan yang sangat jelas:

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ

“Apa yang ada di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl: 96)

Maka sungguh ironis jika manusia menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengejar sesuatu yang pasti ditinggalkan, sementara melupakan sesuatu yang kekal.

Kita tidak tahu kapan mati, tetapi kita tahu dunia akan ditinggalkan.

Karena itu, kemerdekaan sejati bukanlah ketika manusia berhasil memiliki dunia sebanyak-banyaknya.

Kemerdekaan sejati adalah ketika dunia tidak lagi memiliki hati kita.

Seorang Muslim boleh memiliki harta, tetapi tidak boleh menjadi hamba harta.

Boleh memiliki jabatan, tetapi tidak boleh menjadi hamba jabatan.

Boleh memiliki kekuasaan, tetapi tidak boleh menjadi hamba kekuasaan.

Boleh membangun peradaban, tetapi tidak boleh menjadikan peradaban sebagai pengganti tujuan penciptaannya.

Allah-lah tujuan. Dunia adalah jalan.

Inilah kemerdekaan yang dibangun oleh tauhid.

Tauhid membebaskan manusia dari ketundukan kepada segala sesuatu selain Allah. Ia membebaskan akal dari kesesatan, hati dari keterikatan kepada dunia, jiwa dari perbudakan hawa nafsu, dan kehidupan dari orientasi yang semata-mata material.

Maka tugas seorang Muslim bukan meninggalkan dunia.

Tugasnya adalah menempatkan dunia di tempat yang semestinya.

Dunia di tangan, bukan di hati.

Dunia digunakan, bukan disembah.

Dunia dikelola, bukan dipertuhankan.

Dunia dijadikan bekal, bukan tujuan.

Sebab ketika Allah menjadi tujuan tertinggi, manusia akan mampu berdiri tegak di hadapan dunia.

Ia tidak mudah dibeli oleh harta.

Tidak mudah ditundukkan oleh jabatan.

Tidak mudah dikendalikan oleh popularitas.

Tidak mudah dikalahkan oleh ancaman kehilangan dunia.

Inilah jiwa yang merdeka.

Dan inilah kemerdekaan yang harus terus diperjuangkan umat Islam:

Merdeka dari kebodohan dengan ilmu.
Merdeka dari kemiskinan dengan kemandirian.
Merdeka dari kezaliman dengan keadilan.
Merdeka dari hawa nafsu dengan takwa.
Dan merdeka dari penghambaan kepada makhluk dengan tauhid.

Karena pada akhirnya, manusia hanya benar-benar merdeka ketika ia menjadi hamba Allah.

فَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ، وَلَا تَكُونُوا عِبَادَ الدُّنْيَا

Jadilah hamba-hamba Allah, dan jangan menjadi hamba dunia.

Dan ketika kematian datang, yang menentukan keselamatan kita bukan seberapa banyak dunia yang berhasil kita kuasai, tetapi seberapa banyak dunia yang berhasil kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Itulah kemerdekaan sejati.
Bukan bebas untuk hidup sesuka hati, tetapi bebas dari segala sesuatu yang menghalangi manusia untuk hidup sebagai hamba Allah.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *