Oleh Muhammad Hidayatullah, Ketua Biro Kaderisasi Ulama Dewan Da’wah Jatim
Dewandakwahjatim.com, JATIM — Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur menggelar Wisuda ke-5 pada Sabtu, 15 Agustus 2026, bertempat di Aula Edupark eLKISI. Mengusung tema “Meneguhkan Amanah Dakwah: Dari Pembinaan Menuju Pengabdian”, kegiatan tersebut menjadi momentum pelepasan 25 wisudawan dan wisudawati untuk memasuki fase pengabdian di tengah masyarakat.
Wisuda ini tidak sekadar menandai selesainya masa pendidikan, tetapi menjadi gerbang menuju medan dakwah. Setelah menjalani proses pembinaan, para lulusan akan melaksanakan pengabdian atau praktik dakwah selama satu tahun di daerah-daerah yang telah ditentukan.
Direktur ADI Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Ust. Dr. Hairul Warizin, S.E., M.M., menyampaikan bahwa setelah menyelesaikan pendidikan, para kader akan bertugas di sejumlah daerah di Jawa Timur. Sebagian lainnya akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, termasuk ke Al-Azhar Mesir dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir.
Sementara itu, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Jawa Timur, Dr. KH. Fathur Rohman, M.Pd.I., menegaskan bahwa tugas utama para kader adalah mendakwahkan agama Allah.
“Kalian dididik selama setahun, dipersiapkan menjadi dai. Setelah itu pengabdian, plus belajar terus-menerus,” tuturnya.
Menurut KH. Fathur, kelulusan bukan berarti berakhirnya proses pendidikan. Justru setelah menjadi dai, proses belajar harus terus berjalan karena medan dakwah senantiasa menghadirkan persoalan dan tantangan baru.
“Jadi ada tugas baru, yaitu sebagai dai di manapun dan kapanpun. Ini kewajiban yang harus selalu ditunaikan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan luasnya medan dakwah di Indonesia. Para kader Dewan Dakwah harus memiliki kesiapan untuk ditempatkan di berbagai daerah.
“Cakupan dakwah di negeri ini sangat luas. Negeri ini harus diselamatkan dengan dakwah. Kita jaga NKRI ini dengan dakwah. Oleh karena itu, ditugaskan di mana dan ke mana saja harus selalu siap,” ujarnya.
Dakwah dan Tradisi Literasi
Ada hal menarik yang turut mewarnai Wisuda ke-5 ADI Jawa Timur. Pada kesempatan tersebut juga dibagikan buku karya bersama para mahasantri berjudul Jejak Pemikiran Islam.
Buku tersebut merupakan bagian dari tugas literasi mahasiswa, sekaligus menjadi salah satu bentuk pembiasaan agar calon dai tidak hanya terampil menyampaikan gagasan secara lisan, tetapi juga mampu membaca, menelaah, menulis, dan mendokumentasikan pemikiran dalam bentuk karya.
Tradisi literasi ini menjadi penting dalam kaderisasi dai. Sebab, medan dakwah hari ini tidak cukup hanya dihadapi dengan kemampuan berbicara di mimbar. Dai juga dituntut mampu membaca perubahan zaman, memahami perkembangan pemikiran, mengolah informasi, serta menghadirkan gagasan Islam secara argumentatif dan mencerahkan.
Kehadiran buku Jejak Pemikiran Islam dalam momentum wisuda menjadi simbol bahwa ilmu yang dipelajari tidak berhenti di ruang kelas, tetapi mulai ditransformasikan menjadi karya yang dapat dibaca dan diwariskan.
Dengan demikian, kaderisasi ADI memiliki dua dimensi yang saling menguatkan: pengabdian di tengah masyarakat dan pengembangan tradisi intelektual.
25 Wisudawan, 17 Mahasiswa dari Berbagai Daerah
Pada momentum Wisuda ke-5 ini, sebanyak 25 wisudawan dan wisudawati resmi menyelesaikan proses pendidikan mereka.
Adapun dalam proses pendidikan ADI saat ini terdapat 17 mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), Mentawai, Jawa Timur, dan sejumlah daerah lainnya.
Keragaman asal daerah tersebut menjadi bagian dari proses kaderisasi Dewan Dakwah untuk menyiapkan sumber daya dai yang memiliki pengalaman sosial dan budaya yang beragam.
Para lulusan selanjutnya akan menjalani masa pengabdian selama satu tahun. Mereka akan ditempatkan di daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan praktik dakwah secara langsung bersama masyarakat.
Bagi Dewan Dakwah, proses tersebut merupakan bagian penting dari perjalanan seorang dai: dibina, belajar, mengabdi, dan terus belajar.
KH. Fathur Rohman juga mengutip pesan Ketua Dewan Dakwah Jawa Timur terdahulu, Kiai Misbach (Allahuyarham), tentang ukuran keberhasilan seorang dai.
Dengan nada seloroh, ia menyampaikan bahwa suksesnya seorang dai adalah ketika ia bahkan dijadikan menantu oleh kepala suku setempat atau tokoh daerah setempat.
Seloroh tersebut menyimpan pesan bahwa keberhasilan dai bukan semata-mata diukur dari kemampuan berbicara di hadapan jamaah, tetapi dari sejauh mana ia mampu membangun kedekatan, kepercayaan, keteladanan, dan hubungan sosial dengan masyarakat yang didakwahinya.
Dai harus mampu hadir sebagai bagian dari masyarakat, memahami kehidupan mereka, dan menjadi teladan sebelum menjadi pengajar.
Pada akhirnya, Wisuda ke-5 ADI Jawa Timur menjadi pertemuan tiga amanah sekaligus: amanah ilmu, amanah literasi, dan amanah dakwah.
Sebanyak 26 wisudawan dan wisudawati meninggalkan ruang pembinaan bukan untuk berhenti belajar, melainkan untuk memasuki ruang kehidupan yang lebih luas.
Mereka membawa ilmu untuk mengabdi, membawa karya untuk dibaca, dan membawa amanah untuk ditunaikan.
Dari pembinaan menuju pengabdian. Dari literasi menuju kontribusi. Dari menjadi mahasiswa menuju menjadi dai—di mana pun dan kapan pun.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
