Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Bangsa ini sesungguhnya tidak sedang kekurangan orang pandai berbicara. Hampir setiap hari kita mendengar pidato tentang perubahan, keadilan, pendidikan, moralitas, bahkan agama. Kata-kata yang indah memenuhi ruang publik. Namun, sejarah tidak dibangun oleh retorika. Sejarah dibangun oleh manusia yang mampu mengubah keyakinan menjadi tindakan, ilmu menjadi karya, dan amanah menjadi peradaban.
Mungkin inilah pelajaran terbesar yang diwariskan oleh para pendiri bangsa dan tokoh-tokoh Islam Indonesia. Mohammad Natsir, Buya Hamka, Kasman Singodimedjo, Syafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Mohammad Roem, A.R. Fakhruddin, Panglima Besar Jenderal Soedirman, dan banyak tokoh lainnya tidak dikenang karena kefasihan berbicara semata. Mereka dikenang karena meninggalkan jejak pengabdian yang nyata. Ilmu mereka melahirkan karya. Akidah mereka melahirkan integritas. Kepemimpinan mereka melahirkan keteladanan.
Pertanyaannya, mengapa mereka mampu hidup seperti itu?
Jawabannya mungkin tidak cukup dicari pada kecerdasan intelektual, organisasi tempat mereka berjuang, atau jabatan yang mereka emban. Ada fondasi yang lebih dalam, yaitu cara mereka memandang ilmu, kehidupan, dan kebenaran. Ketika wahyu menjadi pusat cara berpikir, lahirlah manusia yang tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri. Ilmunya menjadi amanah. Kekuasaannya menjadi tanggung jawab. Seluruh hidupnya berubah menjadi pengabdian.
Inilah yang dalam Seri Epistemologi Qurani dipahami sebagai proses pembentukan manusia melalui epistemologi. Iqra’ bukan sekadar perintah membaca, tetapi fondasi cara mengetahui. Tauhid menjadi orientasi seluruh ilmu. Worldview Wahyu membentuk cara memandang realitas. Dengan fondasi inilah lahir Ulul Albab, manusia yang mampu melihat segala sesuatu dalam cahaya wahyu. Dari sanalah tumbuh Generasi Tauhidik.
Generasi Tauhidik tidak diukur dari banyaknya slogan keagamaan, tetapi dari besarnya manfaat yang mereka hadirkan. Mereka tidak menjadikan agama sebagai identitas yang dibanggakan, melainkan sebagai amanah yang diwujudkan dalam karya nyata. Mereka memahami bahwa penghambaan kepada Allah harus melahirkan pelayanan kepada manusia.
Karena itu, identitas Generasi Tauhidik sangat sederhana, tetapi mengandung makna yang mendalam:
Hidup untuk Allah. Berkarya untuk manusia. Membangun Peradaban Tauhidik sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Di sinilah pendidikan menemukan makna sejatinya. Tugas pendidikan bukan hanya mencetak manusia yang pintar berbicara, tetapi membentuk manusia yang benar cara berpikirnya, lurus akhlaknya, kuat amanahnya, dan nyata kontribusinya. Sebab ukuran keberhasilan pendidikan bukan banyaknya ijazah yang dibagikan, melainkan banyaknya manusia yang menghadirkan manfaat bagi kehidupan.
Bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak retorika. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak karya yang lahir dari jiwa tauhidik. Sebab hanya manusia yang telah selesai dengan dirinya sendiri yang mampu mengabdikan hidupnya untuk Allah, berkarya bagi manusia, dan membangun peradaban yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
