Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul) serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Momentum hijrah dari 1447 ke 1448 H bukan hanya perpindahan waktu, tetapi perjalanan spiritual dari mengenal Allah menuju mencintai Allah.
Di sinilah My God is Cool dan Divine Words: Finding True Love menjadi dua tahapan perjalanan yang saling melengkapi.
My God is Cool adalah perjalanan Makrifatullah. Sebuah upaya membaca tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di alam semesta. Langit, bumi, galaksi, DNA, hukum-hukum alam, keteraturan kosmos, hingga kesadaran manusia menjadi jendela untuk mengenal Sang Pencipta. Buku ini mengajak akal bertanya, merenung, lalu sampai pada kesimpulan bahwa di balik seluruh keteraturan itu terdapat Allah Yang Maha Agung.
Karena seseorang tidak mungkin mencintai sesuatu yang belum ia kenal.
Makrifat mendahului mahabbah.
Pengenalan mendahului kecintaan.
Kesadaran mendahului penghambaan.
Namun mengenal Allah saja belum cukup.
Iblis mengenal Allah.
Firaun mengetahui keberadaan Allah.
Banyak orang mengakui Allah ada, tetapi hatinya tidak terpaut kepada-Nya.
Karena itu perjalanan harus dilanjutkan.
Setelah akal mengenal Allah melalui ayat-ayat kauniyah, hati harus mengenal kelembutan-Nya melalui ayat-ayat qauliyah.
Di sinilah Divine Words: Finding True Love mengambil peran sebagai perjalanan Mahabbatullah. Al-Qur’an tidak lagi dibaca sekadar sebagai kitab petunjuk, tetapi sebagai Kalam Ilahi yang memperkenalkan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Jika semesta membuat manusia kagum kepada Allah, maka Al-Qur’an membuat manusia jatuh cinta kepada Allah.
Maka urutan perjalanan Geprek Series sebenarnya sangat indah:
Geprek Anti Galau → menyembuhkan luka manusia.
The Real Enemy is Within → membersihkan penghalang dalam diri.
My God is Cool → membawa manusia kepada Makrifatullah.
Divine Words: Finding True Love → membawa manusia kepada Mahabbatullah.
Dan puncaknya adalah apa yang disebut Al-Qur’an sebagai Ulul Albab: manusia yang akalnya mengenal Allah, hatinya mencintai Allah, dan hidupnya mengabdi kepada Allah.
Karena tujuan akhir makrifat bukan sekadar mengetahui bahwa Allah ada.
Tetapi sampai pada kondisi ketika hati berkata:
“Rabbana ma khalaqta hadza bathila.”
Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia.
Saat itulah semesta tidak lagi menjadi objek pengetahuan, melainkan jalan menuju cinta kepada Sang Pencipta. Dan itulah hakikat hijrah dari 1447 menuju 1448 H: dari Makrifatullah menuju Mahabbatullah, dari kekaguman menuju kerinduan, dari mengenal Allah menuju mencintai Allah.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
