Peradaban yang Dibantai depan Publik Dunia lewat Media Massa dan Sosial

Oleh Sudono Syueb, Pengurus DDII Jatim Bidang Kominfo

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Ada sebuah syair Arab yang menceritakan tentang sebuah kota atau peradaban dihancurkan baik fisik, sosial dan psikologis secara keji oleh kekuatan zalim, seperti peradan Irak, Libiya dan Palestina dan kini mau lran lalu pertontonkah di depan publik dunia lewat media massa dan sosial. Syair tersebut telah digubah jadi lagu elegi yang sangat menyayat hati. Berikut ini syairnya
هُنَا…… هُنَا….
اَلنِّدَاءُ الْأَخِيرُ
لِمَدِينَةٍ تُذْبَحُ عَلَى الْهَوَاءِ
هُنَا…
اَلسَّمَاءُ لَا تَنْسَى الشُّهُودَ
مَنْ غَسَلَ الْجَرِيمَةَ بِالْكَلَامِ
سَيَفْضَحُهُ دُخَانُ الْحَرِيقِ

Di sini…… di sini….
Panggilan terakhir
Untuk sebuah kota/peradaban yang dijhancurkan (di depan publik dunia) lewat siaran langsung
Di sini…
Langit tidak akan melupakan para saksi
Siapa pun yang membasuh kejahatan dengan kata-kata
Akan dibongkar aibnya oleh jelaga merah mrmbara


Analisis Makna dan Metafora.

Syair ini sangat kuat, menggunakan bahasa simbolis untuk menggambarkan ketidakadilan, tragedi, dan kebenaran yang tidak bisa disembunyika:

  1. (النداء الاخير لمدينة تذبح على الهوا)
  2. Panggilan terakhir untuk kota/peradaban yang disembelih di siaran langsung”

Frasa “ala al-hawa” secara harfiah berarti “di udara”, yang dalam istilah modern berarti live broadcast atau siaran langsung. Ini menyiratkan sebuah tragedi kemanusiaan besar yang terjadi di depan mata dunia (melalui media massa dan sosial), namun dunia hanya menonton tanpa mampu atau mau menghentikannya. Kata “disembelih” menggambarkan kekejaman yang sangat ekstrem.

٢. (السماء لا تنس الشهود)

  1. Langit tidak akan melupakan para saksi”

Makna “Langit” di sini adalah simbol keadilan ilahi atau Tuhan. Sifatnya transenden. Ketika hukum manusia di bumi gagal, pengadilan langit tetap mencatat segala kesaksian dan penderitaan korban.

٣. (من غسل الجريمة بالكلام سيفضحه دخان الحريق)

  1. Siapa yang membasuh kejahatan dengan kata-kata, akan dibongkar aibnya oleh asap kebakaran

Maknanya: Ini adalah sindiran tajam untuk propaganda, retorika politik, atau media yang mencoba menutupi, memperhalus, atau membenarkan sebuah kejahatan/pembantaian (whitewashing). Namun, puisi ini menegaskan bahwa kebohongan itu sia-sia. “Asap kebakaran” (bukti nyata dari kehancuran dan penderitaan di lapangan) akan selalu membubung tinggi ke langit, menjadi bukti visual yang membongkar semua narasi palsu tersebut.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *