HUTANG YANG TIDAK PERNAH TERBAYAR

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Sursbaya — Ketika Ibnu Umar memperhatikan lelaki yang sedang menggendong ibunya dalam thawaf sambil bersenandung melantunkan syair yang artinya “diriku adalah tunggangan yang patuh tidak seperti tunggangan lain yang suka lari meninggalkan penunggangnya”.

Tiba-tiba lelaki itu, berkata kepada Ibnu Umar, “Ya Ibnu Umar, aku telah menggendong ibuku untuk melaksanakan thawaf dengan penuh kepatuhan, apakah itu artinya aku sudah menebus dan membalas kasih sayangnya?”, jawabnya, BELUM!, yang engkau lakukan hanyalah satu kebaikan yang baru sepadan dengan satu jeritan sakit ketika ibumu melahirkan”. Hadits nabi: Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَجْزِى وَلَدٌ وَالِدَهُ إِلاَّ أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوْكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ

Artinya: “Seorang anak tidak dapat
membalas budi kedua orang tuanya kecuali jika dia menemukannya dalam keadaan diperbudak, lalu dia membelinya kemudian membebaskannya.” (HR Bukhori)

Hutang kasih sayang ibu adalah hutang batin yang tak ternilai dan mustahil dibayar dengan materi. Cinta tanpa syarat, pengorbanan, dan do’a tulusnya tidak akan pernah bisa kita balas sepenuhnya. Satu-satunya cara memuliakannya adalah dengan berbakti, membahagiakannya di masa tua.

Menjelaskan pengorbanan ibu yang mengandung dalam kondisi lemah yang bertambah-tambah, serta menyapihnya. QS. Luqman 14.

Mengingatkan perjuangan ibu saat mengandung dan melahirkan dengan susah payah. QS. Al-Ahqaf Ayat 15:

Dulu, tangan merekalah yang menuntun langkahmu saat kakimu belum mampu berdiri.

Pelukan merekalah yang menenangkanmu saat tangismu tak bisa dihentikan.

Mereka rela kurang tidur demi memastikan kamu tumbuh dengan baik, rela menahan lelah demi melihatmu tersenyum.

Mereka tak pernah menghitung berapa banyak pengorbanan yang sudah diberikan, sebab baginya kebahagiaan anak adalah segalanya.

Jangan biarkan orang tuamu menua dalam kesepian.

Namun waktu terus berjalan, rambut yang dulu hitam kini mulai memutih. Punggung yang dulu kuat kini mulai membungkuk. Maka ibu memerlukan teman komunikasi, teman cerita, bahkan kita diminta “walau tanpa suara” mendengarkan ibu bercerita dan hendaknya bisa menjadi pendengar yang baik.

Dalam hal ini, teringat Hadits panjang yang dikeluarkan Imam Muslim dalam Shahih-nya mengenai kisah Juraij. Yang intinya ketika Juraij dipanggil oleh ibunya sedangkan ia sedang shalat, Juraij lebih mementingkan shalatnya dan tidak memenuhi panggilan ibunya. Akhirnya ibunya mendoakan keburukan padanya dan terkabul.

Imam An Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan: “Para ulama mengatakan: ‘ini dalil bahwa yang benar adalah memenuhi panggilan ibu, karena Juraij sedang melakukan shalat sunnah. Terus melanjutkan shalat hukumnya sunnah, tidak wajib. Sedangkan menjawab panggilan ibu dan berbuat baik padanya itu wajib, dan mendurhakainya itu haram’”.

Langkah yang dulu cepat kini mulai pelan. Dan di saat mereka mulai membutuhkan perhatian, jangan sampai mereka justru merasa sendirian.

Karena orang tua tak pernah meminta dibalas dengan harta. Mereka hanya ingin ditemani, didengar, dan dirasakan bahwa perjuangannya tidak sia-sia.

Berbakti pada orang tua merupakan perintah wajib dalam ajaran agama Islam. Pentingnya birrul walidain tercatat dalam Al-Quran yang menyebutkan perintah berbakti setelah perintah tauhid.

Begitu pentingnya bakti anak pada orang tua hingga Allah Ta’ala menghadiahkan surga bagi mereka yang memperlakukan orang tua dengan hormat dan selalu mengutamakan mereka.

Merawat Orang Tua

Ingatkah ketika Anda sakit saat masih kecil? Orang tua lah yang selalu merawat dan menjaga Anda dengan penuh kasih sayang agar Anda lekas sembuh. Begitu juga sebaliknya saat orang tua sudah renta dan tak bisa melakukan banyak hal sendirian, Andalah yang harus membantu dan merawat orang tua.

Rawatlah orang tua Anda dengan telaten dan sabar. Apalagi jika kondisi orang tua sedang sakit dan hanya bisa berbaring di tempat tidur. Anda harus mau merawat dan melayani segala aktivitas mereka. Mulai dari memandikan, mengganti baju, hingga menyuapi makanan.

Saat ini banyak orang yang sengaja menitipkan orang tua mereka ke panti jompo dengan alasan kesibukan. Hal tersebut tentu akan membuat orang tua sedih dan merasa dibuang karena sudah tidak bisa melakukan apa-apa yang menguntungkan bagi si anak.

Marilah meniru tabi’in Uwais yang membuat cemburu padanya, karena ada perintah dari Rasûlullâh untuk melihat kondisi bagaimana Uwais merawat ibunya yang sudah tua.

sekelas Umar bin Khathab radhiallahu’anhu dan yang lainnya dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk menemui Uwais. Hal ini disebabkan begitu hebatnya birrul walidain Uwais terhadap ibunya. Nabi bersabda:

إن خيرَ التابعين رجلٌ يقالُ له أويسٌ . وله والدةٌ . وكان به بياضٌ . فمروه فليستغفرْ لكم

“sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang lelaki bernama Uwais, ia memiliki seorang ibu, dan ia memiliki tanda putih di tubuhnya. Maka temuilah ia dan mintalah ampunan kepada Allah melalui dia untuk kalian” (HR. Muslim).

Sesungguhnya Allah berwasiat tiga kali kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat” (HR. Ibnu Majah).

Semoga kita termasuk orang-orang yang dianugerahi surga berkat bakti kepada orang tua dengan mengharap ridha dan pertolongan Allah Ta’ala.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *