Ketika Ilmu Menjadi Jalan Pulang, Bukan Panggung Kesombongan

Catatan Kecil dari Perspektif Epistemologi Qurani

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), serta Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Salah satu krisis terbesar manusia modern bukan kekurangan informasi, tetapi kehilangan orientasi dalam memandang ilmu.

Hari ini manusia mampu:

mengakses jutaan data,

membaca ribuan teori,

dan berbicara tentang banyak hal.

Namun ironisnya, semakin tinggi ilmu seseorang, kadang semakin sulit ia tunduk kepada kebenaran.

Ilmu yang seharusnya melahirkan kerendahan hati, justru berubah menjadi bahan bakar ego.

Diskusi berubah menjadi arena kemenangan.
Pengetahuan berubah menjadi identitas sosial.
Dan intelektualitas perlahan berubah menjadi panggung kesombongan yang dibungkus istilah-istilah ilmiah.

Di sinilah sebenarnya letak pentingnya:

epistemologi Qurani.

Karena Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan manusia untuk berpikir, tetapi juga mengajarkan:

bagaimana cara berpikir yang benar.

Dalam perspektif epistemologi modern, kebenaran sering diposisikan hanya sebagai hasil:

rasionalitas,

observasi,

atau konstruksi manusia.

Sedangkan epistemologi Qurani meletakkan:

wahyu sebagai cahaya orientasi berpikir.

Artinya: akal tetap digunakan, logika tetap dihormati, diskusi tetap dibuka, tetapi semuanya tetap berada dalam:

kesadaran tauhid.

Karena akal tanpa wahyu mudah tersesat oleh ego.

Dan ego intelektual adalah salah satu penyakit paling halus dalam dunia ilmu.

Manusia merasa:

semakin tahu,

semakin layak didengar,

semakin sulit menerima kritik,

bahkan kadang merasa dirinya pusat kebenaran.

Padahal Al-Qur’an justru menggambarkan manusia terbaik sebagai:

Ulul Albab.

Bukan sekadar manusia cerdas, tetapi manusia yang:

berpikir,

berdzikir,

bertafakkur,

dan akhirnya tunduk kepada Allah.

Mereka melihat langit dan bumi, merenungi kehidupan, lalu berkata:

“Ya Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.”

Inilah inti epistemoogi Qurani:

berpikir yang melahirkan ketundukan,

bukan kesombongan.

Karena tujuan akhir ilmu dalam Islam bukan sekadar mengetahui, tetapi:

mengenal Allah dan memahami amanah kehidupan.

Maka dalam perspektif ini, ilmu bukan alat untuk merasa lebih tinggi daripada manusia lain.

Ilmu adalah:

amanah.

Semakin luas wawasan seseorang, semakin besar tanggung jawab moralnya.

Semakin tinggi pengetahuannya, seharusnya semakin dalam kerendahan hatinya.

Sebab bisa jadi, orang yang paling berbahaya bukan orang bodoh, tetapi: orang berilmu yang kehilangan adab dan keikhlasan.

Karena itu, epistemologi Qurani tidak hanya berbicara tentang:

sumber pengetahuan,

metodologi berpikir,

atau validitas kebenaran.

Tetapi juga berbicara tentang:

kebersihan hati orang yang mencari ilmu.

Sebab hati yang dipenuhi ego akan sulit menerima cahaya hikmah.

Dan ilmu yang tidak melahirkan ketundukan kepada Allah, perlahan hanya akan menjadi:

kesombongan yang diberi legitimasi intelektual.

Maka sebelum manusia sibuk memperluas wawasan, ia perlu terlebih dahulu:

meluruskan niat,

memenjarakan ego,

dan menyadari bahwa seluruh ilmu pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Karena tujuan akhir ilmu bukan: menjadi manusia yang paling dikagumi.

Tetapi menjadi manusia:

yang paling sadar,

paling amanah,

dan paling siap kembali kepada Allah dengan hati yang tunduk.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *