Oleh Dr. Slamet Muliono Redjosari, Pengurus Dewan Da’wah Jawa Timur
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Sejak awal orang kafir menolak kebenaran Al-Qur’an dengan mengajukan argument yang bertentangan. Namun Al-Qur’an langsung memberikan bantahan yang meruntuhkan argumen itu. Ketika orang kafir menyembah kepada selain Allah, maka datang bantahan yang mengerdilkan peran tuhan palsu yang tidak bisa memberi manfaat. Demikian pula ketika rang kafir meragukan hari kebangkitan, maka datang bantahan bahwa Allah mengetahui semua benda yang tersimpan di bumi dengan catatan yang lengkap dan sempurna.
Pemikiran Aneh dan Jawaban Indah
Allah menegaskan bahwa orang kafir senantiasa mengeluarkan pemikiran aneh dan bertentangan dengan nalar sehat. Namun Allah langsung membantah dengan menunjukkan argumen yang lebih kuat dan sulit terbantahkan. Bahkan penjelasan Al-Qur’an itu benar dan terbaik penjelasannya. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَلَا يَأْتُوْنَكَ بِمَثَلٍ اِلَّا جِئْنٰكَ بِا لْحَـقِّ وَاَ حْسَنَ تَفْسِيْرًا
“Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik.” (QS. Al-Furqan : 33)
Berikut paparan Al-Qur’an atas keraguan dan pemikiran aneh orang kafir serta bantahan Allah yang sangat jelas dan baik dalam menjawab keraguan itu. Di antaranya tentang penolakan manusia menyembah hanya kepada Allah dengan beraalih kepada sesembahan kepada selain-Nya. Termasuk juga manusia menolak hari kebangkitan, dan Allah membantahnya dengan dengan argumen yang tak terbantahkan.
Menolak Penyembahan Tunggal
Salah satu contoh pemikiran aneh yang ditunjukkan orang kafir, di antaranya menolak menyembah Allah saja, dengan menyembah sesembahan selain Allah. maka Al-Qur’an memberi argumen yang sangat baik, jelas, dan bisa diterima akal sehat. Al-Qur’an langsung menampilkan penjelasan bahwa Allah bisa memberi manfaat serta menyelamatkan manusia dari bencana. Sementara sesembahan tidak memberi manfaat atau mudharat kepada drinya atau orang yang menyembahnya. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya. :
وَيَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُهُمْ وَلَا يَضُرُّهُمْ ۗ وَكَا نَ الْـكَا فِرُ عَلٰى رَبِّهٖ ظَهِيْرًا
“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak memberi manfaat kepada mereka dan tidak (pula) mendatangkan bencana kepada mereka. Orang-orang kafir adalah penolong (setan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya.” (QS. Al-Furqan : 55)
Bahkan Al-Qur’an menjelaskan bahwa watak dasar orang kafir berakar pada kedurhakaan yang dipandu oleh makhluk terlaknat setan. Sebagaimana diketahui bahwa setan merupakan makhluk terkutuk. Dikatakan terkutuk, karena menolak perintah Allah untuk sujud (sebagai bentuk penghormatan) kepada Adam. Setan telah berbuat durhaka kepada Allah, dan itu diikuti oleh orang kafir.
Demikian pula ketika orang kafir menolak hari kebangkitan. Mereka beragumen bahwa ketika manusia mati dan badannya hancur menjadi tanah, tidak mungkin bisa kembali kepada bentuk semula yang utuh untuk dimintai pertanggungjawaban. Al-Qur’an mengabadikan pertanyaan aneh itu sebagaimana firman-Nya :
ءَاِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابًا ۚ ذٰ لِكَ رَجۡعٌ ۢ بَعِيۡدٌ
Apakah apabila kami telah mati dan sudah menjadi tanah (akan kembali lagi)? Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin. (QS. Qaf : 2)
Pertanyaan akan kebenaran hari kebangkitan langsung merupakan hilangnya nalar sehat, dan seolah-olah manusia hidup tanpa diawali dengan proses penciptaan yang berawal dari ketiadaan. Bukankah manusia diciptakan dari air mani, kemudian berproses menjadi darah, tulang belulang dan daging hingga tumbuh membesar hingga lahir ke dunia sebagai sosok bayi. Bukankah hal itu sangat mudah bagi Allah melahirkan sesuatu dari yang tiada.
Oleh karena itu, mereka tercengang ketika datang berita yang akan membangkitkan mereka menjadi makhluk yang sempurna setelah kehancurannya, pasca kematian. Ketercengangan manusia itu diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
بَلۡ عَجِبُوۡۤا اَنۡ جَآءَهُمۡ مُّنۡذِرٌ مِّنۡهُمۡ فَقَالَ الۡكٰفِرُوۡنَ هٰذَا شَىۡءٌ عَجِيۡبٌۚ
(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, “Ini adalah suatu yang sangat ajaib.”
Atas ketercengangan itu, Al-Qur’an langsung memberi penjelasan sangat baik dan gamblang. Al-Qur’an menunjukkan bahwa Allah bukan hanya mampu mengumpulkan jasad-jasad yang hancur, tetapi mengetahui kemana saja tubuh yang hancur itu berada. Al-Qur’an pun menegaskan bahwa Allah memiliki catatan yang terpelihara dengan baik. Catatan itu menyimpan seluruh arsip dan terpelihara, tanpa rusak atau hancur. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
قَدۡ عَلِمۡنَا مَا تَنۡقُصُ الۡاَرۡضُ مِنۡهُمۡۚ وَعِنۡدَنَا كِتٰبٌ حَفِيۡظٌ
Sungguh, Kami telah mengetahui apa yang ditelan bumi dari (tubuh) mereka, sebab pada Kami ada kitab (catatan) yang terpelihara baik. . (QS. Qaf : 4) قٓ ۚ وَالۡقُرۡاٰنِ الۡمَجِيۡدِۚ
Maka sangat pantas apabila Al-Qur’an disebut kitab yang mulia karena menyampaikan berita yang pasti, tidak ada keraguan dan kedustaan. Namun watak kekafiran yang melekat dalam diri manusia kafir telah menyingkirkan penjelasan yanag abaik dan sempurna. Kekuasaan Allah sangat kokoh dan mudah bagi Allah untuk menciptakan sesuatu dan sangat mudah untuk mengulang penciptaan. Hal ini berbeda dengan manusia yang penuh dengan keterbatasan dan kelemahan, sehingga tidak bisa menciptakan hal baru serta sulit menyatukan Kembali sesuai yang berserakan dengan rapi.
Manusia makhluk lemah namun senantiasa membantah kepada pedoman yang diciptakan dan dipandu langsung dari Sang Pencipta. Allah layak dan pantas disembah karena sebagai Tuhan yang bia menciptakan sesuatu dan menghilangkannya karena ada kemaslahan.
Sementara manusia justru terjebak dengan sesembahan yang mengetahu manfaat dan hakekat penciptaan. Bahkan menciptakan dirinya sendiri tidak mampu. Sementara Allah, Tuhan Maha Kuasa dan Bijaksana pantas disembah karena satu-satunya Dzat yang tidak bisa ditandingi kekuasaan-Nya.
Surabaya, 7 Mei 2026
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
