INTROSPEKSI DIRI, OBAT KETENANGAN JIWA

Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Kita sering melihat orang duduk tidak jenak, membaca tidak bisa pokus, berjalan kesana kemari atau sering menyendiri dari keramaian, ini menunjukan bahwa dirinya ada masalah serius yang sedang melanda pada dirinya. Bahkan ada diantara mereka yang Ketika dirinya dalam kondisi 0 (kosong) dia pergi ke hutan hanya untuk mencari ketenangan jiwanya atau ke rumah sakit hanya sekedar introspeksi diri atau membayangkan bahwa mereka yang ada disini ini raganya sedang sakit tetapi diriku yang sehat tapi kok sakit.

Pernahkah Anda merasa sesak tanpa sebab, tidur tidak nyenyak, pikiran bercabang, atau hati terasa sempit padahal semua tampak baik-baik saja? Hal tersebut bisa jadi merefleksikan jiwa yang sedang sakit atau haus akan ketenangan. Sayangnya, banyak orang kehilangan arah dalam mencari ketenangan, yang akhirnya memicu gangguan psikologis seperti kecemasan, stres, dan gelisah berkepanjangan.

Ketenangan adalah sebuah hal yang sangat penting dalam hidup, terutama ketika dihadapkan dengan berbagai masalah dan tantangan yang terus menerus datang. Setiap orang pasti pernah merasakan kehilangan arah atau kehilangan semangat saat menghadapi masalah hidup yang kompleks. Menjaga ketenangan jiwa menjadi salah satu kunci utama untuk tangguh menghadapi segala macam rintangan.

Kita akan menemukan betapa banyak praktek-praktek yang memang terbukti mampu mendatangkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa orang. Misalnya, sebutlah ber semedhi , bertapa, atau berkonsultasi, atau terapi psikologis lainnya. Hal-hal tersebut memang terbukti mampu mendatangkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa orang yang melakukannya. Namun, apakah syariat Islam yang mulia dan sempurna ini membenarkannya? Atau minimal mengizinkannya? Atau; apakah kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa tersebut -jika memang terjadi- apakah hakiki dan abadi? Inilah permasalahannya.

Ketenangan jiwa menurut Agama Hindu
Jiwanya gelisah, emosionya tertekan, cemas, atau takut akan ketidakpastian, sering kali ditandai dengan perasaan tidak tenang, khawatir, dan lelah batin. Mengatasinya dapat dilakukan melalui pendekatan spiritual (zikir, doa, sabar) untuk ketenangan hati, maupun relaksasi fisik (meditasi, pola hidup sehat) dan konseling profesional.

Ketenangan jiwa (kedamaian batin) menurut Hindu, adalah keadaan seimbang antara pikiran, jiwa, dan tindakan yang bersumber dari keharmonisan hubungan dengan Tuhan (Parahyangan), sesama (Pawongan), dan lingkungan (Palemahan). Ini dicapai melalui ritual penyucian diri (melukat/sembahyang), pengendalian diri, serta penerapan nilai dharma (kebenaran).

Kitab Sarasamuscaya Sloka 31 menasihati agar manusia tidak hanya menuruti keinginan, melainkan mengendalikan pikiran agar mencapai ketenangan. Dalam konteks Hindu, ketenangan jiwa (shanti) juga sering dikaitkan dengan perilaku ksama (kesabaran) dan dama (pengendalian diri), yang menjadi jalan menuju ketenangan.

Ketenangan jiwa menurut Kresten
Ketenangan jiwa dalam Kristen bersumber dari kepercayaan total kepada Allah, penyerahan beban hidup, dan damai sejahtera yang diberikan Yesus Kristus (Filipi 4:6-7). Ketenangan ini didapat dengan datang kepada Yesus, berdiam diri, dan mengandalkan-Nya sebagai gunung batu yang teguh (Matius 11:28-29; Mazmur 46:11).
Berikut beberapa ayat Alkitab tentang ketenangan jiwa:
• Matius 11:28-29: “Datanglah kepada-Ku, semua yang lelah dan berbeban berat, dan Aku akan memberi kamu istirahat… dan kamu akan menemukan ketenangan bagi jiwamu” Bible to Life.
• Filipi 4:6-7: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga… Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” Orami.
• Mazmur 46:11: “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi” .
• Yohanes 14:27: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu… Janganlah gelisah dan gentar hatimu”.
• Mazmur 62:2: “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku”

Ketenangan jiwa menurut penganut keprcayaan
Ketenangan jiwa dalam aliran kepercayaan (khususnya Kejawen/Kebahagiaan didasarkan pada piwulang (ajaran), sastra, atau karya sastra suluk yang diwariskan secara turun-temurun, serta melalui praktik spiritual (meditasi/olah rasa). Untuk mencapai ketengan, kehidupan yang ada tiga konsep yangharus dilakukan:

  1. Konsep Utama: Sangkan Paraning Dumadi
    Ketenangan sejati dicapai ketika manusia menyadari dari mana ia berasal (sangkan) dan ke mana ia akan kembali (paran), yaitu menyatu dengan Tuhan (Gusti Allah/Gusti Pangeran) (dumadi). Ketenangan didapat dengan pasrah total kepada kehendak Yang Maha Kuasa.
  2. Ajaran Nrimo Ing Pandum (Menerima Pemberian)
    Prinsip ini menekankan bahwa ketenangan batin diperoleh dengan menerima segala keadaan yang diatur oleh alam semesta (Tuhan) dengan tulus. Ini adalah wujud dari “stoikisme Jawa” untuk menjauhkan diri dari kecemasan.
  3. Falsafah Sluman Slumun Slamet
    Falsafah ini mengajarkan bahwa meskipun hidup penuh tantangan, dengan kehati-hatian dan kepasrahan (doa), manusia akan mendapatkan ketentraman diri dan keselamatan batin.

Ketenangan hati adalah dambaan setiap manusia. Dalam Islam, ketentraman bukan dicapai melalui pelarian duniawi, melainkan melalui kesadaran spiritual yang menghubungkan hati kepada Allah. Dengan menguatkan iman, mendekat melalui ibadah, serta memahami makna di balik setiap ujian, seseorang dapat menemukan ketenangan sejati yang tak mudah terguncang oleh keadaan luar.
Ajaran Islam melalui Al-Qur’an dan teladan para sahabat membuktikan bahwa kesehatan mental dan spiritual saling terhubung erat. Dengan mengikuti jalan yang diajarkan Islam, setiap jiwa memiliki peluang untuk pulih, tenang, dan kembali pada fitrah ketenangan yang hakiki.

Ketenangan hati bukanlah sesuatu yang abstrak ia dapat diraih melalui kedekatan dengan Allah dan kebiasaan membaca Al-Qur’an secara rutin. Untuk menemani perjalanan ruhani Anda.

Ketenangan (sakinah) adalah kedamaian jiwa yang bersumber dari iman, dzikir, dan kepasrahan kepada Allah SWT (tawakal). Ketenangan hakiki dicapai dengan mengingat Allah, bersyukur, bersabar, serta menjauhi maksiat. Hati yang tenang tidak bergantung pada materi, melainkan pada koneksi spiritual dengan Sang Pencipta. Dalam surat Al Fath 1 disebut dengan sakiinata fii quluubi al mu’miniin, dalam Ar Ra’d 28 disebut tathmainu al quluub dan di Ar Rum 21 sakinah mawaddah warrahmah.

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْۗ

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka . QS. Al Fath 1

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. Ar Ra’d 28

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” QS. Arrum 21.

Ketenangan hati (tuma’ninah) menurut Imam al-Ghazali adalah kondisi jiwa (nafs) yang bersih dari nafsu rendah, tenang, dan damai karena ma’rifatullah (mengenal Allah). Hati mencapai ketenangan melalui penyucian diri (tazkiyatun nafs), dzikir, dan taat, menjadikannya pusat kendali diri yang sehat, jauh dari kegelisahan akibat duniawi.

يٰۤاَيَّتُهَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَٮِٕنَّةُارۡجِعِىۡۤ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرۡضِيَّةًفَادۡخُلِىۡ فِىۡ عِبٰدِىۙوَادۡخُلِىۡ جَنَّتِى‌  

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.. QS. Al Fath 27 – 30.

Pada zaman ini, banyak permasalahan yang dihadapi setiap manusia -dan khususnya kaum Muslimin-, baik yang berkaitan dengan masalah lahir, batin, ataupun kejiwaan. Dari sini, muncullah berbagai macam usaha untuk mengatasi problematika kehidupan. Tujuan utamanya, pada dasarnya hanya satu, yaitu; mendapatkan kepuasan hati, ketenteraman hidup, dan ketenangan jiwa.

Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ini ada segumpal daging, jika ia (segumpal daging) tersebut baik, baiklah seluruh jasadnya, dan jika ia (segumpal daging) tersebut rusak (buruk), maka rusaklah (buruklah) seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati .

Oleh karena itu, jika ingin selamat dari hal-hal yang dapat merusak agama kita, bahkan dalam hal aqidah, hendaknya seorang muslim senantiasa berhati-hati dan waspada, serta penuh pertimbangan demi keselamatan agamanya, dan bertanya, apakah perbuatan yang dilakukan untuk pencarian kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa berhubungan dengan aqidah? Ataukah bagaimana?

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *