Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِࣖ
Lailatul Qadar adalah malam mulia di bulan Ramadan, yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, di mana Al-Qur’an diturunkan dan malaikat turun membawa rahmat. Malam ini dirahasiakan Allah tetapi diyakini terjadi pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadan. Amalan utama meliputi iktikaf, salat malam, zikir, dan doa.
Lailatul Qadar, salah satu malam paling istimewa dalam bulan Ramadan, yang secara khusus ditandai sebagai momen turunnya Al-Qur’an (petunjuk) dan menjadi momentum revolusi (perubahan mendasar) dalam kehidupan umat manusia. Malam ini lebih baik dari seribu bulan, menjadikannya puncak spiritual kehidupan manusia di sepuluh malam terakhir Ramadan.
Malam yang oleh Al-Qur’an disebut lebih baik daripada seribu bulan lebih dari delapan puluh tiga tahun kehidupan manusia. Artinya, satu malam saja dapat memiliki nilai yang melampaui seluruh umur seseorang.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: mengapa satu malam bisa begitu berharga? Al-Qur’an memberi petunjuk tentang hal itu. Dalam Surah Ad-Dukhan disebutkan bahwa pada malam tersebut “ditetapkan segala urusan yang penuh hikmah” (yufraqu kullu amrin hakim). Dalam banyak riwayat Ahlulbait dijelaskan bahwa pada malam Lailatul Qadar ditentukan berbagai urusan kehidupan manusia untuk setahun ke depan: rezeki, ajal, peristiwa-peristiwa hidup, serta jalan takdirnya.
حم, وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ، إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ. فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ، أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ, رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Artinya: “Haa mim. Demi Kitab (Al-Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (Q.S. al-Dukhan [44]: 1-6
Malam Lailatul Qodar menawarkan transformasi mendalam bagi individu yang meraihnya, mengubah arah hidup dari kegelapan menuju cahaya, dan dari ketidaksadaran menuju kesadaran Ilahi.
• Revolusi Spiritual dan Penyucian Diri: Lailatul Qadar adalah momen puncak ampunan, di mana dosa-dosa terdahulu diampuni bagi mereka yang beribadah dengan iman dan harapan. Ini adalah titik balik spiritual (revolusi diri) yang membersihkan jiwa, ditandai dengan hati yang lebih lembut dan peningkatan kesadaran beribadah.
• Transformasi Nilai Hidup (Lebih Baik dari 1000 Bulan): Dengan nilai yang melebihi seribu bulan (sekitar 83 tahun lebih), malam ini memberi kesempatan kepada manusia untuk melampaui keterbatasan umur fisik dalam hal ibadah. Satu malam yang berkualitas dapat mengubah arah hidup seseorang seumur hidup, setara dengan ibadah seumur hidup manusia.
• Revolusi Pemikiran dan Kesadaran (Nuzulul Qur’an): Lailatul Qadar adalah waktu diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk. Hal ini menuntut manusia melakukan revolusi pemikiran, menggeser paradigma dari ketidaktahuan (jahiliyah) menjadi manusia yang berilmu, kreatif, dan produktif—sejalan dengan semangat “Iqra”.
• Perubahan Takdir dan Arah Hidup: Malam ini adalah momen ditetapkannya takdir dan urusan-urusan manusia untuk satu tahun ke depan. Ini memotivasi manusia untuk mengubah nasib dengan berdoa, berusaha, dan berikhtiar secara maksimal di malam tersebut.
Lailatul Qadar sering dikaitkan dengan momentum revolusi kehidup seseorang, yakni ketika seseorang mendapatkan hidayah yang mengubah jalan hidupnya menjadi lebih baik. Ini adalah malam di mana seseorang benar-benar mengalami kesadaran spiritual mendalam yang mendorongnya untuk berubah secara total.
Konsep ini sejalan dengan pemikiran KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha’) yang menekankan bahwa umat Islam tidak perlu risau, apakah akan mendapat Lailatul Qadar atau tidak. Yang terpenting adalah berbaik sangka kepada Allah bahwa Ia akan memberikan ampunan dan rahmat.
Dua Peristiwa Besar
Bulan Ramadhan selalu dikaitkan dengan dua peristiwa penting dalam tradisi Islam: Lailatul Qadar dan Nuzulul Qur’an. Keduanya sering dipahami sebagai peristiwa spiritual yang bersifat ritual semata, terutama terkait malam tertentu yang penuh keberkahan.
اَخْبَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ قَالَ هِيَ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ فِى الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ لَيْلَةَ اِحْدَيْ وَعِشْرِيْنَ اَوْثَلَثَةٍ وَعِشْرِيْنَ اَوْسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ اَوْ تِسْعٍ وَعِشْرِيْنَ اَوْ اَخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ مَنْ قَامَهَا اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مِنْ ذَنْبِهِ مَا تَقَدَّمَ وَمَا تَأَخَّرّ . (رواه احمد)
Rasulullah SAW mengabarkan kepada kami tentang Lailatul Qadar, beliau bersabda: dia (Lailatul Qadar) di bulan Ramadhan di puluhan yang akhir yaitu malam 21, 23, 25, 27 atau malam 29, atau di akhir malam Ramadhan. Barang siapa mengerjakan bangun untuk beribadah pada malam itu karena iman dan mengharap ridho Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. (HR. Ahmad)
عَنْ عَآئِشةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ اَرَاَيْتَ اِنْ عَلِمْتُ اَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا اَقُلُ فِيْهَا قَالَ قُوْلِيْ اَللَّهُمَّ اِنَّكَ عَفْوٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي (رواه الترمذي)
Dari ‘Aisyah katanya: “Saya bertanya kepada Rasulullh SAW: Bagaimana jika saya dapat mengetahui malam Qadar itu, apakah yang baik saya katakan pada malam itu ? Jawab beliau: Katakanlah olehmu: ” Ya Allah sesungguhnya Engkau pengampun, suka mengampuni kesalahan, maka ampunilah kiranya kesalahanku.” HR. Tirmidzi
Namun jika kita kembali kepada Al-Qur’an, kedua istilah ini memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia bukan hanya momentum waktu, tetapi juga menggambarkan proses turunnya petunjuk Ilahi ke dalam kehidupan manusia.
Allah berfirman, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan tentang petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang salah.” QS. Al-Baqarah 2:185:
Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Qur’an sebagai hudan (petunjuk) bagi manusia.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآن
Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” Yang menarik, Al-Qur’an tidak menyebut tanggal tertentu, tetapi menyebut satu bulan penuh. Artinya, proses turunnya petunjuk Ilahi tidak harus dipahami hanya sebagai satu malam tertentu, tetapi sebagai proses pembinaan yang berlangsung sepanjang Ramadhan.
Untuk memahami ini, kita dapat melihat perbedaan konteks kalimat.
Contoh sederhananya :
“Syahri lahir di bulan Ramadhan.”
“Syahri berpuasa di bulan Ramadhan.”
Kalimat pertama menunjukkan satu peristiwa tunggal, karena seseorang hanya lahir sekali.
Sedangkan kalimat kedua menunjukkan aktivitas yang berlangsung sepanjang bulan.
Demikian pula dengan Ramadhan. Turunnya petunjuk bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi juga proses yang terus berlangsung dalam kehidupan manusia.
Malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh berkah dan lebih baik dari seribu bulan. Keutamaan malam ini disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis shahih. Sebagai umat Islam, kita dianjurkan untuk menghidupkan malam ini dengan ibadah berdasarkan tuntunan Rasulullah
Lailatul Qadar: Bukan Sekadar Malam yang Dicari
Dalam pemahaman umum, Lailatul Qadar sering dipersempit sebagai malam tertentu pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Namun jika dilihat dari makna spiritualnya, Lailatul Qadar adalah keadaan ketika Al-Qur’an benar-benar menjadi ruh kehidupan manusia.
Al-Qur’an menyebutnya sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan dalam Surah Al-Qadr.
Artinya, satu momentum kesadaran yang benar dapat menghasilkan perubahan hidup yang jauh melampaui perjalanan waktu yang panjang.
Dalam perspektif ini, setiap malam Ramadhan berpotensi menjadi Lailatul Qadar.
Karena pada malam hari manusia berada dalam keadaan lebih tenang dan reflektif. Pada saat itulah seseorang dapat melakukan qiyam Ramadhan, merenungkan petunjuk Al-Qur’an, dan menata kembali arah hidupnya.
Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang ditunggu, tetapi keadaan ketika hidup seseorang mulai sejalan dengan petunjuk Allah.
Admin; Kominfo DDII Jatim
