Oleh: Nofa Miftahudin
Alumni YTP 2008
Dewandakwahjatim.com, Malang – Pada Senin, 30 Maret 2020, Suasana syawal masih menggelayuti, Alhamdulillah mendapatkan sebuah pelajaran hidup yang sederhana, namun menghujam dalam hati. Dalam sebuah silaturahim ke Pak Kiai, Bu Nyai dan Ustadz yang saya hormati, beliau menyampaikan satu ungkapan yang sampai hari ini terus terngiang:
“Menjadi Pegawai Allah itu tidak ada masa pensiun yang menggaji langsung Allah.” Suara KH. Ali Mansyur Kastam yang sahdu dengan wajah yang sejuk dan nada canda penuh senyuman.
Kalimat ini bukan sekadar motivasi. Ia adalah cara pandang hidup. Di tengah dunia yang serba materialistik, manusia berlomba menjadi pegawai negeri, karyawan perusahaan, atau pengusaha besar. Semua itu baik. Namun, ada satu “profesi” yang sering terlupakan padahal paling mulia dan paling aman secara jaminan yaitu menjadi pegawai Allah.
Pegawai Allah bukan jabatan formal. Ia adalah status ruhani. Siapa pun yang mengabdikan hidupnya untuk agama Allah, berdakwah, mengajar, membantu umat, menghidupkan syiar Islam dialah pegawai Allah.
Pegawai Allah tidak akan pernah ditelantarkan Jaminan dari Allah. Bukan Janji Kosong Allah SWT berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Jika hewan saja dijamin, apalagi hamba yang mengabdikan hidupnya untuk agama-Nya.
Dalam ayat lain:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3)
Inilah “gaji” dari Allah SWT sering datang tanpa diduga, tanpa diminta, bahkan tanpa diperhitungkan.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; pagi hari keluar dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Pada waktu yang berdekatan setelah silaturahmi dari Pak KH. Ali Mansyur Kastam lanjut silaturrahim ke Bu Nyai Nanik dan Ustadz Sudarji. Beliau berdua mengisahkan banyak keberkahan dalam menjadi Pegawai Allah yaitu menjadi pengurus pondok pesantren. Seolah-olah berbagai properti dan aneka kemudahan Allah gelontorkan kepada Beliau.
Tidak ada kata mustahil menjadi pegawai Allah SWT sekaligus menjadi pegawai atau pengusaha. Karena dalam berkontribusi di dalam agama Allah SWT itu sangatlah luas. Berkontribusi dengan harta, tenaga, fikiran, waktu, tempat, jabatan dan lain sebagainya.
Allah SWT juga memberikan jaminan yang menggiurkan yaitu berupa pertolongan dari Allah SWT untuk hambanya yang menolong Agama-Nya. Firman Allah SWT :
إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan meneguhkan langkah kalian.” (QS. Muhammad: 7)
Kita sebagai manusia biasa menyadari bahwa semua pencapaian, prestasi, cita-cita, hajat yang kita lampui itu semata-mata karena pertolongan Allah SWT dan minimnya ikhtiar yang dilakukan. Pertolongan Allah yang begitu hebat dibandingkan dengan ikhtiar kita yang pas-pasan. Maka layak bagi kita melibatkan Allah SWT di setiap urusan sehingga mendapatkan pertolongan-Nya.
Menjadi pegawai Allah bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya. Tapi menjadikan dunia sebagai alat, bukan tujuan. Kita tetap bisa berdagang, bekerja, berkarya. Namun hati dan niat kita untuk Allah, demi agama Allah, dan dalam rangka mengabdi kepada Allah
Semoga Allah menunjuk kita semua menjadi Pegawai Allah dan istiqomah sampai akhir hayat kita. Aamiin yaa Robb.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
