Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Wahyu pertama bukanlah shalat melainkan Iqra’ (bacalah) karena Islam memprioritaskan fondasi ilmu pengetahuan, literasi, dan kesadaran (intelektualitas) sebelum kewajiban ritual. Perintah ini menandai pentingnya memahami tanda-tanda kebesaran Allah, membaca situasi zaman, serta mengenali diri sendiri demi membangun peradaban yang beradab dan berketuhanan. Strategi Revolusi Peradaban dalam Blueprint Qur’ani
Pendahuluan: Urutan Wahyu Bukan Kebetulan
Wahyu pertama, QS. Al-‘Alaq 1-5 (Iqra’), bukanlah kebetulan, melainkan fondasi peradaban berbasis ilmu pengetahuan dan tauhid. Perintah membaca menandai dimulainya literasi, mengenali Tuhan, dan memahami diri serta alam semesta. Ini adalah kunci awal pendidikan dan pembebasan umat dari kebodohan, bukan sekadar perintah tekstual.
Jika tujuan wahyu dianggap hanya untuk membentuk ritual, maka pemahaman tersebut sangat mereduksi makna wahyu yang sesungguhnya dalam pandangan Islam dan agama samawi lainnya. Wahyu bukan sekadar panduan tata cara ibadah fisik, melainkan sebuah komprehensif pedoman hidup.
Nah kalau Wahyu pertama tidak menjadi pondasi perubahan masyarakat maka tujuan wahyu berbentuk ritual, maka menjadi perintah pertama seharusnya:
Shalat
Puasa
Atau aturan ibadah formal seperti rukun Islam.
Namun yang pertama turun adalah: Bacalah (Qs. Al Iqro 1. اقراء)
Ini menunjukkan bahwa strategi wahyu bukan dimulai dari ritual, tetapi dari revolusi epistemologi. Revolusi epistemologi Iqra’ merujuk pada pergeseran paradigma fundamental yang dibawa oleh wahyu pertama (QS. Al-‘Alaq: 1-5), yang mengubah cara pandang manusia terhadap sumber, metode, dan tujuan pencarian ilmu pengetahuan. Iqra’ bukan sekadar perintah membaca teks, melainkan mandat keilmuan untuk membebaskan manusia dari kegelapan kebodohan (jahiliyah) menuju cahaya pengetahuan.
Iqra’ adalah Revolusi Sumber Ilmu
Sebelum Islam, masyarakat Arab pra-Islam hidup dalam tradisi lisan yang sangat kuat. Tingkat literasi rendah, kegiatan pencatatan minim, dan tradisi penulisan ilmiah hampir tidak dikenal. Bahkan bangsa Arab saat itu dikenal dengan istilah jahiliyah karena masih lebih menggunakan Okol (kekuatan) fisik dari pada pikirannya. Atau masih diselimuti kebodohan peradaban.
Perintah membaca berarti:
- Mengubah sumber pengetahuan
- Mengubah cara memahami realitas
- Mengubah standar kebenaran
Melihat dari sini menunjukan bahwa Islam agama yang membuat pemeluknya berkembang pesat dalam segala bidang.
Bangsa Arab saat itu hidup dalam sistem:
- tradisi lisan
- mitologi
- struktur suku
- otoritas elit
Yang menjadi pertanyaan, mengapa umat Islam dibelahan mana saja kelihatan kumuh tidak ada tanda tanda kemajuan. Maka akan sangat aneh jika ada orang-orang beriman yang malas membaca, terlebih memasang bross Islam di dadanya.
Iqra’ memutus dominasi itu, Ia memindahkan otoritas dari tradisi dan elite menjadi ilmu dan wahyu.
Bukan Shalat Dulu?
Salat Diwajibkan Belakangan, Perintah salat lima waktu secara terperinci baru diwajibkan kemudian, yaitu peristiwa Isra Mi’raj, sedangkan wahyu pertama adalah tahap awal kerasulan.
Karena ritual tanpa perubahan cara berpikir hanya melahirkan:
- formalisme
- simbolisme
- rutinitas kosong
Perubahan sejati dimulai dari:
- kesadaran
- pemahaman
- orientasi hidup
Shalat sendiri baru bermakna setelah manusia memahami:
- siapa Rabb-nya
- apa sistem hidupnya
- apa tujuan hidupnya
Tanpa fondasi ilmu, ritual bisa menjadi budaya tanpa transformasi.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editot: Sudono Syueb
