Oleh Djuwari Syaifudin, Wakil Sekretaris Bidang Pengembangan dan Pembinaan Daerah DDII Jatim
Dewandajwahjatim.com, Kediri – Kafda Mahasiswa ADI JATIM yang bertugas di Dewan Da’wah Kediri ada 6 mahasiswa empat (4) Ikhwan dan Dua (2) akhwat. Yang Ikhwan diletakan di desa Sumberejo Kepung Kediri, desa Bamban Banyakan Kediri, di Al Hilal Desa Remabang Kepuh Ngadiluwih Kediri, di desa Ringin Sari Kandat Kediri 2 akhwat dan 1 Ikhwan.
Di Masjid Al Hilal yang bertugas Salman Al Farisi, beliau menjadi imam sholatnya.
Dalam kultumnya penceramah menyampaikan, sebagai berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. QS. Al Baqoroh 183
Sejarah Turunnya Perintah Puasa Ramadhan
Perintah puasa Ramadhan turun pada tahun kedua Hijriah, tepatnya pada bulan Sya’ban. Pada saat itu, Nabi Muhammad SAW masih bermukim di Makkah. Sebelum hijrah ke Madinah, umat Islam belum diberikan kewajiban untuk berpuasa. Ibadah puasa yang mereka jalankan di Makkah tidak seperti puasa Ramadhan yang diwajibkan setelah hijrah.
Selain itu, dengan turunnya perintah puasa yang lebih awal, umat Islam diberi waktu untuk memahami bahwa puasa bukan sekedar menahan lapar dan haus, namun lebih dari itu, puasa adalah sarana untuk meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Puasa juga mengajarkan umat Islam tentang pentingnya disiplin diri, kesabaran, dan rasa empati terhadap orang-orang yang kurang mampu.
Penceramah juga menyampaikan, mengapa tahun ini 1447 H. Puasa di Indonesia jadi 2 yaitu, pertama jatuh pada hari Rabu, 18 februari 2026 M. Karena menggunakan hisaf atau kalender global,bahwa belahan dunia yang sama sudah bisa melihat bulan. Kedua Kamis, 19 Februari 2026 M. Menggunakan ru’yatul hilal melihat bulan secara langsung. Perbedaan ini adalah Rahmah yang harus selalu dijunjung tinggi.
Selain dari itu penceramah juga menyinggung bahwa umat Islam di Jawa Timur itu 97 % dari jumlah penduduk 49 juta jiwa beragama Islam. Namun yang menjalan sholat hanya 36, 7 %, la terus yang 62, 3 % gimana?. Dan dari 36,7 % itu yang sholat di Masjid cuma 3,6 %. Melihat jumlah tersebut menunjuk bahwa tugas Da’wah kita masih banyak lahan yang harus dikerjakan.
Masjid Dewan Da’wah Al Hilal Ngadiluwih Kediri menggunakan Tarwih 4, 4, 3 artinya tarwihnya dua salaman 4, 4 rekaat dan diakhiri witir 3 rekaat, ini menggunakan hadits Aisyah Ra.
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَتَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا
“ Baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah shalat malam melebihi sebelas raka’at . Beliau shalat empat raka’at ; jangan tanya soal bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi empat raka’at, jangan juga tanya soal bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat (witir) tiga raka’at . HR. Bukhori.
Kelakar penceramah, berarti boleh kan kalau di salam pertama yang dibaca surat Al Baqoroh sampai selesai, dan salam kedua yang dibaca surat Ali Imron sampai selesai, karena dasarnya حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ bagus dan panjang. Ya kalau ini di kerjakan oleh imam sholatnya tunggu saja kebanjiran jamaah karena sekarang para jamaah pada kesengsem sholat ala Rsulullah.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
