Resensi buku: Iqra’ sebagai Epistemologi Esensial Manusia

Menata Ulang Fondasi Pengetahuan dalam Perspektif Tauhid

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Spesifikasi Buku

Judul: Iqra’ sebagai Epistemologi Esensial Manusia: Sintesis Akal, Wahyu, dan Makna Hidup dalam Worldview Qur’ani
Seri: Seri Epistemologi Qur’ani 1
Penulis: Cak Muhid (Muhammad Hidayatulloh)
Editor: Dr. Hairul Warizin, S.E., M.M.
Penerbit: eLKISI, Mojokerto
Cetakan: Pertama, Februari 2026
Ukuran: 15 x 21 cm
Tebal: xiv + 304 halaman
ISBN: 978-602-6382-36-8

Krisis Pengetahuan sebagai Akar Krisis Manusia

Di tengah kemajuan sains dan teknologi, manusia modern justru menghadapi krisis makna yang mendalam. Informasi melimpah, tetapi arah hidup kabur. Rasionalitas berkembang, tetapi kesadaran eksistensial melemah.

Buku Iqra’ sebagai Epistemologi Esensial Manusia karya Cak Muhid hadir bukan sekadar sebagai refleksi spiritual, melainkan sebagai analisis epistemologis yang serius terhadap akar krisis tersebut.

Penulis mengajukan tesis penting:
masalah utama manusia modern bukan kekurangan pengetahuan, melainkan cara mengetahui yang terfragmentasi.

Pengetahuan dipisahkan dari nilai. Akal dipisahkan dari wahyu. Rasionalitas dilepaskan dari tujuan hidup. Akibatnya, manusia mengetahui semakin banyak, tetapi memahami semakin sedikit.

Iqra’: Wahyu Pertama sebagai Fondasi Epistemologi

Buku ini menjadikan QS. al-‘Alaq (1–5) sebagai teks dasar epistemologi Qur’ani. Iqra’ dipahami bukan hanya sebagai perintah membaca dalam arti literasi, tetapi sebagai deklarasi epistemologis tentang hakikat manusia sebagai makhluk yang mengetahui.

Dalam perspektif ini, membaca selalu terikat pada kalimat:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Artinya, pengetahuan tidak pernah netral. Ia harus berlangsung dalam kesadaran ketuhanan. Akal bukan otoritas absolut, melainkan mitra wahyu.

Epistemologi Qur’ani tidak menolak rasionalitas modern, tetapi menempatkannya dalam horizon makna yang lebih utuh.

Dialog Kritis dengan Epistemologi Modern

Salah satu kekuatan buku ini terletak pada keberaniannya berdialog dengan tradisi epistemologi Barat: rasionalisme, empirisme, positivisme, hingga postmodernisme.

Penulis tidak menolak secara apriori. Kontribusi pemikiran modern diakui. Namun, keterbatasan ontologis dan teleologisnya juga dikritisi secara sistematis.

Di sinilah letak urgensi buku ini bagi dakwah intelektual:
ia mengajak pembaca membangun kembali worldview Qur’ani yang integratif—menghubungkan akal, wahyu, dan tujuan hidup dalam satu sistem yang koheren.


Tauhid sebagai Prinsip Pembebasan Epistemologis

Pada bagian akhir, buku ini menempatkan tauhid bukan hanya sebagai doktrin akidah, tetapi sebagai prinsip epistemologis.

Tauhid membebaskan manusia dari “tuhan-tuhan modern”:
ego, ideologi, pasar, dan teknologi.

Dengan menjadikan tauhid sebagai pusat orientasi, pengetahuan tidak lagi menjadi alat kontrol dan dominasi, tetapi sarana pengabdian dan pembentukan manusia yang utuh.

Model ideal yang ditawarkan Al-Qur’an adalah Ulūl Albāb:
manusia yang berpikir jernih, berdzikir sadar, dan bertanggung jawab dalam membangun peradaban.

Nilai Strategis bagi Dakwah dan Pendidikan

Sebagai Seri Epistemologi Qur’ani 1, buku ini memiliki nilai strategis bagi:

  • Akademisi dan peneliti keislaman
  • Dai dan aktivis dakwah intelektual
  • Pendidik dan santri
  • Mahasiswa yang bergulat dengan persoalan worldview

Di tengah arus sekularisasi pengetahuan, karya ini menjadi pengingat bahwa Islam memiliki fondasi epistemologis yang kokoh dan relevan.

Catatan Kritis

Sebagai karya pemikiran, buku ini cukup padat dan konseptual. Pembaca membutuhkan keseriusan dan ketekunan. Ia bukan bacaan populer ringan, melainkan undangan intelektual untuk meninjau ulang cara kita mengetahui dan memaknai hidup.

Namun justru di situlah nilai utamanya: buku ini tidak menawarkan solusi instan, melainkan kerangka berpikir.

Penutup

Iqra’ sebagai Epistemologi Esensial Manusia bukan sekadar buku reflektif, tetapi bagian dari ikhtiar peradaban. Ia mengajak umat Islam untuk kembali menempatkan wahyu sebagai fondasi pengetahuan—tanpa mematikan akal, tanpa mengabaikan realitas.

Jika kebangkitan umat harus dimulai dari perbaikan cara berpikir, maka buku ini adalah salah satu langkah penting dalam arah tersebut.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *