Salah Pengasuhan di Indonesia: Belajar dari Kasus, Bergerak dengan Pengasuhan Positif.

Oleh : Kemas Adil Mastjik (Wakil Ketua Bidang Pendidikan Dewan Da’wah Jatim)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – “Tidak syak lagi, bahwa keluarga merupakan satu kesatuan (unit) yang terkecil dari masyarakat. Ia merupakan batu sendi, tempat membangun bermasyarakat dan bernegara” (M. Natsir, “Fiqhud Da’wah”, h.78)

Keluarga adalah madrasah pertama bagi anak. Di sanalah nilai, emosi, dan karakter mulai dibentuk. Namun realitas di Indonesia menunjukkan bahwa rumah—yang seharusnya menjadi tempat paling aman—sering kali justru menjadi ruang terjadinya kekerasan dan pengasuhan yang keliru. Berbagai kasus salah pengasuhan yang muncul di pemberitaan menjadi alarm serius bahwa persoalan ini tidak bisa lagi dianggap sepele.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ribuan laporan pelanggaran hak anak setiap tahun. Banyak di antaranya terjadi di lingkungan keluarga, dengan pelaku orang terdekat: orang tua, wali, atau pengasuh. Kasus anak dirantai oleh orang tuanya, penganiayaan dengan dalih “mendisiplinkan”, hingga pengabaian kebutuhan dasar seperti gizi dan kesehatan, menunjukkan bahwa kekerasan dan salah pengasuhan masih dianggap wajar oleh sebagian masyarakat.
Padahal, salah pengasuhan tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Bentakan, ancaman, penghinaan, pengabaian emosi, serta ketidakhadiran orang tua secara psikologis juga termasuk bentuk pengasuhan yang merusak. Anak mungkin tidak memar di tubuhnya, tetapi luka batinnya bisa bertahan jauh lebih lama.

Serangkaian peristiwa memperlihatkan bagaimana salah pengasuhan berujung pada luka batin, fisik, dan pelanggaran hak anak di negara ini:

Contoh contoh nyata kasus salah pengasuhan di Indonesia .

  1. Kasus Anak Meninggal di Sukabumi Akibat Pengasuhan Tidak Optimal
    Seorang anak perempuan usia 4 tahun di Sukabumi, Jawa Barat, meninggal dunia karena infeksi cacingan akut. Kementerian PPPA menyebut ada indikasi pengasuhan utama yang kurang optimal akibat salah satu orang tua diduga mengalami gangguan kesehatan mental, ditambah kondisi lingkungan yang tak sehat dan kurangnya akses layanan kesehatan. Kasus ini menjadi sorotan sebagai kurangnya perlindungan anak di tingkat keluarga dan lingkungan. (kemenpppa.go.id, 21-08-2025)
  2. Penganiayaan dan Pembunuhan Anak di Cilacap
    Kementerian PPPA mengecam kasus di Cilacap, Jawa Tengah, di mana seorang anak menjadi korban penganiayaan berulang oleh ibu kandung dan pasangannya, yang berujung pada kematian sang anak. Kasus seperti ini menunjukkan dampak ekstrem dari pola pengasuhan yang penuh kekerasan. (kemenpppa.go.id, 21-08-2025)
  3. Data KPAI 2024: Ribuan Kasus Perlindungan Anak Didominasi Isu Pengasuhan

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 2.057 pengaduan kasus pelanggaran hak anak sepanjang 2024, dan banyak di antaranya terkait konflik pengasuhan, termasuk kekerasan dalam keluarga. Ini menunjukkan pengasuhan bermasalah masih menjadi masalah besar di Indonesia. (www.metrotvnews.com, 18 July 2025)

  1. Laporan Kekerasan Anak Berdasarkan Klaster Pengasuhan
    Sepanjang Januari–Juni 2025, KPAI mencatat 973 kasus kekerasan terhadap anak. Sebagian besar kasus berasal dari lingkup keluarga dan pengasuhan alternatif (506 kasus atau sekitar 52 %). Ini mencakup kekerasan seksual dan penganiayaan pada anak. (news.batampos.co.id, 4 Agustus 2025)
  2. Kekerasan Seksual di Panti Asuhan
    Kementerian PPPA menindaklanjuti kasus dugaan kekerasan seksual yang terjadi di salah satu panti asuhan di Tangerang, Banten, dengan delapan korban, beberapa di antaranya masih anak-anak. Kasus ini mengingatkan pentingnya pengawasan lembaga pengasuhan alternatif.

Kasus-kasus semacam ini bukan sekadar berita; mereka adalah cermin bahwa pengasuhan yang salah dapat menghancurkan masa depan anak jika tidak ditangani secara serius.

Mengapa Salah Pengasuhan Terjadi?

Salah satu penyebab utama adalah minimnya literasi pengasuhan. Banyak orang tua tidak pernah belajar bagaimana mendidik anak sesuai tahap perkembangan. Pola asuh diwariskan begitu saja dari generasi sebelumnya—termasuk pola kekerasan—dengan keyakinan, “Saya dulu juga dididik seperti ini, dan baik-baik saja.”
Faktor lain adalah tekanan ekonomi dan sosial, perubahan zaman, serta tantangan digital yang membuat orang tua mudah lelah dan emosional. Ketika emosi orang tua tidak terkelola, anak sering menjadi pelampiasan. Dalam kondisi seperti ini, kekerasan kerap dibungkus dengan alasan cinta, disiplin, atau tanggung jawab.
Ironisnya, niat orang tua sering kali baik: ingin anak patuh, sukses, dan berakhlak. Namun cara yang ditempuh justru menjauhkan anak dari tujuan tersebut.

Dampak Jangka Panjang bagi Anak

Berbagai studi menunjukkan bahwa anak yang dibesarkan dalam pola asuh keras dan tidak responsif berisiko mengalami gangguan emosi, rendah diri, agresivitas, kecemasan, bahkan depresi. Dalam jangka panjang, mereka berpotensi mengulang pola yang sama saat menjadi orang tua. Inilah lingkaran setan salah pengasuhan yang terus berulang.
Karena itu, memperbaiki pola asuh bukan hanya urusan keluarga, tetapi investasi sosial dan peradaban.

Positive Parenting sebagai Jalan Perbaikan

Salah satu pendekatan yang semakin direkomendasikan adalah positive parenting—pengasuhan berbasis kasih sayang, ketegasan yang mendidik, dan penghormatan terhadap hak anak.
Prinsip pertamanya adalah membangun koneksi emosional sebelum koreksi perilaku. Anak yang merasa dicintai dan didengar akan lebih mudah diarahkan. Waktu khusus bersama anak, meski singkat, jauh lebih bermakna daripada kehadiran fisik tanpa perhatian.
Kedua, mengganti hukuman dengan konsekuensi yang mendidik. Alih-alih memukul atau membentak, orang tua dapat mengajak anak bertanggung jawab atas perbuatannya. Pendekatan ini mengajarkan tanggung jawab tanpa menanamkan rasa takut.
Ketiga, tegas tanpa kasar, lembut tanpa memanjakan. Aturan tetap diperlukan, tetapi harus konsisten dan disertai penjelasan. Anak perlu tahu alasan di balik larangan, bukan sekadar “pokoknya”.
Keempat, orang tua harus belajar mengelola emosinya sendiri. Anak belajar mengendalikan emosi bukan dari ceramah, melainkan dari teladan. Menunda reaksi saat marah adalah bentuk pendidikan yang sangat kuat.
Kelima, keterlibatan ayah menjadi kunci penting. Pengasuhan bukan hanya tugas ibu. Kehadiran ayah secara emosional terbukti memperkuat kesehatan mental dan kepercayaan diri anak.
Dalam konteks keluarga Muslim, nilai agama seharusnya hadir sebagai sumber kasih dan keteladanan, bukan ancaman. Rasulullah ﷺ mencontohkan kelembutan, dialog, dan penghargaan terhadap anak—bahkan dalam kondisi yang sulit.

Mulailah dari Keluarga

Kasus salah pengasuhan di Indonesia adalah cermin bagi kita semua. Anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang mau belajar dan memperbaiki diri. Rumah yang dipenuhi kasih, adab, dan keteladanan akan melahirkan generasi yang kuat secara moral dan emosional.
Perbaikan bangsa ini dimulai dari ruang paling kecil: keluarga. Dari sanalah lahir manusia-manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak dan berjiwa sehat.
(Rewwin, 31 Januari 2026)

Admin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *