Ironi Budaya Literasi, Kuota Internet, dan Tantangan Dakwah Umat

Buku Tidak Tergantikan, Bahkan oleh AI

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), Seri Epistemologi Qur’ani (6 judul)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
Salah satu keprihatinan besar umat hari ini adalah melemahnya budaya literasi, padahal Islam sejak awal dibangun di atas perintah membaca. Wahyu pertama tidak turun dengan perintah berbicara, berdebat, atau berteknologi, melainkan iqra’—bacalah. Ini menegaskan bahwa fondasi dakwah dan peradaban Islam adalah ilmu yang diperoleh melalui proses membaca, memahami, dan merenungkan.

Buku dalam tradisi dakwah bukan sekadar sumber informasi, melainkan sarana pembinaan akal dan ruh. Melalui buku, umat dilatih berpikir tertib, memahami dalil secara utuh, dan menempatkan sesuatu sesuai kadar dan maqamnya. Dakwah yang lahir dari budaya literasi akan melahirkan umat yang tenang, argumentatif, dan berakhlak. Sebaliknya, dakwah tanpa literasi mudah tergelincir menjadi reaktif, emosional, dan miskin hikmah.

Namun realitas hari ini menunjukkan ironi yang memprihatinkan. Budaya membaca melemah, sementara budaya scroll menguat. Banyak umat rajin mengonsumsi potongan ceramah, kutipan singkat, dan cuplikan video, tetapi jarang meluangkan waktu membaca secara utuh dan mendalam. Akibatnya, pemahaman agama sering parsial, sepotong-sepotong, bahkan saling bertabrakan. Semangat tinggi, tetapi landasan ilmunya rapuh.

Ironi itu semakin jelas ketika menyentuh soal prioritas hidup. Untuk kuota internet, dana disiapkan rutin setiap bulan tanpa banyak pertanyaan. Kuota menjadi kebutuhan primer—bahkan demi mengikuti konten keagamaan sekalipun. Namun ketika diajak membeli buku, kitab, atau bacaan bermutu, muncul alasan klasik: mahal, nanti saja, belum perlu. Padahal satu buku dakwah bisa membina cara berpikir bertahun-tahun, sementara kuota sering habis tanpa meninggalkan bekas keilmuan yang berarti.

Kini muncul pula tantangan baru: anggapan bahwa kecerdasan buatan dapat menggantikan buku dan proses belajar. AI dianggap cukup untuk menjawab persoalan agama dengan cepat dan praktis. Padahal dari sudut pandang dakwah, ini kekeliruan serius. AI hanya menyajikan jawaban, bukan membentuk adab berilmu. AI bisa membantu mencari, tetapi tidak mendidik akal untuk sabar, tawadhu, dan bertanggung jawab terhadap ilmu.

Buku mengajarkan umat untuk bertahap dalam memahami agama. Ada proses talaqqi makna, ada kesadaran akan perbedaan, ada ruang untuk hikmah. Buku melatih kesabaran intelektual—sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam dakwah. Tanpa proses ini, umat mudah terseret provokasi, gampang mengkafirkan, dan cepat menyalahkan. Ini bukan karena kurang semangat beragama, tetapi karena lemahnya fondasi literasi.

Dari sudut pandang dakwah, masalah utama umat hari ini bukan kurangnya teknologi, melainkan krisis adab dalam berilmu. Internet, media sosial, dan AI hanyalah alat. Tanpa budaya membaca yang kuat, alat-alat itu justru mempercepat kekacauan pemahaman. Dakwah menjadi bising, tetapi kehilangan hikmah. Ramai di ruang digital, tetapi kering di ruang intelektual.

Karena itu, menghidupkan kembali budaya literasi adalah agenda dakwah yang mendesak. Buku harus dikembalikan ke posisi sentral sebagai fondasi pembinaan umat. Bukan untuk menolak teknologi, tetapi untuk menuntunnya. Sebab dakwah yang kuat lahir dari akal yang tertata dan jiwa yang berilmu.

Buku tidak tergantikan, bahkan oleh AI.
Teknologi boleh berubah, metode boleh berkembang, tetapi fondasi dakwah tetap sama: ilmu yang dibaca, dipahami, dan diamalkan.

Dan umat yang kuat bukanlah umat yang paling cepat update,
melainkan umat yang paling kokoh cara berpikir dan paling matang dalam bersikap.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *