Lembaga Pendidikan sebagai Kawah Candradimuka Pembentuk Ulūl Albāb

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Wakil Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis buku: Geprek Series (4 judul), dan Seri Epistemologi Qur’ani (5 judul)

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Lembaga pendidikan—baik pesantren maupun sekolah formal—sering dipahami sebatas ruang transfer ilmu, keterampilan, dan nilai moral. Padahal dalam perspektif Al-Qur’an, pendidikan adalah proyek pembentukan manusia secara menyeluruh: cara berpikirnya, cara memandang realitas, dan cara menempatkan diri di hadapan kebenaran. Karena itu, yang dipertaruhkan bukan sekadar kecakapan lulusan, melainkan orientasi kesadaran yang dibentuk melalui proses pendidikan.

Krisis pendidikan hari ini sejatinya bukan krisis kurikulum atau metode semata, melainkan krisis tujuan. Pendidikan bergerak cepat mencetak manusia kompeten, namun sering kehilangan kejelasan tentang manusia seperti apa yang hendak dilahirkan. Di titik inilah Al-Qur’an memberikan rujukan yang sangat fundamental: sosok Ulūl Albāb sebagai tujuan pembentukan manusia.

Ulūl Albāb bukan kategori biologis atau akademik, melainkan kategori epistemologis. Ia menunjuk pada manusia yang tepat dalam cara mengetahui: mampu membaca realitas, tetapi tidak terjebak pada realitas; mampu berpikir mendalam, tetapi tidak memutlakkan akalnya; mampu menguasai ilmu, tetapi tetap sadar akan makna dan batas.

Di tengah pembahasan inilah Al-Qur’an menghadirkan ayat kunci yang mendefinisikan karakter tersebut:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۝ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا…

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulūl Albāb; yaitu mereka yang senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan dan berpikir secara mendalam tentang penciptaan langit dan bumi…” (QS. Āli ‘Imrān: 190–191)

Ayat ini menegaskan bahwa realitas tidak diposisikan sebagai objek netral, melainkan sebagai tanda yang harus dibaca. Dengan demikian, tugas pendidikan bukan sekadar mengajarkan pengetahuan tentang dunia, tetapi membentuk cara membaca dunia. Di sinilah lembaga pendidikan berfungsi sebagai kawah candradimuka: ruang pembentukan sudut pandang epistemologis Qur’ani.

Pesantren berperan kuat dalam pembinaan dzikir—pembentukan kesadaran batin dan keterhubungan dengan Allah. Sekolah formal unggul dalam pengembangan tafakkur—penguatan nalar, analisis, dan penguasaan ilmu. Namun ayat ini menegaskan bahwa Ulūl Albāb lahir bukan dari salah satu sisi saja, melainkan dari integrasi keduanya. Dzikir tanpa tafakkur berisiko mandek, tafakkur tanpa dzikir berisiko liar.

Karena itu, lembaga pendidikan tidak cukup hanya melahirkan santri yang taat atau siswa yang cerdas. Tugas utamanya adalah membentuk manusia yang tepat arah dalam berpikir, sadar akan tujuan hidup, dan mampu menempatkan ilmu sebagai amanah, bukan sekadar alat kuasa.

Jika ayat ini dijadikan fondasi, maka keberhasilan pendidikan tidak lagi semata diukur dari prestasi akademik, sertifikat, atau keterampilan teknis, tetapi dari sejauh mana lembaga pendidikan mampu melahirkan Ulūl Albāb: manusia dengan akal yang hidup, hati yang hadir, dan kesadaran bahwa hidup ini tidak diciptakan sia-sia.

Di situlah lembaga pendidikan menemukan jati dirinya—bukan hanya sebagai institusi pengajaran, tetapi sebagai ruang pembentukan manusia paripurna menurut Al-Qur’an.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *