TIDAK ADA USTADZ YANG TAK PERNAH SALAH, WAJIB SALING MENASEHATI, JANGAN SALING BENCI


Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id), Ketua Umum DDII

Dewandakwahjatim.com, Depok -  Setiap Muslim pasti mengakui bahwa “ukhuwah Islamiyah” adalah kondisi ideal yang seyogyanya dicapai oleh kaum Muslim. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,” kata sebuah syair lagu terkenal dari Group Nasyid Rabbani.  

Al-Quran menegaskan:“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…(QS al-Hujurat: 10). “…dan ingatlah akan nikmat Allah terhadap kalian tatkala kalian dahulu (di masa jahiliah) saling bermusuhan, kemudian Allah mempersatukan hati kalian, dan jadilah kalian bersaudara.” (QS Ali Imran:103).
Rasulullah SAW pun memberikan perumpamaan yang indah tentang persaudaraan Muslim: “Perumpamaan mukmin satu dengan mukmin lainnya dalam kelembutan dan kasih sayang, adalah laksana satu tubuh. Jika satu bagian tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh lainnya turut merasakannya.” (HR. Muslim).
Juga, sabda beliau SAW: “Mukmin satu sama lainnya bagaikan bangunan yang sebagiannya mengokohkan bagian lainnya.” (HR. Imam Bukhari).
Konsep-konsep ideal tentang ukhuwah Islamiyah ini banyak diterapkan dalam sejarah Islam. Sebuah contoh ukhuwah yang sangat ideal terjadi antara kaum Anshar dan Muhajirin di Madinah. Catatan Sejarah Islam di Indonesia – bahkan di wilayah Nusantara — juga kaya dengan kondisi ukhuwah yang ideal. Sebuah kisah terkenal adalah penggalangan armada perang Pati Unus (Abdul Qadir bin Yunus) tahun 1521 ke Malaka dalam rangka membebaskan Malaka dari kekuasaan Portugis. Pati Unus memimpin armada gabungan Banten, Demak, dan Cirebon, yang terdiri atas 375 kapal perang yang diproduksi di Gowa.


Contoh lain adalah saat Perang Diponegoro. Perang dahsyat ini dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, putra mahkota Kerajaan Mataram, yang juga dikenal sebagai Perang Jawa. Dalam perang yang berlangsung 1825-1830 inilah, sekitar 200 ribu rakyat Jawa gugur. Sementara VOC menelan kerugian sekitar 20 juta gulden dan 7.000 tentaranya mati.
Perang Diponegoro dapat berlangsung begitu dahsyat karena kuatnya ukhuwah antar berbagai golongan dalam Islam. Para ulama dari berbagai daerah memberikan dukungan kepada Pangeran Diponegoro. Kerjasama antara kaum priyayi dan kaum santri berlangsung dengan sangat kuat. Meskipun akhirnya Perang Diponegoro berakhir dengan dijebaknya Sang Pangeran oleh Belanda, tetapi para ulama kemudian melanjutkan perjuangan melalui pendidikan, dengan menyiapkan kader-kader pejuang.
Saat ini, penjajah – secara fisik – memang telah meninggalkan Indonesia. Kita sudah merdeka 80 tahun. Tetapi, penjajahan pemikiran dan peradaban sejatinya masih berlangsung. Paham-paham sekularisme-materialisme terus dipaksakan kepada umat Islam melalui berbagai media massa dan pendidikan. Dampaknya sangat serius terhadap perusakan pemikiran dan akhlak anak-anak muda muslim.
Karena itulah, dalam kondisi seperti ini, sudah sepatutnya berbagai kalangan umat Islam — khususnya para pemimpin dan ustadznya – perlu mengupayakan terjadinya sinergi dakwah dalam menghadapi tantangan utama. Mestinya para ustadz tidak punya waktu untuk menyerang dan membenci saudara-saudaranya sesama muslim. Mereka diwajibkan untuk saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran serta dengan kasih sayang. Jangan sampai saling membenci.


Allah SWT mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dengan cara bersinergi dan saling menguatkan satu sama lain; bukan saling melemahkan. Perbedaan pendapat dan potensi yang beragam justru harus dijadikan sebagai modal untuk membangun satu barisan perjuangan yang saling menguatkan satu sama lainnya. Itulah pesan Allah SWT dalam QS al-Shaff ayat 4.
Selama para ustadz itu masih muslim, maka mereka semua bersaudara.

Tidak ada ustadz yang tidak pernah salah. Di media sosial ada sejumlah ustadz yang memberikan koreksi atas pendapat ustadz lainnya. Tampak ada beberapa koreksian yang bagus, dengan menunjukkan bukti-bukti ilmiah. Alangkah baiknya, koreksi seperti itu juga disikapi secara ilmiah pula. Sedapat mungkin bisa dihindarkan adanya narasi kebencian.
Jika kita ikhlas berdakwah karena Allah, insyaAllah ukhuwah dalam kehidupan dan dakwah Islamiyah bisa diwujudkan. Tentulah para setan – jenis manusia dan jin – akan bergembira ria jika menyaksikan para ustadz saling mencaci di media sosial.


Semoga kita bisa belajar dari sejarah. Kapan saja para ulama Islam berpecah belah dan saling mencaci-maki, itu tanda-tanda musibah akan menimpa umat. Semoga Allah melindungi para ustadz kita dan juga kita semua dari berbagai aktivitas dakwah yang saling melemahkan antar sesama muslim. Amin. (Depok, 24 Maret 2025).

Admin: Komimfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *