Oleh: Muhammad Hidayatullah, Wakil Ketua Bidang Pengembangan Studi Al-Qur’an (PSQ) Dewan Da’wah Jatim
Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Dalam Islam, puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, puasa adalah perjalanan spiritual yang mengajarkan pengendalian diri, penyucian jiwa, dan peningkatan kualitas akhlak. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa esensi puasa tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga dengan bagaimana seseorang menjaga lisannya, emosinya, dan perilakunya dari hal-hal yang sia-sia dan merusak.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ، فَلْتَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ
Dari Abu Hurairah R.A berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukanlah puasa itu hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi puasa juga berarti menjaga diri dari perkataan sia-sia dan perbuatan buruk. Jika seseorang mencacimu atau berbuat jahil kepadamu, maka katakanlah: ‘Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa.'” (HR. Ibnu Huzaimah)
Kalimat إِنِّي صَائِمٌ (Inni Shoimun) dalam hadits ini menjadi pengingat bahwa puasa sejatinya adalah latihan kesabaran. Sabar bukan sekadar menahan emosi, tetapi juga bersikap bijak dan proporsional dalam menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan. Dengan kata lain, puasa bukan hanya menjaga aspek fikihnya, tetapi juga maknanya secara lebih luas.
Menjaga Perbuatan dan Lisan
Allah telah memberikan begitu banyak kesempatan bagi manusia untuk melakukan hal-hal bermanfaat. Maka, daripada terjebak dalam aktivitas yang sia-sia—apalagi yang berpotensi merugikan diri sendiri dan orang lain—seseorang yang berpuasa hendaknya selektif dalam memilih perbuatan. Minimal, jika tidak bisa memberi manfaat bagi orang lain, jangan sampai justru menimbulkan mudarat.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa lisan adalah salah satu hal paling berbahaya yang harus dijaga, terutama saat berpuasa. Kata-kata yang keluar dari mulut seseorang dapat menjadi sumber pahala, tetapi juga bisa menjadi sebab kehancuran, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, Islam menekankan pentingnya menjaga tutur kata agar tidak menyakiti orang lain, baik dalam bentuk hinaan, cacian, maupun perkataan yang merendahkan.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
قَوْلٌ مَّعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّن صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang disertai dengan perlakuan yang menyakitkan.” (QS. Al-Baqarah: 263)
Ayat ini menegaskan bahwa bahkan dalam hal kebaikan, seperti sedekah, seseorang harus tetap menjaga adabnya. Jika memberi sesuatu kepada orang lain saja harus dengan cara yang baik, apalagi dalam interaksi sosial sehari-hari. Jangan sampai puasa seseorang menjadi sia-sia hanya karena perkataan yang melukai hati orang lain.
Bahaya Ucapan atau Keputusan Seorang Pemimpin
Jika lisan seorang individu saja bisa berdampak besar dalam kehidupan sosial, bagaimana dengan seorang pemimpin yang keputusannya menyangkut kehidupan banyak orang?
Seorang pemimpin, baik dalam skala kecil seperti kepala keluarga maupun dalam skala besar seperti pemimpin negara, harus ekstra hati-hati dalam berkata dan mengambil keputusan. Karena satu keputusan yang salah bisa membawa dampak negatif yang luas, bahkan bisa merusak kehidupan banyak orang.
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan betapa besarnya tanggung jawab seorang pemimpin:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Seorang pemimpin yang gegabah dalam berbicara atau memutuskan sesuatu bisa menimbulkan kehancuran yang besar. Seperti pemimpin yang asal berbicara tanpa berpikir, sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat, atau pemimpin yang membuat keputusan tanpa pertimbangan matang, sehingga merugikan rakyatnya.
Allah juga mengingatkan dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan.” (QS. As-Saff: 2-3)
Ayat ini mengisyaratkan bahwa pemimpin harus memiliki integritas. Jangan sampai dia mengucapkan janji-janji manis tetapi tidak ditepati, atau berbicara dengan retorika indah tetapi kenyataannya penuh kebohongan.
Sejarah juga mencatat bahwa banyak kerajaan dan peradaban besar runtuh bukan karena kekuatan musuh dari luar, tetapi karena kelemahan pemimpinnya sendiri dalam menjaga lisan dan kebijakan.
Puasa sebagai Latihan Spiritual dan Kepemimpinan
Puasa sejatinya adalah latihan kepemimpinan atas diri sendiri. Jika seseorang mampu memimpin dirinya dengan baik—menahan diri dari hal-hal yang dilarang, menjaga ucapannya, dan membuat keputusan dengan bijak—maka dia juga akan lebih siap dalam memimpin orang lain.
Maka, jangan biarkan puasa kita hanya sekadar ritual menahan lapar dan haus. Jadikanlah puasa sebagai momentum untuk memperbaiki diri, mendekatkan hati kepada Allah, serta meningkatkan kualitas hubungan dengan sesama.
Seorang pemimpin yang menjalani puasa dengan benar akan lebih bisa merasakan penderitaan rakyatnya, lebih bisa menahan ego dalam mengambil keputusan, dan lebih bisa mengedepankan kemaslahatan daripada kepentingan pribadi.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Maka, mari jadikan puasa sebagai momentum untuk mengasah akhlak, baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin. Karena pemimpin sejati adalah dia yang mampu memimpin dirinya sebelum memimpin orang lain. Wallahu a’lam.
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
