Cinta kepada Allah Berbuah Ghirah  

Oleh: M. Anwar Djaelani

Pengurus Dewan Dakwah, Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Meski sempat berniat mundur karena ada uzur–yaitu faktor usia-, ghirah Imam Bonjol kembali menyala saat dilihatnya masjid dinistakan penjajah dengan menjadikannya sebagai kandang kuda. Dia-pun lalu bergerak, turun lagi ke medan juang.

Sementara pada 10 November 1945, di Pertempuran Surabaya, para pejuang terbakar ghirahnya karena KH Hasyim Asy’ari telah memaklumkan sebuah Resolusi Jihad. Lalu, kobaran ghirah itu makin membesar karena Bung Tomo menghidupkannya lewat pidato berapi-api dan diwarnai pekik takbir: Allahu-Akbar, Allahu-Akbar, Allahu-Akbar!
 
Kisah dan Ibrah

Apa itu ghirah? Ghirah adalah sebentuk kecemburuan seorang Mukmin yang dipicu oleh semangat pembelaan kepada agamanya Ghirah itu bagian dari ajaran Islam. Terbitnya ghirah, antara lain untuk menjawab ajaran mulia ini: “Barangsiapa melihat kemunkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dia mengubah hal itu dengan lisannya. Apabila juga tidak mampu, hendaklah dia ingkari dengan hatinya dan inilah selemah-lemah iman” (HR Muslim).

Ghirah adalah buah dari iman. Orang yang beriman akan tersinggung jika agamanya dihina. Dalam banyak contoh, keselamatan diri seorang Muslim akan dinomorsekiankan karena dia akan lebih mendahulukan kepentingan atau kehormatan agamanya.

Tentang ghirah, ada contoh menarik di zaman Rasulullah Saw. Suatu saat, seorang Muslimah membawa perhiasannya ke seorang tukang sepuh Yahudi dari Bani Qainuqa’. Sementara si tukang sepuh bekerja, si Muslimah duduk menunggu.


Tak berselang lama, datang sejumlah orang Yahudi lainnya dan meminta perempuan itu membuka penutup mukanya. Si Muslimah tentu saja menolak. Lalu, si tukang sepuh diam-diam menyangkutkan pakaian si Muslimah. Akibatnya, aurat si Muslimah tadi terbuka seketika dia berdiri. Spontan si Muslimah menjerit, sementara orang-orang Yahudi tertawa-tawa senang.

Kejadian tak patut itu didengar seorang pemuda Muslim. Lalu, dengan sigap dia membunuh si tukang sepuh. Tapi, pemuda itupun kemudian dibunuh pula oleh orang-orang Yahudi lainnya. Atas kejadian itu, Rasulullah Saw langsung memerintahkan untuk mengepung Bani Qainuqa’ sampai mereka menyerah dan semuanya diusir dari Madinah.

Peristiwa di atas dahsyat, bahwa kaum beriman telah memeragakan ghirahnya! Padahal bagi kebanyakan orang, awal dari peristiwa itu termasuk sesuatu yang sepele. Kata mereka yang tak faham agama, peristiwa itu tak lebih dari sekadar insiden kecil saja. Tapi bagi kaum beriman, respons atas insiden itulah yang disebut ghirah, “cemburu karena agama”.

Pemuda Muslim yang membela saudarinya dari gangguan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ tergerak karena adanya ikatan akidah yang kuat.  Menghina seorang Muslimah sama saja dengan merendahkan semua umat Islam.

Perihal ghirah, Hamka menulis buku: “Ghirah, Cemburu karena Allah”. Disebutkan, bahwa Imam Bonjol awalnya hendak mengundurkan diri dari medan perang. Namun setelah melihat masjid diambil dan dijadikan kandang kuda, api tauhid di dalam dirinya berkobar-kobar lagi dan beliau tak jadi mundur. Meski sudah berusia lanjut, beliau lalu menyentak pedangnya. Tak dihitungnya lagi menang atau kalah, hidup atau mati. Tak dikalkulasi lagi untung atau rugi, sebab satu-satunya hal yang dituju adalah Ridha Allah.

Sekarang, kita baca ulang kisah di sekitar Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Singkat kata, pihak Sekutu ingin kembali ke Indonesia. Terkait itu, KH Hasyim Asy’ari lalu mengeluarkan Resolusi Jihad. Hal inilah yang kemudian menjadi sumber inspirasi para pejuang. Dengan itu pula, Bung Tomo-pun lebih bisa menggelorakan semangat juang bangsa Indonesia dan terutama yang berada di Surabaya dan sekitarnya.

Lewat radio, dengan heroik Bung Tomo membakar semangat semua pejuang dengan berdasarkan kepada niat untuk berjihad di Jalan Allah. Untuk itu, di saat genting itu dia berpidato. Petikannya, antara lain:
“Saudara-saudara … / Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!/ Kita yakin …
/ Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita,
sebab Allah selalu berada di pihak yang benar/ 
Percayalah Saudara-Saudara. Tuhan akan melindungi kita sekalian/ Allahu-Akbar! Allahu-Akbar! Allahu-Akbar! Merdeka!

Dunia-pun terkesima. Ghirah para pejuang di Pertempuan Surabaya 10 November 1945 sangat inspiratif. Bahwa semangat membela kebenaran yang dilandaskan kepada “rasa cemburu” untuk membela agama Allah bisa menjadi energi yang sangat besar dan sanggup mengalahkan kekuatan yang di atas kertas jauh berlipat-lipat di atasnya. Allahu Akbar!

Intinya, jadilah pejuang! Dalam hal perjuangan menegakkan kebenaran, jadilah “Laki-laki”. Sebaliknya, jangan-lah menjadi “Bukan laki-laki” seperti yang dengan pahit disampaikan Hamka dalam bukunya. Di buku yang telah disebut di atas, Hamka mengutip sebuah kisah di Aceh yang bisa menunjukkan derajat ghirah seseorang.


Bahwa, di ketika perlawanan umat Islam di Aceh atas Belanda, terjadi fragmen berikut ini. Rumah-rumah orang digeledah oleh patroli Belanda. Laki-laki tak kelihatan di dalam kampung sebab pergi bergerilya. Lalu, seorang serdadu Belanda sampai-lah ke halaman sebuah rumah dan di sana seorang perempuan sedang menumbuk padi.
“Hai, ada laki-laki di rumah ini,” selidik sang serdadu.
“Tidak ada, Tuan,” tukas si perempuan.
“Ke mana yang laki-laki?”
“Semua pergi berperang, Tuan.”
“Boleh saya periksa di dalam rumah?”
“Silakan.”


Rumah itu lalu digeledah dan didapatilah seorang laki-laki bersembunyi di bawah tempat tidur. Laki-laki itu dibawa ke halaman dan perempuan itu lalu ditanyai.
“Mengapa bohong? Tadi mengatakan tak ada laki-laki di rumah! Padahal ada.”
“Saya bicara benar, Tuan! Semua yang laki-laki telah pergi. Saudara saya ini takut, lalu tinggal di rumah dan tidak turut berjuang. Dia bukan laki-laki.”

Pesan moral dari kisah di atas sangat kuat. Jadilah pejuang! Jadilah “Laki-laki” dan bukan yang sebaliknya!
            
Alhasil, jika ada kemunkaran maka bergeraklah! Jika agama kita direndahkan, bela-lah! Jika Al-Qur’an dinistakan dan ulama dilecehkan, bangkit dan lakukan sesuatu agar hukum ditegakkan atas si penista. Singkat kata, teruslah bergerak dengan gagah bersama ghirah.

Bergerak, Bergeraklah!

Ghirah itu, buah dari iman. Ghirah itu, cemburu karena Allah. Ghirah itu, sebentuk kecemburuan seseorang yang dipicu oleh semangat menolong agama Allah.

Menolong agama Allah? Perhatikanlah QS Muhammad [47]: 7, yang terjemahnya sebagai berikut: “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.

Kita buka Tafsir Al-Azhar. Ada beberapa hal yang dinasihatkan Hamka terkait dengan ayat di atas. Pertama , datangnya kemenangan adalah sesudah menempuh ujian. Adapun pertolongan Allah, akan datang kepada orang yang memperjuangkan agama-Nya.
Kedua , jika misalnya di dalam perjuangan mengalami kekalahan maka itu bukan berarti karena salahnya yang kita perjuangkan. Tapi, sebagai ujian atas kekuatan iman dan ketekuan hati kita. Bertambah hebat perjuangan, bertambah hebat pula saringan di antara yang ikhlas dengan yang culas.
Ketiga , bagaimana agar tergolong sebagai “menolong agama Allah”? Jaga niat, semata-mata karena Allah. Perhatikan hadits ini: “Dari hal seorang laki-laki yang berperang karena gagah berani dan berperang karena mempertahankan hak dan berperang karena riya’. Yang manakah yang termasuk fi-sabilillah (pada Jalan Allah)? Lalu Rasulullah menjawab, ‘Barangsiapa yang berperang supaya Kalimat Allah tetap tinggi, itulah orang yang berperang pada Jalan Allah” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i).
Kata Hamka, “menolong (agama) Allah” yang dimaksud pada QS Muhammad [47]: 7 di atas, bertujuan supaya Kalimat Allah atau Kehendak Allah tetap tegak di atas segala kalimat (2003: 6696-6698).


Jadi, mari menolong agama kita dengan memperhatikan
“syarat dan ketentuan” Allah dan Rasul-Nya. Untuk itu, milikilah ghirah! Cemburulah karena Allah! Mulailah dari cinta kepada Allah! []

Admin: Kominfo DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *