WASPADALAH PENJAJAHAN PEMIKIRAN DI PERGURUAN TINGGI


Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)

Ketua umum DDII Pusat

Dewandakwahjatim.com, Depok - Salah satu jasa besar KH Ahmad Dahlan bagi umat dan bangsa Indonesia adalah menyadarkan kita sebagai bangsa yang masih terjajah! Itu disebutkan dalam Keppres no. 657 tahun 1961, tentang dasar-dasar penetapan KH Ahmad Dahlan sebagai Pahlawan Nasional. 

“KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat,” begitu petikan Keppres no. 657/1961 tersebut. 
KH Ahmad Dahlan tidak mengangkat senjata melawan penjajah Belanda. Tapi, ia paham dan sadar, bahwa umat Islam sedang dijajah melalui pendidikan dan pemikiran. Ketika itu penjajah berusaha melemahkan umat Islam – bahkan mengkristenkan umat Islam – melalui jalan pendidikan. 

Ratusan ribu anak-anak muslim yang bersekolah dan kuliah di sekolah-sekolah dan kampus model Barat dijauhkan dari agamanya. Para pelajar dan mahasiswa itu diiming-imingi dengan kesuksesan duniawi jika menjalani pendidikan model Barat.

Dan itu terbukti. Banyak lulusan sekolah Belanda mendapat kedudukan terhormat sebagai pegawai pemerintah kolonial dengan gaji tinggi. Tidak sedikit yang kemudian bersikap sinis terhadap agamanya sendiri dan malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim. 
Meskipun banyak yang tahu bahwa yang memerintah adalah penjajah kafir, tetapi banyak sekali orang Indonesia – bahkan elite-elitenya – yang bangga mengenyam pendidikan sekuler di sekolah model Barat. Mereka bangga berbahasa Belanda. Yang tidak bisa berbahasa Belanda dianggap kurang ‘keren”; dianggap ilmuwan rendahan.

Bangsa yang kalah, menurut Ibn Khaldun, biasanya memang cenderung mengikuti tradisi bangsa yang menang atau unggul secara ilmu dan peradaban. Ketika peradaban Islam unggul selama ratusan tahun, bangsa Eropa pun bangga mengirimkan pelajar-pelajar mereka ke negeri-negeri muslim untuk belajar berbagai bidang ilmu.

Ki Hajar Dewantara pun sudah mengingatkan bahaya pendidikan model Barat yang hanya mendidik anak secara akal dan fisik saja. Tidak ada pendidikan adab dan kesusilaan, sehingga memunculkan sikap individualis dan materialis. Tak hanya itu, pendidikan model Barat pun hanya mendidik anak-anak untuk bisa menjadi buruh dan menjebak bangsa kita menjadi bangsa yang bergantung kepada Barat. 

Haji Agus Salim termasuk tokoh nasional yang memilih anak-anaknya untuk tidak bersekolah di sekolah-sekolah Barat. Dalam buku “Manusia dalam Kemelut Sejarah” (LP3ES, 1994), Mr. Mohammad Roem, menulis satu artikel tentang Haji Agus Salim dengan judul: “Memimpin Adalah Menderita: “Kesaksian Haji Agus Salim.” Bahasa Belandanya: “leiden is lijden.”

“Haji Agus Salim menerangkan, bahwa ia sendiri sudah melalui jalan “berlumpur”, akibat pelajaran kolonial. Ia tidak tega anak-anaknya melalui jalan serupa dan akan memberi pelajaran sendiri kepada anak-anaknya. Di waktu itu bahasa Belanda tidak mungkin mendapat pelajaran yang wajar dalam masyarakat. Orang yang tidak tahu bahasa Belanda dianggap orang rendahan. Malah yang tidak tahu bahasa Belanda merasa rendah diri. Dalam golongan terpelajar, bahasa yang dipakai dalam hidup sehari-hari juga bahasa Belanda,” tulis Pak Roem. 

Salah satu dampak pendidikan Barat adalah menanamkan sikap minder (rendah diri) dalam hati pelajar-pelajar Indonesia. Dan ini korbannya sangatlah banyak. Anak-anak muslim dididik untuk TIDAK bangga menjadi muslim. Bahkan, kadang ditanamkan rasa malu menunjukkan identitas keislaman. Yang mengerikan jika tertanam penyakit munafik: senang jika kebenaran Islam dikalahkan dan dihancurkan! 
Inilah satu bentuk penjajahan pendidikan. Inilah satu bentuk perang pemikiran (ghazwul fikri). Jika tidak berhati-hati dan tidak siap, maka bukan tidak mungkin, setelah kuliah beberapa bulan saja, santri atau pelajar itu bisa berubah pemikiran dan kelakuannya. Semoga itu tidak  terjadi! 
Karena itulah, ketika seorang santri atau pelajar muslim akan melanjutkan pendidikan pada jenjang Perguruan Tinggi, perlu mengenal betul ilmu-ilmu apa yang akan dipelajari dan siapa saja yang akan menjadi gurunya. Juga, kenali betul lingkungan pendidikannya. Dan yang terpenting adalah niatnya. 

Sebelum menjalani satu proses pendidikan tinggi dengan tingkat tantangan pemikiran dan kehidupan yang tinggi, maka para santri atau pelajar itu harus disiapkan benar imannya, ilmunya, akhlaknya, dan juga kemampuan komunikasinya. Tujuannya agar ia benar-benar siap menghadapi aneka virus pemikiran dan pergaulan yang merusak iman dan akhlaknya.

Penjajahan pemikiran pada tingkat pendidikan tinggi ini bukan hanya dapat merusak iman dan akhlak seorang santri atau pelajar. Tapi, bisa juga mengerdilkan potensi yang dimiliki para santri atau pelajar. Seorang yang berpotensi menjadi pemikir dan pemimpin masyarakat dikerdilkan potensinya dengan pola pikir dan cita-cita yang salah. 

Bahwa, ia dicekoki dengan pemikiran: kuliah itu hanya untuk bisa cari makan dan dapat uang banyak agar status sosialnya tinggi. Ia lupa pada potensi dirinya yang besar; bahwa ia berpotensi menjadi pemimpin umat dan bangsa ke depan. Ia mungkin lupa bahwa ia sebenarnya “anak singa”, bukan “anak kucing”. Harusnya ia dididik dengan benar, agar menjadi ulama dan pemimpin; melanjutkan tugas para Nabi.  
Karena itu, para orang tua dan guru perlu memahami konsep ilmu dan pendidikan dalam Islam, agar tahu kewajiban orang tua dan hak-hak anak dalam pendidikan. Itulah yang nanti aka dipertanggungjawabkan di akhirat! 

Setelah itu, kenali potensi  para santri atau pelajar itu, agar bisa memilih perguruan tinggi yang tepat. InsyaAllah, para santri dan pelajar itu akan menjadi orang baik; orang yang berguna bagi dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya. Lebih dari itu, ia akan terus mengirimkan pahala jariyah kepada orang tuanya dan kepada semua orang yang mendukung pendidikannya. Wallahu A'lam bish-shawab. (Depok, 15 Juni 2024).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *