BEGINILAH TURKI UTSMANI DIRUNTUHKAN OLEH PENDIDIKAN YAHUDI

Artikel ke-1.821
Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id)
Ketua Umum DDII Pusat

Dewandakwahjatimcom, Depok – Dalam bukunya, Osmanli History 1289-1922, (Kuala Lumpur: International Islamic University Malaysia, 1999), Mehmed Maksudoglu mengungkap satu fakta menarik tentang kesuksesan gerakan Zionis Yahudi di Turki Utsmani dalam pencopotan Sultan Abdul Hamid II, pada bulan April 1909. Bahwa, di antara empat perwakilan National Assembly yang menyerahkan surat pencopotan Sultan itu adalah seorang Yahudi bernama Emmanuel Carasso.

Jika ditelaah secara cermat, gerakan Zionis Yahudi di Turki Utsmani menggunakan strategi pendidikan. Mereka mendidik para pemuda Turki terpilih dengan paham-paham materialisme dan nasionalisme sekular. Itu mereka lakukan, setelah lobi-lobi kepada Sultan Abdul Hamid gagal mereka lakukan.

Seperti kita ketahui, usai menerbitkan bukunya, Der Judenstaat, dan memimpin Kongres Zionis, tahun 1897, Theodore Herzl pergi ke Istambul menemui Perdana Menteri Utsmani dan mempresentasikan rencana pendirian Palestina sebagai tanah air kaum Yahudi. Ia menawarkan bantuan untuk melunasi utang negara Utsmani. Herzl juga melobi Kaisar Austria Wilhelm II yang berhubungan baik dengan Sultan Abdul Hamid II. Kaisar Austria setuju dengan gagasan Herzl dan merekomendasikan rencana Herzl kepada Sultan.

Tetapi Sultan Abdul Hamid menolak rencana Herzl. Ia menulis surat: “Saya tidak dapat menjual walau sejengkal pun dari tanah Palestina, karena ini bukan milikku, tapi milik rakyatku.” (I can not sell even a foot step of land, for it does not belong to me but to my people). (Stanford J. Shaw, The Jews of the Ottoman Empire and the Turkish Republic, (Houndmilld: MacMillan Academic and Professional Ltd, 1991).

Menghadapi kokohnya sikap Sultan Turki Utsmani itu, kaum Zionis Yahudi melakukan pendidikan intensif kepada anak-anak muda terpelajar Turki. Yang menonjol adalah peran Gerakan Freemasons. Para tokoh Yahudi di Free Mason memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran para aktivis Gerakan Turki Muda.

Ketika itu, aktivis Freemasons memiliki hubungan erat dengan kelompok Osmanli Hurriyet Cemiyati (The Ottoman Freedom Society) yang dibentuk tahun 1906. Tokoh Freemason adalah Cleanthi Scalieri, pendiri loji The Lights of the East (Envar-I Sarkiye), yang keanggotaannya meliputi sejumlah politisi, jurnalis, dan agamawan terkemuka (seperti Ali Sefkati, pemimpin redaksi koran Istiqbal dan Prince Muhammad Ali Halim, pemimpin Freemasonry Mesir).
Scalieri memiliki kedekatan hubungan dengan para pejabat penting Utsmani. Dari sinilah, nucleus Gerakan Turki Muda dilahirkan. Fakta-fakta ini menunjukkan, bahwa kepemimpinan Scalieri menentukan sejumlah elemen Gerakan Turki Muda. Sampai sekitar 1895, loji-loji Freemason sebagian besar “bermain” dalam bentuk klendestin.


Menelaah proses keruntuhan Turki Utsmani dan berdirinya Negara Yahudi Israel tahun 1948, bisa disimpulkan, bahwa akar masalahnya adalah soal kerusakan ilmu, iman, dan akhlak manusia. Akhlak adalah indikator kuat atau lemahnya iman. Negara mana saja yang akhlak pejabat dan rakyatnya sudah rusak, maka keruntuhannya tinggal menunggu waktu.

Jadi, sebelum Kekhalifahan diruntuhkan, yang disiapkan oleh kaum Zionis adalah mendidik generasi muda Turki dengan paham-paham materialisme, sekularisme, liberalisme, dan sejenisnya. Dengan kata lain, generasi muda Turki itu “diyahudikan” terlebih dahulu, agar mereka bisa diruntuhkan dengan mudah oleh Zionis Yahudi. (Lihat sifat-sifat Yahudi dalam QS 2:42, 44, 55, 67, 75, 79, 96, dan sebagainya).

Dengan cara itu, sebuah imperium besar seperti Turki Utsmani bisa digulung dari dalam, melalui proses pendidikan. Saat generasi tua gagal di-Barat-kan (westernized) atau disekularkan, maka mereka siapkan “Generasi Muda” yang sudah tersekularkan. Mereka pilih anak-anak muda Turki yang memiliki kecerdasan tinggi dan berbagai kelebihan lainnya untuk dididik dengan “iming-iming” kemajuan dan kesuksesan duniawi.

Generasi inilah yang akhirnya ditampilkan dalam berbagai lini kepemimpinan bangsa Turki di kemudian hari. Tak jarang, diantara mereka ada yang sangat benci dengan ajaran-ajaran Islam dan simbol-simbolnya. Selama puluhan tahun, mereka melarang perempuan Turki mengenakan jilbab di tempat-tempat umum. Bahkan, ada anggota parlemen perempuan yang diusir dan dicabut kewarganegaraannya karena mengenakan jilbab.
Rasulullah saw sudah mengingatkan: “Sungguh kalian akan mengikuti sunnah-sunnah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta; bahkan jika mereka masuk ke lubang biawak, kalian pun mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Maka siapa lagi?” (HR. Muslim).

Allah SWT pun memperingatkan: “Kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha kepada kamu, sampai kamu mengikuti millah mereka.” (QS al-Baqarah: 120).

Sekali lagi, kita perlu merenung, berdiskusi, dan bermusyawarah dan memohon petunjuk Allah SWT dalam memahami situasi dan merumuskan langkah-langkah perjuangan yang tepat! Semoga Allah SWT senantiasa menolong dan membimbing kita agar tetap di jalan-Nya yang lurus. Amin. (Depok, 4 Maret 2024).

Admin: Kominfo DDII Jatim/ss

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *