Ketika Kenikmatan Dunia Menjadi Orientasi Hidup

Oleh: Dr. Slamet Muliono Redjosari
Anggota Bidang Pemikiran lslam Dewan Dakwah Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Manusia umumnya menginginkan angan-angan duniawinya terwujud bersifat instan dan cepat tanpa harus menunggu lama. Padahal kalau mau lebih sabar dan berorientasi dengan sabar beberapa saat, maka angan-angannya pasti terwujud dengan kuantitas dan kualitas yang jauh lebih baik. Manusia banyak tergiur oleh kepentingan sesaat sehingga melalaikan sesuatu yang bersifat jangka panjang dan abadi. Allah mengajak manusia untuk mengejar kenikmatan akherat dengan mengorientasikan hidupnya untuk kenikmatan yang lebih hakiki. Ketika manusia mengorientasikan hidupnya untuk mendapatkan dunia, hingga lalai akheratnya, maka di dunia hidupnya tergelincir dan di akherat bakal terhina. Kenikmatan di dunia ini memang menggiurkan, sehingga banyak manusia berdesak-desakan menggapainya. Pada saat yang sama terlalaikan orientasi akheratnya. Hal ini akibat dari melupakan janji Allah berupa kenikmatan surga dan memperoleh ridho-Nya yang agung.

Godaan dan Fasilitas Dunia

Allah menjadikan dunia ini dengan berbagai perangkat dan fasilitas. Perangkat dan fasilitas itu diperuntukkan sebagai sarana dan alat untuk memakmurkan bumi ini. Memakmurkan bumi merupakan tugas utama manusia sebagai khalifah. Fasilitas duniawi yang menyenangkan itu justru dijadikan manusia sebagai tujuan, hingga menjadikannya lalai atas hakekat tujuan hidup yang sebenarnya. Allah memaparkan hilangnya orientasi hidup yang hakiki dan terjebak dengan kehidupan sesaat. Hal itu termaktub sebagaimana firman-Nya :

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali ‘Imran : 14)

Allah sengaja menghiasi dunia ini dengan perempuan-perempuan cantik, kecintaan pada anak, harta benda berupa perhiasan dalam bentuk emas-perak, serta kuda pilihan sebagai sarana transportasi yang nyaman. Serta dilengkapi hewan ternak yang sangat di tengah hamparan kebun yang indah dan luas.

Semua sarana itu seharusnya menjadi pintu masuk bagi hamba untuk bersyukur dan beribadah, beribadah merupakan sarana untuk mengagungkan Tuhannya. Alih-alih menyembah dan mengagungkan Tujhannya, kenikmatan
hidup itu justru lupa dan lalai terhadap Sang Pencipta dan Pemberi kenikmatan. Kenikmatan dunia yang bersanding dan menopang hidup bukan mendorong untuk bersyukur lebih mendalam tetapi justru melalaikannya dari pengagungan pada Tuhannya.

Perempuan bukan dimanfaatkan untuk penopang spirit ibadahnya, tetapi justru menjadi sarana pelampiasan hawa nafsunya. Banyaknya anak membuatnya melalaikan ibadahnya. Bahkan harta kekayaan yang dimiliki justru membuat jauh hubungannya dengan Sang Pencipta. Betapa tidak, kekayaan harta berupa hewan ternak dan kebun justru melalaikannya untuk berkomunikasi dengan Tuhannya. Implikasinya, manusia lupa memakmurkan bumi secara kolektif, bergeser disibukkan dengan pertikaian dan persekongkolan jahat untuk memperebutkan perempuan, anak, harta kekayaan.

Akherat Sebagai Keabadian Hidup

Ajakan Allah untuk mengorientasikan hidupnya pada kehidupan akherat tidak berarti elergi dan mencampakkan kenikmatan duniawi. Kenikmatan-kenikmatan yang hakiki itu ditunda dengan surga yang tidak sebanding dengan berbagai fasilitas hidup saat di dunia. Masuk surga merupakan dambaan seluruh kaum muslimin setelah kematian. Allah menyiapkan kenikmatan surga dengan berbagai keagyngannya. Adanya sungai-sungai di surga yang mengalir, dan perempuan suci disiapkan sebagai rangking tertinggi. Bahkan mendapatkan keridhaan-Nya merupakan puncak kenikmatan di surga. Hal itu diperuntukkan bagi mereka yang menghambakan diri pada Allah. Hal itu termaktub sebagaimana firman-Nya


“Katakanlah, “Maukah aku kabarkan liburan apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawah sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan- pasangan yang suci, serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali ‘Imran : 15)


“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di Surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah : 72)

Keridhaan Allah merupakan nikmat paling agung dan menjadi dambaan bagi setiap muslim. Kalau di dunia manusia banyak mengejar kenikmatan duniawi dengan melampiaskan nafsunya kepada banyak perempuan, membanggakan anak-anaknya yang cerdas dan pintar, serta harta kekayaan yang melimpah. Hilangnya orientasi akherat membuat hidupnya membuat hidupnya tanpa arah. Sebaliknya, manusia yang mengorientasikan hidupnya untuk akherat, Allah mengganjar dan menjanjikan puncak kenikmatan dengan masuk surga dan mendapatkan ridha Alloh. Ridha Allah merupakan puncak kenikmatan dan itu merupakan kemenangan yang agung bagi seorang muslim.

Surabaya, 16 April 2022

Editor: Sudono Syueb/Humas DDII Jatim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *