Orang Yang Tidak Berhak Menjadi Ta’mir Masjid

Oleh Ust. Hidayatullah
Staf Bid. Organisasi DDII Jatim

Dewandakwahjatim.com, Surabaya –
وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ أَن يُذۡكَرَ فِيهَا ٱسۡمُهُۥ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ مَا كَانَ لَهُمۡ أَن يَدۡخُلُوهَآ إِلَّا خَآئِفِينَۚ لَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٞ


Dan siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. (Al Baqarah: 114)
Merupakan suatu kedhaliman yang sangat besar yaitu bagi orang yang menghalangi hamba Allah lainnya untuk memakmurkan masjid yaitu dengan memperbanyak aktifitas berdzikir di dalamnya. Dan merupakan suatu kedhaliman yang sangat besar orang-orang yang berusaha merobohkan masjid-masjid Allah.


Masjid sebagai bentuk isim makan atau menunjukkan makna tempat dari kata sajada yasjudu yang artinya bersujud merupakan tempat khusus yaitu dalam rangka berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan begitulah bagi setiap mukmin hendaknya selalu ruku’ dan sujud hati dan jiwanya kepada Allah Sunhanahu wa Ta’ala, disertai rasa khauf yakni dipenuhi rasa khusyu’ dan khudlu’ kepada Allah dan juga kepada hamba-hamba Allah lainnya.


Maka isyarat ayat di atas seseorang yang belum termasuk khaifin atau orang-orang memiliki rasa khusyu’ dan khudlu’ kepada Allah tidak seyogyanya untuk ikut menjadi bagian dari pengurus ta’mir masjid. Orang-orang yang belum memiliki sikap khauf kepada Allah seringkali tindakannya tidak berdasar keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah akan tetapi cenderung bersikap egois yaitu mementingkan kepentingan nafsunya sendiri.

Bahanya sikap egois


Orang yang egois memiliki sifat yang berbahaya, karena seringkali kebenaran diukur dari dirinya sendiri. Semua sikapnya diukur dengan apakah membawa manfaat untuk dirinya dan kelompoknya saja atau tidak, sehingga ia tidak berpikir untuk kepentingan yang lebih luas lagi apalagi untuk kepentingan meninggikan agama ini..


Bagi orang yang egois hampir semua sikapnya bermodus untuk hanya mencari kemuliaan dirinya di dunia semata. Terget mereka hanyalah dunia dan dunia saja sehingga tidak ada ide-ide untuk bagaimana masjid itu lebih memiliki manfaat yang lebih besar kepada jamaah atau umat disekitar masjid. Bahkan jika ada ide yang baik dalam rangka kemaslahatan umat malah malah ia berusaha menghalanginya.
Inilah sebagaimana isyarat ayat di atas, mereka justru hendak merobohkan masjid-masjid itu. Mereka tidak rela masjid akan berfungsi sebagaimana mestinya yang akan menjadikan umat ini akan semakin berkualitas, dan justru ia berharap jangan sampai ada yang memiliki kualitas melebihi dirinya. Disinilah akan terjadi sikap pengkebirian terhadap ide-ide brilian dari jamaah khsusnya dari kalangan muda masjid. Maka yang akan terjadi kemudian adalah kegiatan di masjid menjadi stagnan dan tidak ada perkembangan lagi. Di tambah dengan adanya sikap apatis dari jamaah yang sebenarnya mereka berharap ada perubahan menejemen masjidnya.

Fungsi masjid bagi setiap hamba


…لَّمَسۡجِدٌ أُسِّسَ عَلَى ٱلتَّقۡوَىٰ مِنۡ أَوَّلِ يَوۡمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِۚ فِيهِ رِجَالٞ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُواْۚ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُطَّهِّرِينَ
Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (at Taubah; 108)


Pondasi bangunan masjid adalah nilai takwa kepada Allah dan hal ini sekaligus menunjukkan bahwa bangunan islam dibangun di atas pondasi iman yaitu kalimah syahadatain yakni dua kalimah syahadah. Pemahaman terhadap dua kalimah ini begitu urgen untuk dipahamkan kepada jamaah masjid karena inilah sumber kekuatan umat. Sehingga jamaah masjid memahami apa yang harus dilakukan di dalam masjid yaitu mereka yang selalu berusaha membersihkan diri dari penyakit-penyakit hatinya, khususnya sifat egois yang membahayakan kepentingan islam dan umat islam.


Masjid sebagai tempat berdzikir yang terutama adalah penegakan shalat. Shalat merupakan ibadah puncak dalam rangka berdzikir kepada Allah. Maka tidak salah jika kemudian shalat menjadi barometer dari amal ibadah lainnya, jika shalatnya berkualitas maka ibadah lainnya dijamin juga akan berkualitas, dan begiu sebaliknya. Shalat yang benar akan menghindarkan pelakunya memiliki sifat keji dan munkar.


Orang yang masuk masjid memiliki ketundukan hati dan jiwanya kepada Allah. Kepentingan nafsunya dikesampingkan dan ditundukkan dengan ketentuan Allah dan RasulNya. Maka tidak ada kalimat kotor di dalam masjid. Harga diri seorang mukmin bukan terletak pada nafsunya, akan tetapi lebih kepada sikap pembelaannya terhadap kebenaran agama Allah. Mereka tidak mudah tersinggung dan sakit hati ketika ada yang berusaha melecehkannya, karena usaha orang lain untuk merendahkan dirinya tidak berpengaruh sedikitpun terhadap kemuliaan dirinya di sisi Allah. Justru mereka yang berusaha melecehkan itu seolah menampakkan beurukan akhlaq dirinya.


Sudah saatnya masjid-masjid ini berbenah untuk menyongsong kebangkitan umat demi izzul islam wal muslimin. Dan tiada kepuasaan bagi setiap hamba kecuali melihat umat ini bersatu-padu untuk secara bersama-sama memenagkan agama Allah atas agama lainnya yang membawa misi besarnya yaitu rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam bishshawab(SS/Humas DDII Jatim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *