Ketika Cahaya Menjadi Akhlak: Nur Muhammad dalam Jiwa Para Pecinta Rasulullah (2)

Oleh Muhammad Hidayatulloh, Ketua Bidang PSQ DDII Jatim dan penulis 4 buku Perjalanan Jiwa

Dewandakwahjatim.com, Surabaya – Malam telah sunyi. Angin berhembus pelan, membawa bisikan rahasia antara langit dan bumi.
Di tengah keheningan itu, hati seorang pecinta tiba-tiba bergetar:
bukan karena ia melihat cahaya, tapi karena ia merasa diterangi.

Cahaya itu lembut, tidak menyilaukan. Ia bukan kilatan metafisik yang menakjubkan mata batin,
melainkan nur kesadaran — bahwa di setiap napasnya, ada teladan sang Rasul yang hidup.

Cahaya yang Menjadi Akhlak

Sejak dulu para sufi berbicara tentang Nur Muhammad, tapi mereka yang benar-benar mengenalnya tak sibuk menatap langit, mereka justru menunduk – memantulkan cahaya itu dalam amal.

Karena Nur Muhammad bukan untuk dilihat, tapi untuk dijelmakan.

Ia bukan misteri yang jauh, tapi akhlak yang nyata.
Ia bukan rahasia langit, tapi cahaya hati yang lahir dari keikhlasan dan kasih.

Rasulullah ﷺ tidak berkata, “Lihatlah nurku.”
Beliau berkata:

Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

Dan dari situlah kita tahu: Cahaya kenabian itu bukan sinar yang menerangi mata, tapi keindahan moral yang menuntun manusia untuk jadi rahmat bagi sesamanya.

Nur Itu Menyala di Dalam Diri Orang yang Tulus

Ketika engkau jujur dalam bekerja — di situ cahaya Muhammad hidup.
Ketika engkau menahan amarah dan memilih memaafkan — di situlah nur itu bersinar.
Ketika engkau sabar di tengah fitnah, lembut dalam dakwah, dan ikhlas dalam berbuat — di situlah engkau sedang menyalakan Nur Muhammad dalam dirimu sendiri.

Karena Rasulullah ﷺ bukan sekadar sejarah,
beliau adalah energi cinta dan keadilan yang menghidupkan generasi setelah generasi.

Bukan Tentang Melihat, Tapi Menjadi

Banyak yang ingin melihat Nur Muhammad,
tapi sedikit yang ingin menjadi cerminnya.
Padahal, yang paling beruntung bukan yang bermimpi melihat cahaya, melainkan yang hidupnya menjadi cahaya bagi orang lain.

Sebagaimana sabda beliau ﷺ:

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Itulah Nur Muhammad yang sesungguhnya:
menjadi manfaat, menebar kasih, menolak zalim, dan menegakkan kebenaran.
Cahaya itu hidup di antara langkah para penebar rahmat, bukan di antara mimpi yang kabur
.

Menyucikan Diri Agar Cermin Itu Jernih

Imam Al-Ghazali pernah berkata,

Hati manusia seperti cermin. Jika ia bersih, ia akan memantulkan cahaya kebenaran.”

Maka tugas kita bukan mencari nur di luar diri,
tapi membersihkan cermin hati dari karat dosa dan ego.
Semakin jernih hati, semakin jelas pantulan cahaya Rasulullah di dalamnya.

Karena siapa pun yang benar-benar mengenal beliau, akan mencintai dengan cara beliau — penuh kasih, tapi juga tegas dalam kebenaran.

Cahaya Itu Masih Hidup

Setiap kali engkau bershalawat dengan hati yang hadir,
cahaya itu berpijar di dalam dada.
Setiap kali engkau membaca Al-Qur’an dengan tadabbur,
nur itu bertambah terang.
Setiap kali engkau menolong yang lemah, memaafkan yang bersalah, di situlah engkau sedang menyalakan kembali lentera Muhammad ﷺ di bumi.

Kesimpulan

Nur Muhammad bukan dongeng, bukan pula mitos. Ia adalah kenyataan ruhani — ketika akhlak Nabi hidup dalam diri seorang mukmin.
Maka jangan hanya berusaha melihat cahayanya, tapi berusahalah menjadi pantulan cahaya itu.”

Karena di akhir perjalanan, yang akan bersinar bukan yang banyak bicara tentang cahaya, melainkan mereka yang membawa cahaya itu dalam amal dan kasih sayang.

Jadilah lentera kecil yang memantulkan cahaya Rasulullah. Karena walau kecil, ia cukup untuk menuntun langkahmu di malam paling gelap.”

Admin: Kominfo DDII Jatim

Efitor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *