Pertarungan Abadi antara Kebenaran dan Kebatilan

Oleh Harits Najmudin
(Mahasiswa Akademi Dakwah Indonesia Dewan Dakwah Jatim 2024/2025)

Dewandakwahjatim.com, Mojokerto – Sejak awal sejarah manusia, pertarungan antara kebenaran (al-ḥaqq) dan kebatilan (al-bāṭil) telah berlangsung. Hal ini bukan sekadar fenomena sosial atau politik, tetapi merupakan sunnatullah—ketetapan Allah yang akan terus berlaku hingga akhir zaman. Allah Ta‘ala berfirman

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا مِّنَ ٱلْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh dari orang-orang yang berdosa.”(QS. Al-Furqan: 31)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap pembawa kebenaran pasti akan berhadapan dengan pihak yang menolak, memusuhi, atau menghalangi risalah tersebut. Rasulullah ﷺ sendiri mengalami perlawanan sengit dari kaum musyrikin Quraisy, sebagaimana para nabi sebelumnya menghadapi kaumnya masing-masing.

Kewajiban Muslim: Tetap Teguh di Atas Kebenaran

Di tengah pertarungan yang tak pernah padam ini, seorang Muslim memiliki kewajiban utama: tetap teguh di atas kebenaran. Keteguhan ini bukan hanya sikap hati, tetapi juga konsistensi dalam ucapan dan perbuatan. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk sabar, istiqamah, dan tidak tergoda oleh rayuan kebatilan, meskipun kebatilan itu tampak kuat atau menarik di mata manusia.

Memahami Sunnatullah dalam Pertarungan

Pertarungan antara kebenaran dan kebatilan bukan sesuatu yang terjadi tanpa pola. Ada hukum-hukum Allah yang mengaturnya, yang disebut sunnatullah. Di antaranya:

  • Kebenaran akan selalu diuji. Setiap pejuang kebenaran akan melewati fase kesulitan sebelum meraih kemenangan.
  • Kebatilan bersifat sementara.Kebatilan mungkin tampak berkuasa, tetapi akhirnya akan runtuh.
  • Kemenangan hakiki milik orang beriman yang sabar. Kemenangan bukan hanya kemenangan materi, tetapi tegaknya agama Allah dan ridha-Nya.

Peran Ulama dan Dai Senior

Dalam menghadapi peristiwa-peristiwa besar, umat Islam tidak boleh bersikap gegabah. Kita diperintahkan untuk berkonsultasi dengan para ulama dan dai senior yang memiliki ilmu, pengalaman, dan pandangan luas. Mereka adalah pewaris para nabi yang menjaga kemurnian ajaran Islam dan memberi arahan agar umat tetap berada di jalan yang benar.

Pertarungan antara kebenaran dan kebatilan akan selalu ada hingga akhir zaman. Yang dituntut dari kita bukanlah menghilangkan kebatilan secara instan, tetapi meneguhkan diri di atas kebenaran, memahami sunnatullah dalam perjuangan, dan berjalan di bawah bimbingan ulama. Dengan itu, kita akan menjadi bagian dari mata rantai panjang para pejuang kebenaran yang diridhai Allah.

Berbaik Sangka kepada Ulama dan Dai: Sebuah Kewajiban Umat

Dalam kehidupan beragama, ulama dan para dai memegang peranan penting sebagai penyampai ilmu dan penyeru kepada kebaikan. Mereka adalah penerus tugas para nabi dalam menyampaikan risalah Islam kepada umat. Namun, sebagai manusia biasa, mereka tidak luput dari kesalahan. Di sinilah pentingnya sikap ḥusnuz-ẓan (berbaik sangka) kepada mereka.
Ḥusnuz-ẓan adalah meyakini dan menganggap baik perkataan, perbuatan, dan niat orang lain selama tidak ada bukti jelas yang menunjukkan kebalikannya. Sikap ini merupakan ajaran mulia dalam Islam, yang berdasar pada firman Allah Ta‘ala:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.”(QS. Al-Ḥujurāt: 12)

Kedudukan Ulama dan Dai

Allah meninggikan derajat orang-orang berilmu, sebagaimana firman-Nya:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu ybeberapa derajat.”(QS. Al-Mujādilah: 11)

Para ulama adalah cahaya bagi umat, memberi petunjuk melalui ilmu dan nasihatnya. Menghormati dan berbaik sangka kepada mereka adalah bagian dari menghormati ilmu itu sendiri.

Kesalahan adalah Hal yang Manusiawi

Kalimat
“والخطأ لا يسلم منه أحد”
(“Kesalahan tidak ada seorang pun yang selamat darinya”) mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang maksum (terjaga dari dosa dan kesalahan) kecuali para nabi. Seorang ulama bisa saja keliru dalam penilaian, fatwa, atau sikap, namun itu tidak menghapus jasa dan kebaikan yang telah mereka lakukan.

Adab Menyikapi Kesalahan Ulama

  • Memberi udzur: Mencari alasan positif atas kesalahan mereka, selama tidak menyangkut perkara yang jelas-jelas bertentangan dengan akidah.
  • Menasehati secara pribadi: Menyampaikan koreksi dengan cara yang lembut dan tidak merendahkan martabat mereka.
  • Tidak membesar-besarkan kesalahan: Menghindari ghibah, fitnah, atau membentuk opini negatif di tengah masyarakat.
  • Memisahkan antara kebenaran dan kesalahan: Mengambil ilmunya yang benar, sambil meninggalkan yang keliru.

Bahaya Su’uz-ẓan kepada Ulama

  • Berprasangka buruk kepada ulama dapat: Menutup hati dari kebenaran.
  • Menyebabkan perpecahan di tengah umat.
  • Mengurangi keberkahan ilmu yang didapatkan.
  • Membuka pintu fitnah dan permusuhan.

Sikap berbaik sangka kepada ulama dan para dai adalah muthlab muhim — suatu kewajiban penting bagi umat. Kita harus mengingat bahwa mereka adalah manusia biasa yang berjuang di jalan dakwah, dan kesalahan mereka tidak menghapuskan jasa besar mereka. Dengan menjaga ḥusnuz-ẓan, kita menjaga kehormatan ilmu, ukhuwah, dan persatuan umat.

“Saling menutupi kekurangan saudaramu adalah tanda kemuliaan hati, dan menghormati ulama adalah tanda keberkahan ilmu.”

الِافْتِتَانُ بِالْمَرْأَةِ فِي الْمُجْتَمَعِ الدَّعَوِيِّ سَيَكُونُ سَهْلًا عَلَى مَنْ عِنْدَهُ ضَعْفٌ فِي التَّقْوَى

“Terfitnah oleh wanita dalam lingkungan dakwah akan mudah menimpa orang yang lemah ketakwaannya.”

Fitnah Wanita dalam Lingkungan Dakwah: Ancaman yang Sering Terabaikan. Lingkungan dakwah sering dipandang sebagai tempat yang aman dari godaan dan fitnah. Namun, sejarah dan kenyataan membuktikan bahwa ujian iman bisa terjadi di mana saja, termasuk di kalangan para aktivis dakwah. Salah satu ujian terbesar yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ adalah fitnah wanita.

Beliau bersabda:

“Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki selain fitnah wanita.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Makna Fitnah Wanita

Kata fitnah di sini bermakna ujian, godaan, atau cobaan yang dapat menjatuhkan seseorang dalam kemaksiatan. Fitnah wanita mencakup:

  • Ketertarikan yang berlebihan hingga mengabaikan adab syar’i.
  • Pandangan yang tidak dijaga (ghaddul bashar).
  • Interaksi tanpa batas sesuai syariat.
  • Hubungan yang menjerumuskan pada dosa.

Mengapa Terjadi dalam Lingkungan Dakwah

Kalimat

“سَيَكُونُ سَهْلًا عَلَى مَنْ عِنْدَهُ ضَعْفٌ فِي التَّقْوَى”

menunjukkan bahwa lemahnya ketakwaan adalah pintu utama terjadinya fitnah ini. Faktor pendukungnya antara lain:

  • Tidak adanya penjagaan pandangan dan hati.
  • Kedekatan interaksi dalam kegiatan dakwah tanpa batasan yang jelas.
  • Menganggap aman karena berada di lingkungan “islami”, sehingga lalai terhadap adab.
  • Kurangnya pengawasan diri dan kontrol sosial.

Dampak Fitnah Wanita pada Lingkungan Dakwah

  • Merusak fokus dakwah: Aktivitas dakwah bisa berubah tujuan menjadi ajang mencari perhatian lawan jenis.
  • Melemahkan wibawa dai: Jika terjadi skandal, kepercayaan masyarakat akan berkurang.
  • Memecah ukhuwah: Timbulnya persaingan, cemburu, atau gosip di internal.
  • Mengundang murka Allah: Jika fitnah ini berakhir pada dosa dan pelanggaran syariat.

Langkah Pencegahan

  • Menjaga pandangan (ghaddul bashar) sebagaimana diperintahkan dalam QS. An-Nur ayat 30–31.
  • Membatasi interaksi antara laki-laki dan perempuan hanya pada kebutuhan syar’i.
  • Menjaga hati dengan memperbanyak dzikir dan menguatkan hubungan dengan Allah.
  • Menerapkan adab pergaulan Islami di setiap kegiatan dakwah.
  • Menguatkan ketakwaan melalui ilmu, ibadah, dan lingkungan yang mendukung.

Fitnah wanita adalah ujian yang nyata, bahkan di lingkungan yang tampak islami sekalipun. Ketakwaan adalah benteng yang melindungi hati dan pandangan dari godaan ini. Bagi siapa yang lemahnya takwa, fitnah ini akan mudah menjatuhkan. Maka, menjaga diri, menguatkan iman, dan mematuhi adab syar’i adalah keharusan bagi setiap dai dan aktivis dakwah.

“Barangsiapa menjaga dirinya dari syubhat, ia telah membersihkan agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

مِنَ الطَّبِيعِيِّ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ حِوَارٌ فِي طَرِيقِ الدَّعْوَةِ، أَنْ تَدْرُسَهُ وَتَسْتَخْرِجَ مِنْهُ

“Adalah hal yang wajar jika ada dialog dalam perjalanan dakwah, yang seharusnya engkau pelajari dan ambil pelajaran darinya.”

Dialog dalam Jalan Dakwah: Sumber Pelajaran yang Berharga

Dakwah bukanlah perjalanan yang lurus tanpa rintangan atau perbedaan pandangan. Di sepanjang jalannya, akan ada percakapan, diskusi, bahkan perdebatan antara para dai, mad’u (objek dakwah), maupun sesama aktivis. Ini adalah hal yang alami dan tidak perlu ditakuti, selama dikelola dengan adab Islam.

Dialog sebagai Bagian dari Sunnatullah. Perbedaan sudut pandang dan diskusi sudah ada sejak zaman para sahabat. Mereka berdialog dalam masalah fiqh, strategi, dan metode dakwah, namun tetap menjaga ukhuwah. Ini selaras dengan firman Allah Ta‘ala:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik.”(QS. An-Naḥl: 125)

Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah memang memerlukan proses komunikasi yang melibatkan dialog.

Mengapa Dialog Itu Penting?

  • Memperluas wawasan: Mendengar perspektif baru yang mungkin belum pernah kita pikirkan.
  • Mengasah argumentasi: Belajar menyampaikan kebenaran dengan bahasa yang tepat.
  • Menguatkan hujjah: Memperbaiki dalil dan cara penyampaiannya.
  • Menguji pemahaman: Mengetahui sejauh mana kita menguasai materi dakwah.

Cara Mengambil Pelajaran dari Dialog

Kalimat

“أَنْ تَدْرُسَهُ وَتَسْتَخْرِجَ مِنْهُ”

memberi arahan agar dialog tidak berhenti sebagai obrolan, tetapi dipelajari dan diambil pelajaran.

  • Menganalisis isi pembicaraan: Mencatat poin penting dan hujjah yang kuat.
  • Menilai kekurangan diri: Mengakui jika ada kekeliruan dan memperbaikinya.
  • Menyaring manfaat: Mengambil yang benar, meninggalkan yang keliru.
  • Menggunakannya untuk perbaikan dakwah: Memperbaiki metode, materi, atau pendekatan.

Adab dalam Berdialog di Jalan Dakwah

  • Mengutamakan hikmah dan kelembutan.
  • Tidak menyerang pribadi, fokus pada ide dan argumen.
  • Menghormati perbedaan selama dalam lingkup ijtihadiyah.
  • Menjaga niat ikhlas demi mencari kebenaran, bukan memenangkan ego.

Dialog adalah bagian alami dari jalan dakwah. Alih-alih dihindari, ia seharusnya dikelola dengan adab dan dimanfaatkan sebagai sarana belajar. Setiap percakapan bisa menjadi cermin untuk melihat kekuatan dan kelemahan diri. Dengan mempelajari dan mengambil pelajaran darinya, dakwah akan semakin matang, argumentasi semakin kokoh, dan ukhuwah semakin terjaga.

“Orang berakal adalah yang belajar dari setiap pertemuan, mengambil hikmah dari setiap kata, dan menjadikan dialog sebagai jalan menuju kebenaran.”

Dakwah dan Ibadah: Keseimbangan yang Wajib Dijaga

Banyak dai yang terjun dalam berbagai program dakwah hingga jadwalnya padat dari pagi hingga malam. Namun, kesibukan itu terkadang membuat sebagian lalai dari kewajiban ibadah pribadi seperti shalat berjamaah, puasa sunnah, qiyamullail, dan tilawah Al-Qur’an. Padahal, seorang dai justru harus menjaga ibadahnya agar memiliki kekuatan ruhani dalam berdakwah.

Tidak menggugurkan kewajiban ibadah. Tidak dibenarkan menjadikan alasan sibuk berdakwah untuk meninggalkan shalat berjamaah, mengurangi puasa sunnah, atau meninggalkan qiyamullail. Dakwah adalah amal mulia, namun ia tidak boleh menggeser kewajiban yang menjadi tiang agama.

Allah Ta‘ala memuji para nabi dengan firman-Nya:

“Dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka adalah orang-orang yang beribadah kepada Kami.”(QS. Al-Anbiya: 73)

Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah pribadi adalah fondasi dakwah para nabi.

Ibadah sebagai Sumber Kekuatan Dai

Tilawah Al-Qur’an, shalat malam, dan puasa sunnah bukan sekadar ibadah individu, tetapi juga sumber energi rohani. Ibadah ini:

  • Menguatkan keikhlasan.
  • Menumbuhkan kesabaran menghadapi tantangan dakwah.
  • Menjaga hati dari penyakit riya dan ujub.
  • Memberikan keteguhan di jalan dakwah.

Allah Ta‘ala juga berfirman tentang sifat para nabi:

“Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam kebaikan, berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.”(QS. Al-Anbiya: 90)

Kesalahan yang Harus Dihindari

  • Menganggap ibadah pribadi bisa dikurangi karena sibuk berdakwah.
  • Memprioritaskan aktivitas sosial melebihi kewajiban syar’i.
  • Mengabaikan tilawah dan dzikir harian yang seharusnya menjadi penguat hati.

Prinsip Keseimbangan

Seorang dai adalah teladan. Dakwahnya akan lebih berpengaruh bila disertai dengan akhlak mulia dan ibadah yang terjaga. Aktivitas dakwah dan ibadah tidak boleh dipertentangkan, tetapi harus berjalan seimbang:

  • Waktu untuk dakwah → mengajak manusia kepada Allah.
  • Waktu untuk ibadah pribadi → menguatkan hubungan dengan Allah.

Kesibukan berdakwah tidak boleh menjadi penghalang untuk shalat berjamaah, qiyamullail, puasa sunnah, atau tilawah Al-Qur’an. Justru ibadah itulah yang akan menjaga hati dai agar tetap teguh dan tulus. Meneladani para nabi, kita harus memadukan semangat berdakwah dengan kekhusyukan beribadah.

Potensi Pemuda dalam Dakwah dan Pentingnya Bimbingan Senior

Pemuda adalah aset besar bagi umat. Semangat, tenaga, dan kreativitas mereka merupakan kekuatan yang sangat dibutuhkan dalam dakwah. Namun, energi besar tanpa arahan bisa berujung pada kesalahan strategi, terutama ketika mengabaikan nasihat dari para pendahulu yang telah lebih dahulu berjuang.

Sejarah Islam membuktikan bahwa banyak kemenangan besar dicapai melalui peran pemuda:

  • Mus‘ab bin ‘Umair yang menjadi duta pertama dakwah di Madinah.
  • Usamah bin Zaid yang memimpin pasukan di usia sangat mudah
  • Ali bin Abi Thalib yang teguh membela Nabi ﷺ sejak remaja.
    Potensi yang mereka miliki meliputi:
  • Semangat tinggi dalam menyebarkan kebaikan.
  • Kemampuan beradaptasi dengan teknologi dan tren baru.
  • Kreativitas dalam menyampaikan pesan dakwah.

Penyebab Terjadinya Kesalahan

Kalimat

“يَغْفُلُونَ عَنْ اسْتِشَارَةِ مَنْ سَبَقَهُمْ”

menyoroti akar masalah: kurangnya konsultasi dengan senior atau ulama.

Faktor penyebabnya bisa berupa:

  • Merasa sudah cukup berilmu.
  • Kurangnya kesadaran akan pentingnya bimbingan.
  • Ego dan keinginan berjalan sendiri.
    Akibatnya, muncullah kesalahan seperti:
  • Strategi dakwah yang kurang tepat sasaran.
  • Pemilihan program yang tidak sesuai prioritas syariat.
  • Kurang memperhitungkan dampak jangka panjang.
    Manfaat Istisyarah (Berkonsultasi)

Islam menekankan musyawarah sebagai prinsip penting, sebagaimana firman Allah:

“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)

Dengan berkonsultasi:

  • Mengurangi risiko kesalahan.
  • Mendapatkan pengalaman berharga dari pendahulu.
  • Memperkuat ukhuwah antara generasi muda dan senior.

Pemuda memang memiliki energi dan ide segar, tetapi itu harus dibarengi dengan:

  • Ilmu yang benar.
  • Bimbingan ulama atau senior dakwah.
  • Kesabaran dalam melangkah.

Potensi besar pemuda adalah rahmat bagi dakwah, namun jika tidak diarahkan, energi itu bisa salah sasaran. Dengan menghargai pengalaman orang yang lebih dahulu di jalan dakwah, para pemuda dapat memaksimalkan kontribusinya dan meminimalisir kesalahan.

“Semangat pemuda adalah bahan bakar, bimbingan senior adalah kemudi; tanpa salah satunya, perjalanan dakwah akan sulit sampai tujuan.”

Bahaya Kesombongan Tersembunyi di Kalangan Da’i

Dalam dunia dakwah, tidak jarang seorang da’i atau pegiat kebaikan mendapatkan kelebihan atau keutamaan dalam bidang tertentu — baik dari segi ilmu, keterampilan berbicara, atau pengalaman. Namun, sebagian dari mereka terkadang terjatuh pada kesalahan yang halus dan sulit disadari, yaitu kesombongan tersembunyi (al-kibr al-khafī).

Hakikat Kesombongan Tersembunyi
Kesombongan tersembunyi ini muncul ketika seseorang merasa berada di atas orang lain dalam urusan agama, lalu memandang rendah atau menolak kebenaran yang datang dari orang yang dianggap lebih rendah ilmunya atau lebih muda usianya. Sikap seperti ini dapat menghalangi seseorang dari menerima nasihat yang benar, meskipun nasihat itu datang dari orang yang tulus.

Kesombongan tersembunyi dapat:

  • Menghambat perkembangan diri dalam ilmu dan amal.
  • Membuat hubungan dengan sesama da’i menjadi renggang.
  • Menutup pintu keberkahan karena enggan menerima kebenaran dari siapa pun yang membawanya.

Sikap yang Seharusnya Dimiliki Da’i

Setiap da’i perlu menyadari bahwa kebenaran bisa datang dari siapa saja, tanpa memandang status sosial, usia, atau tingkat ketenaran. Rasulullah ﷺ mengajarkan kerendahan hati dan siap menerima kebenaran dari siapa pun yang menyampaikannya. Sikap ini tidak hanya menjaga kemurnian hati, tetapi juga memperkuat persatuan dalam dakwah.

Kesombongan tersembunyi adalah penyakit hati yang dapat menjangkiti siapa saja, termasuk para da’i. Oleh karena itu, setiap pendakwah harus melatih diri untuk selalu rendah hati, siap menerima nasihat, dan menyadari bahwa kemuliaan di sisi Allah diukur dari ketakwaan, bukan dari kedudukan atau kepandaian.

Mendorong Pedagang untuk Mendukung Program Dakwah Secara Berkelanjutan

Dalam rangka memperkuat peran umat Islam dalam menyebarkan kebaikan dan ajaran agama, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mendorong para pedagang untuk menyisihkan sebagian dari keuntungan usahanya setiap bulan guna mendukung program-program dakwah.

Dengan adanya komitmen untuk menyumbangkan sebagian keuntungan setiap bulan, program dakwah akan mendapatkan sumber dana yang stabil dan berkesinambungan. Hal ini memungkinkan berbagai kegiatan seperti penyebaran ilmu, pembinaan umat, dan kegiatan sosial berbasis dakwah berjalan tanpa hambatan dan tanpa terhenti karena kendala dana.

Mendukung dakwah bukan hanya bermanfaat secara sosial, tetapi juga membawa pahala yang besar di sisi Allah. Setiap rupiah yang disumbangkan untuk membela dan menegakkan agama akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya, bahkan setelah seseorang meninggal dunia.

Keberkahan dalam Harta

Menyisihkan sebagian harta untuk dakwah bukan berarti harta akan berkurang. Justru, dengan niat yang ikhlas, Allah akan melipatgandakan rezeki dan menambahkan keberkahan dalam usaha dan harta mereka. Sebagaimana janji Allah, siapa yang menolong agama-Nya akan mendapatkan pertolongan dan keberkahan yang melimpah.

Mengajak para pedagang untuk berkontribusi secara rutin pada program dakwah adalah langkah strategis yang bermanfaat bagi umat dan membawa kebaikan bagi pelaku usaha itu sendiri. Selain membantu kelancaran dakwah, hal ini juga menjadi sarana untuk meraih pahala besar dan keberkahan dalam kehidupan.

Admin: Kominfo DDII Jatim

Editor: Sudono Syueb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *