Oleh: Dr. Adian Husaini (www.adianhusaini.id), Ketua Umum DDII Pusat
Dewandakwahjatim.com, Depok – Bangsa Indonesia sedang menghadapi masalah serius dalam berbagai bidang kehidupan. Salah satunya adalah soal distegrasi sosial. Kecurigaan dan konflik antar komunitas mudah merebak. Kepercayaan kepada pemerintah pun mudah goyah dan pupus, karena salah komunikasi.
Dalam kondisi seperti itu, bangsa Indonesia perlu mengingat kembali perjuangan seorang Pahlawan Nasional bernama Mohammad Natsir. Perjuangannya dalam mewujudkan kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diakui sangat monumental. Karena itulah, banyak pihak mengusulkan agar tanggal 3 April ditetapkan sebagai Hari NKRI, dan Mohammad Natsir diberi gelar sebagai ”Bapak NKRI”.
Memang, tanggal 3 April hari yang bersejarah. Tujuh puluh lima (75) tahun lalu, tepatnya 3 April 1950, negarawan muslim Mohammad Natsir, mengajukan ”Mosi Integral” di Parlemen RIS (Republik Indonesia Serikat). Itulah yang disebut ”Mosi Integral Natsir”, yang memungkinkan bersatunya Negara-negara Bagian ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dengan Mosi Integral Natsir itu, maka bubarlah Republik Indonesia Serikat (RIS), yang merupakan hasil konferensi Inter Indonesia – antara delegasi Republik Indonesia dan delegasi BFO – di Yogyakarta 19-22 Juli 1949.
Perjuangan Mohammad Natsir dalam menyelamatkan NKRI memang sangat fenomenal. Natsir bukan hanya merumuskan gagasannya dengan cerdas, tetapi juga berhasil meyakinkan para tokoh Indonesia ketika itu yang berasal dari seluruh faksi dan aliran ideologis. Natsir memerlukan waktu dua setengah bulan untuk melakukan lobi.
Kepada Majalah Tempo (edisi 2 Desember 1989), Natsir menceritakan kisah perjuangan Mosi Integral tersebut: ”Dua bulan setengah saya melakukan lobby. Tidak mudah, lebih- lebih dengan negara-negara bagian di luar Jawa.”
Natsir mengajukan usul, untuk menyatukan Indonesia dalam bentuk Negara Kesatuan, cukuplah semua negara bagian membubarkan diri, lalu bersatu kembali menjadi NKRI. Semua akan sepakat dipimpin Soekarno-Hatta.
Kata Natsir kepada pimpinan Negara Yogya: ”Kita ajak mereka membubarkan diri dengan maksud untuk bersatu. Nah, kita, negara Yogya ini punya Dwitunggal Soekarno-Hatta. Mereka tidak. Saya katakan lagi, dalam sejarah jangan kita lupakan faktor pribadi; mutu pribadi orang itu menunjukkan siapa itu Soekarno-Hatta. Tidak akan ada yang bisa mengatakan ‘tidak’ kalau kita majukan nama Soekarno-Hatta menjadi Presiden RI. Sedangkan kita, para pemimpin-pemimpin ini, diam sajalah mengikut. Kalau diperlukan, ya, dipakai, dan kalau tidak, ya, tidak apa-apa. Pokoknya, tidak ada satu pun dari negara-negara bagian itu yang akan menolak Soekarno-Hatta menjadi presiden. Di sini, fungsi Soekarno-Hatta itu untuk mempersatukan, untuk memproklamasikan, dan untuk mempersatukan kembali.”
Bung Karno mengakui kehebatan perjuangan Mohammad Natsir dengan Mosi Integralnya. Setelah “Mosi Integral” berhasil, Natsir dipercaya Presiden Soekarno untuk menjadi Perdana Manteri.
Kepahlawanan Mohammad Natsir melanjutkan tradisi para tokoh Islam dalam menjaga dan mengokohkan NKRI. Dalam situasi sekarang, bangsa kita memerlukan tokoh-tokoh integratif seperti Soekarno-Hatta, HOS Tjokroaminoto, KH Hasyim Asy’ari, Ki Bagus Hadikoesoemo, Kasman Singodimedjo, Sjafruddin Prawiranegara, Mohammad Natsir, dan sebagainya.
Alangkah bijaknya jika Presiden Prabowo Subianto menetapkan Tanggal 3 April sebagai Hari NKRI, sebagaimana diusulkan oleh Wakil Ketua MPR RI Dr. Hidayat Nurwahid dan banyak tokoh bangsa lainnya. Kita memerlukan sosok-sosok yang patut diteladani dalam mengokohkan bangunan kita sebagai satu bangsa.
Syarat berdiri dan kokohnya satu bangsa adalah adanya keinginan untuk hidup dan membangun cita-cita bersama. Sesama warga bangsa perlu saling menghormati dalam perbedaan; saling tolong menolong dalam kebaikan; dan bekerjasama untuk meraih cita-cita mulia, sebagaimana digariskan dalam Pembukaan UUD 1945: mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia!
Sebagai seorang tokoh dan cendekiawan Muslim, Mohammad Natsir telah memberi contoh bagaimana memandang Indonesia secara adil. Para tokoh Islam telah bersepakat bahwa mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia adalah wajib. Indonesia adalah negeri muslim yang diperjuangkan dengan segala daya upaya oleh para ulama kita, agar menjadi negeri muslim yang adil dan makmur dalam naungan Ridha Allah SWT.
NKRI adalah amanah dari Allah SWT yang wajib dijaga dan dibangun sehingga menjadi negeri muslim terbaik. Dengan itu, Indonesia bisa menjadi “khaira ummah” dan menjadi teladan bagi bangsa-bangsa lain di dunia. Semoga kita bisa melanjutkan perjuangan Pak Natsir dan para pejuang pendahulu kita semua. Amin. (Depok, 3 April 2025).
Admin: Kominfo DDII Jatim
Editor: Sudono Syueb
